LAPORAN KURIKULUM ABK TUNADAKSA

 

KATA PENGANTAR

 

 

Dengan menyebut nama Allah SWT yang lagi maha pengasih lagi maha penyayang ,kami panjatkan Puji syukur atas kehadirat-Nya,yang telah melimpahkan rahmat hidayah, dan inayahnya kepada Penyusun,sehingga dapat menyelesaikan makalah LAPORAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TUNA DAKSA dan pembahasannya, yang tentunya dalam makalah ini lebih dikerucutkan mengenai Anak-anak penyandang tuna daksa .

Adapun makalah ini telah penyusun  usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak,sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu k dalam pembuatan makalah ini.

Tentunya penyusun memohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan, untuk itu saya sangat terbuka terhadap berbagai kritikan sebagai bentuk penyempurna makalah ini. Semoga kedepan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan ajar kuliah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Persepsi masyarakat awam tentang anak berkelainan fungsi anggota tubuh (anak tunadaksa) sebagai salah satu jenis anak berkelainan dalam konteks Pendidikan Luar Biasa (Pendidikan Khusus) masih dipermasalahkan. Munculnya permasalahan tersebutterkait dengan asumsi bahwa anak tunadaksa (kehialangan salah satu atau lebih fungsianggota tubuh) pada kenyataannya banyak yang tidak mengalami kesulitan untuk menititugas perkembangannya, tanpa harus masuk sekolah khusus untuk anak tunadaksa(khususnya tunadaksa ringan).

        Kegiatan observasi ini merupakan kegiatan pembelajaran mata kuliah pendidikan inklusi di jurusan pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kegiatan observasi ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengenal secara langsung anak-anak yang berkebutuhan khusus, terutama anak yang mengalami tuna daksa. Dengan mata kuliah ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa sebagai calon guru dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif di berbagai daerah di Indonesia.

      Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak.

Orang-orang yang berkrbutuhan khusus sering diolok-olok dan dikucilkan. Padahal mereka juga memiliki hak yang sama dengan orang-orang nornal pada umumnya. Mereka juga mempunyai hak untuk menuntut ilmu, akan tetapi mereka tidak bisa sekolah di sekolah umum, melainkan di sekolah  khusus untuk orang-orang yang berkrbutuhan khusus  (SLB). Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi kita agar selelu bersyukur, karena Tuhan menciptakan kita dengan kesempurnaan. Bukan hanya itu, kita juga hars bisa menghargai mereka dengan tidak mengucilkan atau mengolok-oloknya.

 

1.2  Tujuan

1.            Untuk mengetahui apa itu tuna daksa

2.            Untuk mengetahui karakteristik anak yang tunadaksa.

3.            Untuk mengetahui peran sekolah dan keluarga terhadap anak tuna daksa

4.            Untuk mengetahui peran lingkungan terhadap anak tuna daksa

    

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

2.1Definisi Anak Berkebutuhan Khusus ( Tuna daksa)

Secara etiologis, gambaran seseorang yang diidentifikasi mengalami ketunadaksaan, yaitu seseorang yang mengalami kesulitan mengoptimalkan fungsi anggota tubuh sebagai akibat dari luka, penyakit, pertumbuhan yang salah bentuk, dan akibatnya kemapuan untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh tertentu mengalami penurunan. Menyimak keadaan fisik yang tampak pada anak tunadaksa ortopedi dan tunadaksa saraf tidak terdapat perbedaaan yang mencolok, sebab secara fisik kedua jenis anak tunadaksa memiliki kesamaan, terutama pada fungsionalisasi anggota tubuh namun, apabila dicermati secara seksama untuk memanfaatkan fungsi tubuhnya akan tampak perbedaan.

 

2.2 Definisi Tuna  daksa menurut para ahli

             Didalam Wikipedia, pengertian Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

 

           Secara definitif, pengertian kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa) adalah ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi secara normal akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan yang tidak sempurna sehingga untuk kepentingan pembelajarannya perlu layanan secara khusus (Suroyo&Kneedler dalam Efendi, 2006).

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1    Pengertian Asesmen Anak Tunadaksa

Ronald L. Taylor. 1984 (choiri, 1995) yang dimaksud dengan asesmen adalah proses pengumpulan informasi/data tentang penampilan individu yang relevan untuk pembuatan keputusan. Baik yang dilakukan oleh guru umum, guru pendidikan khusus, psikolog pendidikan,spesialis, terapis dan personal lain yang berkepentingan dengan program pendidikan anak. Aplikasi dari defenisi tersebut dalam pendidikan bagi anak tunadaksa bahwa semua kegiatan yang bermaksud untuk memperoleh informasi tentang anak tunadaksa yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan yang berhubungan dengan program pendidikan dan rehabilitasi anak, termasuk kegiatan asesmen.

Menurt Ronald T. Taylor (Choiri, 1995) program-program di bidang pendidikan yang memerlukan informasi dan harus disediakan melalui kegiatan asesmen adalah:

1.      Identitas anak

2.      Program dan strategi pembelajaran

3.      Tingkat kemampuan dan kebutuhan pendidikan anak

4.      Klasifikasi dan program-program penempatan anak

5.      Perencanaan pengajaran individual.

      Namun dalam hal ini akan dibahas mengenai asesmen tingkat kemampuan dan kebutuhan pendidikan anak.

 

3.2  Tujuan dan Arah Asesmen Anak Tunadaksa

      Penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunadaksa pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan, kecerdasan, keterampilan, dan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan sebagaimana tercantum dalam GBHN.

      Arah pendidikan bagi anak tunadaksa tersebut mempengaruhi pendayagunaan informasi dan data yang dihasilkan dalam asesmen.

1.   Tujuan asesmen anak tunadaksa

Secara umum tujuan asesmen bagi anak luar biasa adalah untuk menentukan dan memahami penampilan individu dan lingkungannya. Tujuan asesmen untuk anak tunadaksa adalah untuk mengenal dan memahami anak tunadaksa termasuk tentang kemampuan dan ketidakmampuan anak baik fisik maupun mental dan lingkungannya. (Choiri, 1995)

2.   Arah atau kegunanaan asesmen anak tunadaksa

Menurut John Silvia & James E. Yssdyke, (1981) dalam Choiri, 1995 kegunaan hasil asesmen adalah untuk:

a. Skrinning anak

b. Klasifikasi atau penempatan anak

c. Perencanaan program

d. Evaluasi program

e. Asesmen kemajuan individu anak

     Untuk anak tunadaksa, kegunaan dari hasil asesmen anak antara lain adalah untuk:

a.  Klasifikasi, identifikasi dan data dasar anak tunadaksa

b.  Pembuatan keputusan program penempatan pendidikan anak

c.  Pembuatan keputusan program rehabilitasi anak

d.  Pengembangan program pengajaran individual anak

Pendek kata, arah dan kegunaan hasil asesmen adalah untuk usaha-usaha preventif, kuratif dan evaluatif serta pengembangan anak tunadaksa.

 

3.3  Tempat melakukan asesmen

      Choiri (1995) Pelaksanaan asesmen bagi anak luar biasa termasuk anak tunadaksa pada umumnya dapat dilakukan pada salah satu atau beberapa tempat tersebut:

1.      Di sekolah

2.      Di rumah

3.      Di lembaga masyarakat

4.      Di rumah spesialis tertentu

5.      Di laoratorium pendidikan luar biasa

Dalam hal ini penulis akan melakukan asesmen di sekolah.

 

3.4  Teknik-teknik asesmen anak tunadaksa

1.      Observasi/ pengamatan

2.      Wawancara

3.      Tes

 

3.5  Hasil Asesmen Anak Tunadaksa

      Dalam hal ini penulis melakukan asesmen di SLB B/C Waru Sidoarjo, pada anak tunadaksa kelas dasar II dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara, bekerjasama dengan orangtua/wali dan guru kelas anak. Berikut uraian lebih jelasnya:

I.   IDENTITAS ANAK

Nama subjek                            : Hermawan

Jenis kelamin                           : Laki-Laki

Alamat                                     : Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1

Agama                                     : Islam

Cita-Cita                                  : TNI

Pendidikan                              : SLB B/C Al Ashar Sidoarjo Kelas Dasar II

Anak urutan ke                        : 2 dari 3 bersaudara

Orang tua                                :

 AYAH

Nama                                       : Suprayitno

Usia                                         : 40 Tahun

Pendidikan                              : SD

Pekerjaan                                 : Wirausaha

Alamat                                     : Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1

 

IBU

Nama                                       : Jumani

Usia                                         : 35 Tahun

Pendidikan                              : SD

Pekerjaan                                 : IRT

Alamat                                     : Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1

 

II.    ASESMEN KONDISI KECACATAN YANG DIALAMI ANAK

 

Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan teknik obeservasi atau pengamatan. Secara visual berikut hasil observasinya:

No

Aspek yang diamati

Ya

Tidak

Keterangan

1

Anggota-anggota gerak kaku/ lemah/ lumpuh

   

Anggota gerak sebelah kanan

2

Kesulitan dalam gerakan-gerakan: kaku/ tidak lentur/ tidak terkendali

   

Kesulitan dalam menggunakan anggota tubuh bagian kanan karena mengalami kekakuan an kelayuan

3

Ada bagian-bagian anggota gerak yang tidak lengkap/ tidak sempurna/ lebih kecil dari biasa

   

4

Jari-jari tangan kaku tidak dapat menggenggam

   

5

Kesulitan waktu berdiri, berjalan atau duduk dan menunjukkan sikap tubuh yang tidak normal

   

Tidak adanya keseimbangan sehingga anak tiidak mampu berdiri dngan sempurna

6

Gerakan-gerakan hiperaktif/ tidak tenang

   

Anak terlihat sangat tenang.

 

 

III. ASESMEN RIWAYAT KELAHIRAN ANAK

Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada orang tua anak tunadaksa.

     1. Riwayat kelahiran

a. Keadaan ibu sebelum kelahiran sempat mengalami tekanan darah tinggi

b. Saat kelahiran

1)   Lama kandungan 8 bulan 2 minggu

2)   Melahirkan di rumah

3)   Ditolong oleh orangtua

4)   Proses kelahiran normal

5)   Tidak ada kelainan bawaan yang nampak saat anak lahir, hanya saja pada usia 2 hari anak mulai kejang-kejang yan mengakibatkan kelayuan pada anggota gerak bagian kanan.

         6)  Makanan pertama yang diberikan ASI

 

 

IV. ASESMEN KEGIATAN KESEHARIAN ANAK

Asesmen  ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada orangtua anak. Berikut hasil asesmennya:

No.

Aspek yang diamati

Penilaian

Mampu

Kurang Mampu

Tidak Mampu

Perawatan diri

1

Menyisir rambut

    

2

Menggosok gigi

    

3

Menghidupkan/ mematikan kran

    

4

Pergi ke kamar kecil/ WC

    

5

Buang air kecil sendiri

    

6

Buang air besar sendiri

    

Kegiatan makan/ minum

1

Mengambil makanan ke piring

    

2

Makan pakai sendok

    

3

Menyuap nasi atau makanan

    

4

Minum dari  gelas

    

5

Makan/Minum menggunakan tangan kanan

    

Kegiatan berpakaian

1

Memakai pakaian

    

2

Membuka pakaian

    

3

Memakai sendal/sepatu

    

4

Mengikat sepatu

    

5

Mengenakan sabuk

    

 

V.  ASESMEN PRILAKU ANAK DALAM BERGAUL

Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada orangtua dan guru kelas anak serta melakukan observasi secara langsung.

No

Aspek yang diamati

Penilaian

Ket

Ya

Tidak

Prilaku dalam masyarakat

1

Dapat berkomunikasi dengan baik dalam lingkungan masyarakat

    

2

Percaya diri dalam bergaul dengan masyarakat

    

3

Tidak merasa minder bergaul dengan teman-temannya yang normal dalam lingkungan masyarakat

    

4

Tidak memilih-milih teman dalam bergaul

    

5

Bersikap sopan dan santun dalam lingkungan masyarakat

    

Prilaku dalam keluarga

1

Mampu berkomunikasi dengan baik kepada orang tua

    

2

Mampu berkomunikasi dengan baik kepada saudara

    

3

Mematuhi perintah orang tua

    

4

Menyayangi saudara

    

5

Bersikap sopan dan santun kepada orang tua

    

6

Iri dengan keadaan fisik saudaranya yang lain

    

Anak terkadang menanyakan keadaannya yang berbeda dengan kakak dan adiknya

Prilaku di sekolah

1

Mampu berkomunikasi dengan guru

    

2

Mampu berkomunikasi dengan teman

    

3

Menghargai pendapat teman dalam belajar

    

4

Patuh pada perintah guru

    

5

Sopan terhadap guru

    

6

Santun dalam bergaul

    

7

Tidak memilih-milih teman dalam bergaul di sekolah

    

 

VI. ASESMEN KEMAMPUAN KOORDINASI  DAN KESEIMBANGAN

No

Aspek yang diamati

Mampu

Tidak Mampu

Keterangan

1

Gerakan koordinasi motorik kasar      

   

2

Gerakan koordinasi motorik halus      

   

3

Gerakan koordinasi mata dan anggota tubuh      

   

4

Keseimbangan duduk      

   

5

Keseimbangan berdiri      

   

6

Keseimbangan berjalan      

   

 

VII.   ASESMEN KEMAMPUAN ANAK DALAM PEMBELAJARAN

            Dalam hal ini untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan anak dalam proses pembelajaran, penulis melakukan wawancara langsung kepada guru kelasnya, terkait dengan keaktifan anak dalam pembelajaran, kemampuan membaca dan menulis anak, kesulitan yang dihadapi anak dalam belajar, serta kecenderungan anak pada salah satu mata pelajaran. Adapun hasil wawancara dipaparkan sebagai berikut:

1.   Di dalam kelas anak sedikit terlihat tidak nyaman dengan posisi duduknya, hal tersebut sehubungan dengan kondisi fisik yang dialami oleh anak, dimana anggota gerak bagian kanan mengalami kekakuan dan kelayuan.

2.   Untuk taraf anak kelas dasar II, anak tersebut telah mampu menulis huruf, suku kata, kata, dan kalimat dengan baik walaupun dengan menggunakan tangan kiri, akibat kelayuan dan kekakuan pada anggota gerak bagian kanan.

3.   Anak pun telah mampu membaca dengan fasih dan lancar.

4.   Anak tidak mencolok pada satu mata pelajaran saja, tapi untuk semua mata pelajaran, anak mampu mengikutinya dengan baik.

5.  Anak aktif dalam pembelajaran, terbukti ketika anak mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang tidak dimengerti, begitupun sebaliknya jika guru mengajukan pertanyaan sebagai umpan balik, anak mampu menjawab pertanyaan dengan baik.

6.  Anak menunjukkan kemajuan belajar dibandingkan dengan teman-temannya yang lain sehingga anak bosan ketika guru harus mengulang materi pembelajaran karena mengejar ketertinggalan teman-temannya.

 

F.  Analisis Kebutuhan Anak Tunadaksa Berdasarkan Hasil Asesmen

      Berdasarkan hasil asesmen yang telah diuraikan pada anak tunadaksa kelas dasar II di SLB B/C Al-Azhar Sidoarjo, mulai dari identitas anak, asesmen masa kelahiran, asesmen perilaku sosial baik dalam lingkungan masyarakat, keluarga, maupun sekolah, asesmen kemampuan koordinasi dan keseimbangan, serta asesmen kemampuan pembelajaran anak. Maka terlihat dengan jelas beberapa kebutuhan yang diperlukan anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Berikut akan diuraikan beberapa kebutuhan anak tunadaksa yang bernama Hermawan atau lebih akrab dipanggil Wawan, menurut hemat penulis:

1.   Dilihat dari keadaan anggota gerak atas maupun anggota gerak bagian bawah mengalami kekakuan dan kelayuan pada bagian kanan, maka anak membutuhkan alat bantu untuk berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain misalnya tongkat maupun kursi roda, namun karena keterbatasan materi orang tua maka kebutuhan tersebut belum terpenuhi.

2.   Masih sehubungan dengan keadaan anggota gerak yang mengalami kekakuan dan kelayuan pada bagian kanan, baik anggota gerak atas maupun anggota gerak bawah, maka anak juga membutuhkan fisioteraphy untuk melatih kerja anggota gerak yang tidak berfungsi dengan baik karena kekuan dan kelayuan yang dialaminya.

3.  Sehubungan dengan sikap Wawan yang mulai mempertanyakan perbedaan fisiknya dengan saudaranya yang lain kepada orang tuanya, maka anak juga membutuhkan layanan bimbingan konseling untuk mendapatkan bimbingan dalam memahami dirinya sendiri, menerima keadaan fisiknya, sehingga kelak anak siap menghadapi masa depannya dengan keterbaasan fisiknya.

4.   Sehubungan dengan cita-cita Wawan yang ingi menjadi seorang TNI, maka dalam hal ini juga dibutuhkan peran tenaga bimbingan dan konseling, untuk memberikan bimbingan karier, mengingat keadaan fisik Wawan yang tidak memungkinkan untuk menjadi seorang TNI. Dengan adanya bantuan tenaga bimbingan dan konseling diharapkan anak akan ada gambaran karier kedepannya yang sesuai dengan kondisi fisiknya.

5.   Masih sehubungan dengan cita-cita Wawan, maka dalam hal ini Wawan juga membutuhkan layanan pelatihan keterampilan sejak dini, sebagai modal kedepannya agar dapat hidup mandiri tanpa terus bergantunng pada orang tua baik secara moral maupun materil.

6.  Sehubungan dengan kemampuan yang ditunjukkan Wawan dalam proses pembelajaran, yang lebih maju dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, maka Wawan perlu di buatkan PPI (Program Pembelajaran Individual) dengan materi yang berbeda dengan temannya, sehingga kemampuannya tidak terhambat karena menunggu temannya yang lain yang terkesan agak lambat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

RANCANGAN RPP

 

Satuan Pendidikan               :   SDLB D

Kelas/Semester                     :    II/I

Tema                                    :  Benda, Hewan dan Tanaman di Sekitar

Sub Tema                             :   Hewan di Sekitar

Metode Pembelajaran          Scientific

Pertemuan Ke-                     : Pertama

Alokasi Waktu                     : 6×35 menit

KEMAMPUAN AWAL

1.      Siswa mengalami kondisi CP

2.      Siswa mampu mengenal operasi penjumlahan dibawah 20.

3.      Siswa mampu menulis nama sendiri dengan font yang cukup besar

4.      Siswa memahami perintah berupa verbal tetapi dalam menyampaikan tidak jelas karena kondisi yang dialami.

5.      Siswa mampu mengambil benda dengan ukuran yang tidak terlalu kecil

6.      Siswa memiliki sikap yang penurut.

 

KOPETENSI INTI

1.      Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya

2.      Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru

3.      Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamatimendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah

4.      Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

 

KOPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

MATA PELAJARAN

KOPETENSI DASAR

INDIKATOR

Bahasa Indonesia

3.1.Mengenal teks laporan sederhana tentang alam sekitar serta jumlahnya dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa indonesia lisan dan tulis dan dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman.

3.1.1.      Memahami macam-macam tempat hidup hewan

4.1.Mengamati dan mencoba menyajikan laporan sederhana tentang alam sekitar serta jumlahnya dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa indonesia lisan dan tulis dan dapt diiisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman.

4.1.1.      Menyajikan laporan sederhana tentang tempat hidup hewan.

Matematika

3.2.Memahami perbandingan dengan memperkirakan berat suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih berat, lebih ringan, lebih besar, lebih kecil)

3.2.1.      Mengidentifikasi lebih besar-kecil ukuran hewan yang diulang 3 kali dengan hewaan yang berbeda.

4.2.Membandingkan dengan memperkirakan berat suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih berat, lebih ringan, lebih besar, lebih kecil)

4.2.1.      Mengurutkan ukuran hewan dari terbesar hingga terkecil dan sebaliknya sejumlah 5 hewan.

Seni Budaya

4.2.Membuat gambar ragam hias.

4.2.1.      Menebalkan gambar hewan yang hidup di air.

4.2.2.      Mewarnai gambar hewan yang hidup di air (ikan).

 

 TUJUAN

1.      Melalui kegiatan mengamati video dan menyimak bacaan, siswa dapat memahami 2 macam tempat hidup hewan darat dan air dengan benar

2.      Melalui kegiatan menempel gambar hewan dan tempat hidup hewan, siswa dapat menyajikan laporan sederhana tentang tempat hidup hewan, 5 hewan hidup di darat dan 5 hewan hidup di air dengan benar.

3.      Melalui kegiatan menalar, siswa dapat mengidentifikasi lebih besar-kecil ukuran 2 hewan dengan benar.

4.      Melalui kegiatan mencoba, siswa dapat mengurutkan ukuran 5 hewan dari terbesar hingga terkecil dan sebaliknya dengan benar.

5.      Melalui kegiatan mengkomunikasikan, siswa dapat menebalkan dan mewarnai gambar ikan yang hidup di air dengan rapi.

MATERI

1.      Mengenal hewan di sekitar

2.      Tempat hidup hewan

3.      Gambar ragam hias (ikan)

 

PENDEKATAN DAN METODE

Pendekatan          : Scientific

Metode                 : Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi, Ceramah, dan Praktek.

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Langkah Kegiatan

Deskripsi

Pendahuluan

(10 menit)

 

1.      Guru bersama siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)

2.      Guru melakukan komunikasi  tentang kehadiran siswa

3.      Siswa menyampaikan binatang apa saja yang dimiliki di rumah setelah ditanya oleh guru.

4.      Guru menyampaikan Sub Tema yang akan dibahas yaitu tentang “Hewan di Sekitar”.

5.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

Inti

(190 menit)

 

6.      Dengan bimbingan guru,siswa melihat gambar beberapa hewan di sekitar beserta tempat hidupnya. (melihat)

7.      Siswa membuat pertanyaan seputar hewan sekitar yang dimiliki dengan bantuan gambar yang diajukan pada temannya. (menanya) setalah  dipancing oleh guru.

8.      Siswa bertanya kepada teman lain sekelas tantang hewan yang dimiliki di lingkungan tempat tinggal.

9.      Setelah melihat gambar, siswa dengan dibimbing guru menemukan tempat hidup hewan yang dimiliki.

10.  Selanjutnya siswa menyimak teks tentang “hewan di sekitar” yang dibacakan oleh guru. (mengumpulkan informasi)

11.  Siswa menyebutkan nama-nama hewan yang ada pada teks dan gambar(mencoba)

12.  Siswa dengan bimbingan guru membuat laporan sederhana tentang  tempat hidup hewan dengan bantuan media papan tempel (mengkomunikasikan)

13.  Siswa mengidentifikasi dua gambar hewan mana yang lebih besar ataupun kecil setelah ditunjukkan oleh guru.

14.  Siswa mengurutkan ukuran hewan dari terbesar hingga terkecil dan sebaliknya.

15.  Siswa mendengarkan penjelasan guru bahwa salah satu binatang sekitar yang hidup di air adalah ikan

16.  Siswa dengan bimbingan guru menebalkan pola titik-titik bergambar ikan.

17.  Siswa mewarnai gambar ikan yang sebelumnya telah ditebalkan.

18.  Siswa memajang hasil gambar yang telah diwarnai di papan karya siswa.

Penutup

(10 menit)

19.  Bersama guru, siswa menyimpulkan  pembelajaran hari ini yakni hewan di sekitar. (mengkomunikasikan)

20.  Guru menyarankan agar apa yang telah dipelajari hari ini dapat di ingat dan dilaksanakan oleh siswa di rumah.

21.  Guru menyampaikan pesan agar di rumah siswa rajin membantu orang tua.

22.  Sebelum pulang guru mengajak siswa untuk berdoa.

SUMBER DAN MEDIA

1.      Video tempat hidup hewan

2.      Teks Bacaan “hewan di sekitar”.

3.      Papan tempel tempat hidup hewan.

4.      Gambar ikan

5.      Buku siswa dan guru.

 

PENILAIAN

1.      Penilaian Sikap

Jenis                                  : Non tes

Bentuk                              : Observasi

Instrumen                          : Pengamatan sikap

2.      Penilaian pengetahuan

Instrumen penilaian           : tes tertulis

Tes tertulis                         : Skor per kopetensi dasar

Jumlah soal                        : 5

Skor maksimal                   : 10

3.      Penilaian keterampilan

Instrumen penilaian           : tes unjuk kerja

Tes unjuk kerja                  : Skor per kopetensi dasar

PEMBELAJARAN REMIDIAL

Apabila siswa yang masih mengalami kesulitan atau belum menguasai materi, akan diberikan remidial, dengan pembelajaran yang lebih sederhana.

1.      Mengenal hewan di sekitar (difokuskan pada 2 hewan: 1 hewan yang hidup di darat dan 1 hewan yang hidup di air)

2.      Gambar ragam hias ikan (gambar yang lebih sederhana)

 

PENGAYAAN

Apabila siswa Sudah mampu menguasai materi, dapat diberikan pengayaan berupa materi yang lebih sulit:

1.      Mengenal hewan di sekitar (14 hewan: 7 hewan yang hidup di darat, 7 hewan yang hidup di air)

2.      Gambar ragam hias ikan (gambar yang lebih rumit)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

BAHAN AJAR

 

Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Anak Tunadaksa

Goals

1) Anak mampu mengelompokkan berbagai bangun ruang sederhana (balok, prisma, tabung, bola, dan kerucut)

2) Anak mampu menentukan urutan benda-benda yang sejenis menurut besarnya

(Sesuai dengan KD SDLB-D Kelas 1 Semester 1. Mata pelajaran Matematika, Geometri dan Pengukuran)

 

Conditions

1.   Disediakan sebuah kotak hitam persegi dengan sisi depannya diberi lubang. Kira-kira besar lubang dapat dilewati oleh tangan orang dewasa. Kemudian, disediakan juga lampu indicator BENAR SALAH dimana indicator salah ditandai dengan lampu merah kemudian indicator benar ditandai dengan lampu hijau yang masing-masing memiliki suara atau bunyi yang telah disesuaikan.

2.   Selain itu, disediakan pula tampilan materi yang akan diajarkan dalam bentuk slide show menggunakan LCD.

3.  Anak diintruksikan untuk menebak bangun ruang yang ditampilkan di layar. Jika anak menebak dengan benar maka lampu hijau akan menyala disertai dengan bunyi yang khas. Sebaliknya, jika anak menebak salah maka lampu merah akan menyala disertai dengan bunyi yang khas juga.

4.   Selanjutnya, anak mengurutkan bangun  ruang yang sejenis berdasarkan besarnya. Disediakan tiga bangun ruang yang sejenis dengan ukuran yang berbeda. Kemudian, anak menyusun bangun ruang tersebut dari yang terbesar ke yang terkecil dengan bantuan guru.  

 

Resources

Media pembelajaran ini bernama Magic Box. Magic Box adalah  sebuah media berupa kotak hitam persegi dengan sisi depannya diberi lubang. Terdapat lampu indicator BENAR SALAH dimana indicator salah ditandai dengan lampu merah kemudian indicator benar ditandai dengan lampu hijau yang masing-masing memiliki suara atau bunyi yang telah disesuaikan. Anak akan menebak nama benda yang dikeluarkan dari kotak tersebut.

Alat dan Bahan :

     1.  Untuk Membuat Box, alat yang digunakan antara lain :

-    Kotak kardus

-    Gunting

-    Solasi

-    Lem

-    Penggaris

-    Kain berwarna hitam

    2.  Untuk Membuat Rangkaian Lampu Indikator BENAR SALAH,alat dan bahan yang digunakan antara lain :

-    2 lampu indicator (berwarna hijau dan merah)

-    Kabel penghubung secukupnya

-    Saklar

-    Baterai

-    Isolator

     3.      Untuk Membuat Bentuk Bangun Ruang, alat dan bahan yang digunakan antara lain :

-   Kertas karton

-   Model bangun ruang

-   ATK

      4.      Peralatan lain yang dibutuhkan

           -    LCD

 

Outcomes

1) Setelah menggunakan media anak mampu mengenali beberapa macam bangun ruang, menyebutkan beberapa nama bangun ruang

2)  Masih terdapat beberapa nama bangun ruang yang belum dikenal oleh anak. Maka hal ini perlu ditindak lanjuti dengan cara mengajarkan anak tentang bangun ruang menggunakan media pembelajaran dengan mengulang-ulang dalam menebak nama-nama bangun ruang.

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

EVALUASI

 

Laporan ini bertujuan untuk mengevaluasi program asesmen bagi anak tunadaksa dengan melihat kesenjangan antara kondisi lapangan dengan kriteria dari para ahli. Pada penelitian ini difokuskan pada (1) pelaksanaan program asesmen bagi anak tunadaksa, (2) tim pelaksana asesmen, 3) sarana dan prasarana penunjang asesmen bagi anak tunadaksa, dan (4) kendala yang dihadapi selama program asesmen berlangsung. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan menggunakan discrepancy model yang dikembangkan oleh Malcolm Provus. Penelitian ini dilakukan di SLB G Daya Ananda dari November sampai Desember 2015. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, tim pelaksana asesmen, dan guru di sekolah. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen pada penelitian ini yaitu peneliti. Analisis data yang digunakan bersifat kualitatif dengan tahapan reduksi, penyajian, dan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan uji kredibilitas (perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, dan menggunakan bahan referensi), uji transferability, uji dependability, dan uji konfirmability. Hasil penelitian menyatakan bahwa : (1) pada pelaksanaan program asesmen terdapat beberapa aspek yang sudah memenuhi kriteria yang meliputi model asesmen, teknik asesmen, dan analisis data hasil, walaupun masih pada asesmen umum belum lebih spesifik pada asesmen tunadaksa. Terdapat pula yang belum memenuhi kriteria meliputi persiapan, pelaksanaan, diagnosis dan tindak lanjut serta pencatatan dan penyimpanan hasil asesmen. (2) tim pelaksana asesmen belum memenuhi kriteria tim karena belum mempunyai pengalaman dan belum melibatkan ahli lain atau orang tua. (3) sarana dan prasarana secara keseluruhan sudah baik, tetapi masih ada yang kurang memenuhi kriteria yang meliputi ruangan asesmen sempit dan pencahayaan kurang, instrumen yang digunakan belum spesifik pada asesmen tunadaksa, penggunaan bahasa kurang mengeksplorasi anak, dan media yang digunakan kurang sesuai dengan kebutuhan anak. (4) kendala dalam pelaksanaan asesmen meliputi pembagian waktu, pengetahuan yang kurang, belum ada MOU dengan ahli lain, dan ruangan asesmen yang sempit serta terdapat anggota tim yang alot dalam proses analisis.

 

 

 

 

 

BAB VII

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang diadapat dari laporan hasil observasi anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan fisik atau tuna daksa disekolah khusus Samantha antara lain: anak dengan gangguan fisik atau tuna daksa adalah anak yang mengalami gangguan syaraf-syaraf sedemikian rupa, sehingga membutuhkan layanan khusus dalam pendidikan maupun kehidupannya.

1.  Tunadaksa Saraf (neurologically handicapped)

Anak tunadaksa saraf yaitu anak tunadaksa yang mengalami kelainan akibat gangguan pada susunan saraf di otak. Otak sebagai pengontrol tubuh memiliki sejumlah saraf yang menjadi pengendali mekanisme tubuh sehingga jika otak mengalami kelainan, sesuatu akan terjadi pada organisme fisik, emosi, dan mental.

2.  cerebral palsy menurut derajat kecacatannya diklasifikasikan menjadi :

a.    Ringan

Ciri-cirinya yaitu dapat berjalan tanpa alat bantu, bicara jelas, dan dapat menolong diri sendiri.

b.    Sedang

Ciri-cirinya Membutuhkan bantuan untuk latihan bicara, berjalan, dan mengurus diri.

c.    Berat

Ciri-cirinya membutuhkan perawatan tetap dalam ambulansi, bicara, dan menolong diri.

 

3. Hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan antra lain :

a.    Kesulitan persalinan karena letak bayi sungsang atau pinggung ibu terlalu kecil.

b.    Pendarahan pada otak pada saat kelahiran.

c.    Kelahiran prematur.

 

4. Karakteristik Anak Tunadaksa

    Karakteristik Kognitif

Implikasi dalam konteks perkembangan kognitif menurut Gunarsa dalam Efendi (2006:124)  ada empat aspek yang turut mewarnai, yaitu:

a)  Kematangan, kematangan merupakan perkembangan susunan saraf misalnya mendengar yang diakibatkan kematangan susunan sarat tersebut.

b) Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organism dengan lingkungan dan dunianya.

c) Transmisi sosial, yaitu pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.

d) Ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak.

 

    Karakteristik Intelegensi Tunadaksa

Untuk mengetahui tingkat intelegensi anak tunadaksa dapat digunakan tes yang telah dimodifikasi agar sesuai dengan anak tunadaksa. Tes tersebut antara lain Hausserman Test (untuk anak tunadaksa ringan), Illinois Test (The Psycholinguistis Ability), danPeabody Picture Vocabulary Test. Lee dalam Soemantri (2007:129) mengungkapkan hasil penelitian yang menggunakan tes Binet untuk mengukur tingkat intelegensi anak tunadaksa yang berumur antara 3 sampai 6 tahun sebagai berikut:

1. IQ tunadaksa berkisar antara 35-138.

2. Rata-rata mereka adalah IQ 57.

3. Klasifikasi tunadaksa yang lain yaitu:

a)    Anak polio mempunyai rata-rata intelegensi yang tinggi yaitu IQ 92.

b)   Anak yang TBC tulang rata-rata IQ 88

c)    Anak yang cacat konginetal rata-rata IQ 61

d)   Anak yang sapstik rata-rata IQ 69

e)    Anak cacat pada pusat syaraf rata-rata IQ 74

 

     Karakteristik Kepribadian Anak Tunadaksa

Terdapat hal yang tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian anak tunadaksa, antara lain:

1. Terhambatnya aktivitas normal sehingga menimbulkan perasaan frustasi

2. Timbulnya kekhawatiran orang tua yang berlebihan yang justru akan menghambat terhadap perkembangan kepribadian anak karena orang tua biasanya cenderung over protective.

3. Perlakuan orang sekitar yang membedakan terhadap anak tunadaksa menyebabkan anak merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain.

 

B. Saran

Untuk observer harus memahami terlebih dahulu hambatan-hambatan anak, mengklasifikasikan dari beberapa karakteristiknya dan dapat menarik kesimpulan dari pengamatan tersebut.

Diharapkan untuk semua mahasiswa yang melakukan observasi dapat mengamati sendiri/ terjun langsung ke lapangan dengan menentukan pandangan sendiri dan dapat meluruskan pandangan yang keliru atau sekedar dugaan sementara oleh pihak sekolah ataupun lingkungan sekitar anak tersebut.

 

 

LAMPIRAN

Foto : Proses belajar anak tunadaksa

Foto : Program Individual Pembelajaran Anak Tunadaksa

Comments

Popular posts from this blog

SOAL ULANGAN MI FIKIH DAN AKIDAH AKHLAK KELAS 2 SAMPAI 6

MAKALAH SUKU BANJAR

MAKALAH SUKU TORAJA