LAPORAN KURIKULUM ABK TUNADAKSA
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah SWT yang lagi maha pengasih lagi maha penyayang ,kami
panjatkan Puji syukur atas
kehadirat-Nya,yang telah melimpahkan rahmat hidayah, dan inayahnya kepada Penyusun,sehingga
dapat menyelesaikan makalah LAPORAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TUNA DAKSA dan
pembahasannya, yang tentunya dalam makalah ini
lebih dikerucutkan mengenai Anak-anak penyandang tuna daksa .
Adapun makalah
ini telah penyusun usahakan semaksimal
mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak,sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa berterima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu k dalam pembuatan makalah ini.
Tentunya penyusun memohon maaf apabila dalam
penyusunan makalah ini terdapat kekurangan, untuk itu saya sangat terbuka terhadap berbagai kritikan sebagai bentuk penyempurna
makalah ini. Semoga kedepan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan ajar kuliah.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Persepsi masyarakat awam tentang anak
berkelainan fungsi anggota tubuh (anak tunadaksa) sebagai salah satu jenis anak
berkelainan dalam konteks Pendidikan Luar Biasa (Pendidikan Khusus) masih
dipermasalahkan. Munculnya permasalahan tersebutterkait dengan asumsi bahwa
anak tunadaksa (kehialangan salah satu atau lebih fungsianggota tubuh) pada
kenyataannya banyak yang tidak mengalami kesulitan untuk menititugas
perkembangannya, tanpa harus masuk sekolah khusus untuk anak
tunadaksa(khususnya tunadaksa ringan).
Kegiatan
observasi ini merupakan kegiatan pembelajaran mata kuliah pendidikan inklusi di
jurusan pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Kegiatan observasi ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengenal secara langsung
anak-anak yang berkebutuhan khusus, terutama anak yang mengalami tuna daksa.
Dengan mata kuliah ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa sebagai calon
guru dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif di berbagai daerah di
Indonesia.
Anak berkebutuhan
khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayan yang spesifik,
berbeda dengan anak pada umumnya. Mengalami hambatan dalam belajar dan
perkembangan sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhan belajar masing-masing anak.
Orang-orang yang berkrbutuhan khusus
sering diolok-olok dan dikucilkan. Padahal mereka juga memiliki hak yang sama
dengan orang-orang nornal pada umumnya. Mereka juga mempunyai hak untuk
menuntut ilmu, akan tetapi mereka tidak bisa sekolah di sekolah umum, melainkan
di sekolah khusus untuk orang-orang yang berkrbutuhan
khusus (SLB). Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi kita agar
selelu bersyukur, karena Tuhan menciptakan kita dengan kesempurnaan. Bukan
hanya itu, kita juga hars bisa menghargai mereka dengan tidak mengucilkan atau
mengolok-oloknya.
1.2 Tujuan
1.
Untuk mengetahui
apa itu tuna daksa
2.
Untuk mengetahui
karakteristik anak yang tunadaksa.
3.
Untuk mengetahui
peran sekolah dan keluarga terhadap anak tuna daksa
4.
Untuk mengetahui
peran lingkungan terhadap anak tuna daksa
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1Definisi Anak Berkebutuhan Khusus ( Tuna daksa)
Secara etiologis, gambaran seseorang
yang diidentifikasi mengalami ketunadaksaan, yaitu seseorang yang mengalami
kesulitan mengoptimalkan fungsi anggota tubuh sebagai akibat dari luka,
penyakit, pertumbuhan yang salah bentuk, dan akibatnya kemapuan untuk melakukan
gerakan-gerakan tubuh tertentu mengalami penurunan. Menyimak keadaan fisik yang
tampak pada anak tunadaksa ortopedi dan tunadaksa saraf tidak terdapat
perbedaaan yang mencolok, sebab secara fisik kedua jenis anak tunadaksa
memiliki kesamaan, terutama pada fungsionalisasi anggota tubuh namun, apabila
dicermati secara seksama untuk memanfaatkan fungsi tubuhnya akan tampak
perbedaan.
2.2 Definisi Tuna daksa menurut para ahli
Didalam Wikipedia, pengertian
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh
kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau
akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh.
Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam
melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang
yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik,
berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu
mengontrol gerakan fisik.
Secara definitif, pengertian
kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa) adalah ketidakmampuan anggota tubuh
untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota
tubuh untuk melaksanakan fungsi secara normal akibat luka, penyakit, atau
pertumbuhan yang tidak sempurna sehingga untuk kepentingan pembelajarannya
perlu layanan secara khusus (Suroyo&Kneedler dalam Efendi, 2006).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian
Asesmen Anak Tunadaksa
Ronald L. Taylor. 1984 (choiri, 1995) yang dimaksud dengan
asesmen adalah proses pengumpulan informasi/data tentang penampilan individu
yang relevan untuk pembuatan keputusan. Baik yang dilakukan oleh guru umum,
guru pendidikan khusus, psikolog pendidikan,spesialis, terapis dan personal
lain yang berkepentingan dengan program pendidikan anak. Aplikasi dari defenisi
tersebut dalam pendidikan bagi anak tunadaksa bahwa semua kegiatan yang bermaksud
untuk memperoleh informasi tentang anak tunadaksa yang bermanfaat dalam
pembuatan keputusan yang berhubungan dengan program pendidikan dan rehabilitasi
anak, termasuk kegiatan asesmen.
Menurt Ronald T. Taylor (Choiri, 1995) program-program di
bidang pendidikan yang memerlukan informasi dan harus disediakan melalui
kegiatan asesmen adalah:
1. Identitas
anak
2. Program
dan strategi pembelajaran
3. Tingkat
kemampuan dan kebutuhan pendidikan anak
4. Klasifikasi
dan program-program penempatan anak
5. Perencanaan
pengajaran individual.
Namun dalam hal ini akan
dibahas mengenai asesmen tingkat kemampuan dan kebutuhan pendidikan anak.
3.2 Tujuan
dan Arah Asesmen Anak Tunadaksa
Penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunadaksa pada
hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan, kecerdasan, keterampilan,
dan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat
kebangsaan sebagaimana tercantum dalam GBHN.
Arah pendidikan bagi anak
tunadaksa tersebut mempengaruhi pendayagunaan informasi dan data yang
dihasilkan dalam asesmen.
1. Tujuan
asesmen anak tunadaksa
Secara umum tujuan asesmen bagi anak
luar biasa adalah untuk menentukan dan memahami penampilan individu dan
lingkungannya. Tujuan asesmen untuk anak tunadaksa adalah untuk mengenal dan
memahami anak tunadaksa termasuk tentang kemampuan dan ketidakmampuan anak baik
fisik maupun mental dan lingkungannya. (Choiri, 1995)
2. Arah
atau kegunanaan asesmen anak tunadaksa
Menurut John Silvia & James E.
Yssdyke, (1981) dalam Choiri, 1995 kegunaan hasil asesmen adalah untuk:
a. Skrinning
anak
b. Klasifikasi
atau penempatan anak
c. Perencanaan
program
d. Evaluasi
program
e. Asesmen
kemajuan individu anak
Untuk anak tunadaksa, kegunaan dari hasil
asesmen anak antara lain adalah untuk:
a. Klasifikasi,
identifikasi dan data dasar anak tunadaksa
b. Pembuatan
keputusan program penempatan pendidikan anak
c. Pembuatan
keputusan program rehabilitasi anak
d. Pengembangan
program pengajaran individual anak
Pendek kata, arah dan kegunaan hasil
asesmen adalah untuk usaha-usaha preventif, kuratif dan evaluatif serta pengembangan
anak tunadaksa.
3.3 Tempat
melakukan asesmen
Choiri (1995) Pelaksanaan
asesmen bagi anak luar biasa termasuk anak tunadaksa pada umumnya dapat
dilakukan pada salah satu atau beberapa tempat tersebut:
1. Di
sekolah
2. Di
rumah
3. Di
lembaga masyarakat
4. Di
rumah spesialis tertentu
5. Di
laoratorium pendidikan luar biasa
Dalam
hal ini penulis akan melakukan asesmen di sekolah.
3.4 Teknik-teknik
asesmen anak tunadaksa
1. Observasi/
pengamatan
2. Wawancara
3. Tes
3.5 Hasil
Asesmen Anak Tunadaksa
Dalam hal ini penulis
melakukan asesmen di SLB B/C Waru Sidoarjo, pada anak tunadaksa kelas dasar II
dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara, bekerjasama dengan
orangtua/wali dan guru kelas anak. Berikut uraian lebih jelasnya:
I. IDENTITAS
ANAK
Nama
subjek
: Hermawan
Jenis
kelamin
: Laki-Laki
Alamat
: Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1
Agama
: Islam
Cita-Cita
: TNI
Pendidikan
: SLB B/C Al Ashar Sidoarjo Kelas Dasar II
Anak
urutan
ke
: 2 dari 3 bersaudara
Orang
tua
:
AYAH
Nama
: Suprayitno
Usia
: 40 Tahun
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Wirausaha
Alamat
: Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1
IBU
Nama
: Jumani
Usia
: 35 Tahun
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: IRT
Alamat
: Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1
II. ASESMEN
KONDISI KECACATAN YANG DIALAMI ANAK
Asesmen
ini dilakukan dengan menggunakan teknik obeservasi atau pengamatan. Secara
visual berikut hasil observasinya:
|
No |
Aspek
yang diamati |
Ya |
Tidak |
Keterangan |
|
1 |
Anggota-anggota gerak kaku/ lemah/
lumpuh |
|
Anggota gerak sebelah kanan |
|
|
2 |
Kesulitan dalam gerakan-gerakan:
kaku/ tidak lentur/ tidak terkendali |
|
Kesulitan dalam menggunakan
anggota tubuh bagian kanan karena mengalami kekakuan an kelayuan |
|
|
3 |
Ada bagian-bagian anggota gerak
yang tidak lengkap/ tidak sempurna/ lebih kecil dari biasa |
|
||
|
4 |
Jari-jari tangan kaku tidak dapat
menggenggam |
|
||
|
5 |
Kesulitan waktu berdiri, berjalan
atau duduk dan menunjukkan sikap tubuh yang tidak normal |
|
Tidak adanya keseimbangan sehingga
anak tiidak mampu berdiri dngan sempurna |
|
|
6 |
Gerakan-gerakan hiperaktif/ tidak
tenang |
|
Anak terlihat sangat tenang. |
III. ASESMEN
RIWAYAT KELAHIRAN ANAK
Asesmen
ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada orang tua anak
tunadaksa.
1. Riwayat
kelahiran
a. Keadaan
ibu sebelum kelahiran sempat mengalami tekanan darah tinggi
b. Saat
kelahiran
1) Lama
kandungan 8 bulan 2 minggu
2) Melahirkan
di rumah
3) Ditolong
oleh orangtua
4) Proses
kelahiran normal
5) Tidak
ada kelainan bawaan yang nampak saat anak lahir, hanya saja pada usia 2 hari
anak mulai kejang-kejang yan mengakibatkan kelayuan pada anggota gerak bagian
kanan.
6) Makanan
pertama yang diberikan ASI
IV. ASESMEN
KEGIATAN KESEHARIAN ANAK
Asesmen
ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada orangtua anak. Berikut
hasil asesmennya:
|
No. |
Aspek
yang diamati |
Penilaian |
||
|
Mampu |
Kurang
Mampu |
Tidak
Mampu |
||
|
Perawatan
diri |
||||
|
1 |
Menyisir rambut |
|
||
|
2 |
Menggosok gigi |
|
||
|
3 |
Menghidupkan/ mematikan kran |
|
||
|
4 |
Pergi ke kamar kecil/ WC |
|
||
|
5 |
Buang air kecil sendiri |
|
||
|
6 |
Buang air besar sendiri |
|
||
|
Kegiatan
makan/ minum |
||||
|
1 |
Mengambil makanan ke piring |
|
||
|
2 |
Makan pakai sendok |
|
||
|
3 |
Menyuap
nasi atau makanan |
|
||
|
4 |
Minum dari gelas |
|
||
|
5 |
Makan/Minum menggunakan tangan
kanan |
|
||
|
Kegiatan
berpakaian |
||||
|
1 |
Memakai pakaian |
|
||
|
2 |
Membuka pakaian |
|
||
|
3 |
Memakai sendal/sepatu |
|
||
|
4 |
Mengikat sepatu |
|
||
|
5 |
Mengenakan sabuk |
|
||
V. ASESMEN
PRILAKU ANAK DALAM BERGAUL
Asesmen
ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada orangtua dan guru
kelas anak serta melakukan observasi secara langsung.
|
No |
Aspek
yang diamati |
Penilaian |
Ket |
|
|
Ya |
Tidak |
|||
|
Prilaku
dalam masyarakat |
||||
|
1 |
Dapat berkomunikasi dengan baik
dalam lingkungan masyarakat |
|
||
|
2 |
Percaya diri dalam bergaul dengan
masyarakat |
|
||
|
3 |
Tidak merasa minder bergaul dengan
teman-temannya yang normal dalam lingkungan masyarakat |
|
||
|
4 |
Tidak memilih-milih teman dalam
bergaul |
|
||
|
5 |
Bersikap sopan dan santun dalam
lingkungan masyarakat |
|
||
|
Prilaku
dalam keluarga |
||||
|
1 |
Mampu berkomunikasi dengan baik
kepada orang tua |
|
||
|
2 |
Mampu berkomunikasi dengan baik
kepada saudara |
|
||
|
3 |
Mematuhi perintah orang tua |
|
||
|
4 |
Menyayangi saudara |
|
||
|
5 |
Bersikap sopan dan santun kepada
orang tua |
|
||
|
6 |
Iri dengan keadaan fisik
saudaranya yang lain |
|
Anak terkadang menanyakan
keadaannya yang berbeda dengan kakak dan adiknya |
|
|
Prilaku di sekolah |
||||
|
1 |
Mampu berkomunikasi dengan guru |
|
||
|
2 |
Mampu berkomunikasi dengan teman |
|
||
|
3 |
Menghargai pendapat teman dalam
belajar |
|
||
|
4 |
Patuh pada perintah guru |
|
||
|
5 |
Sopan terhadap guru |
|
||
|
6 |
Santun dalam bergaul |
|
||
|
7 |
Tidak memilih-milih teman dalam
bergaul di sekolah |
|
||
VI. ASESMEN KEMAMPUAN
KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN
|
No |
Aspek
yang diamati |
Mampu |
Tidak
Mampu |
Keterangan |
|
1 |
Gerakan koordinasi motorik
kasar |
|
||
|
2 |
Gerakan koordinasi motorik
halus |
|
||
|
3 |
Gerakan koordinasi mata dan
anggota tubuh |
|
||
|
4 |
Keseimbangan
duduk |
|
||
|
5 |
Keseimbangan
berdiri |
|
||
|
6 |
Keseimbangan
berjalan |
|
VII. ASESMEN
KEMAMPUAN ANAK DALAM PEMBELAJARAN
Dalam
hal ini untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan anak dalam proses
pembelajaran, penulis melakukan wawancara langsung kepada guru kelasnya,
terkait dengan keaktifan anak dalam pembelajaran, kemampuan membaca dan menulis
anak, kesulitan yang dihadapi anak dalam belajar, serta kecenderungan anak pada
salah satu mata pelajaran. Adapun hasil wawancara dipaparkan sebagai berikut:
1. Di
dalam kelas anak sedikit terlihat tidak nyaman dengan posisi duduknya, hal
tersebut sehubungan dengan kondisi fisik yang dialami oleh anak, dimana anggota
gerak bagian kanan mengalami kekakuan dan kelayuan.
2. Untuk
taraf anak kelas dasar II, anak tersebut telah mampu menulis huruf, suku kata,
kata, dan kalimat dengan baik walaupun dengan menggunakan tangan kiri, akibat
kelayuan dan kekakuan pada anggota gerak bagian kanan.
3. Anak
pun telah mampu membaca dengan fasih dan lancar.
4. Anak
tidak mencolok pada satu mata pelajaran saja, tapi untuk semua mata pelajaran,
anak mampu mengikutinya dengan baik.
5. Anak
aktif dalam pembelajaran, terbukti ketika anak mengajukan pertanyaan terhadap
hal-hal yang tidak dimengerti, begitupun sebaliknya jika guru mengajukan
pertanyaan sebagai umpan balik, anak mampu menjawab pertanyaan dengan baik.
6. Anak
menunjukkan kemajuan belajar dibandingkan dengan teman-temannya yang lain
sehingga anak bosan ketika guru harus mengulang materi pembelajaran karena
mengejar ketertinggalan teman-temannya.
F. Analisis Kebutuhan
Anak Tunadaksa Berdasarkan Hasil Asesmen
Berdasarkan hasil asesmen yang telah diuraikan pada anak tunadaksa kelas dasar
II di SLB B/C Al-Azhar Sidoarjo, mulai dari identitas anak, asesmen masa
kelahiran, asesmen perilaku sosial baik dalam lingkungan masyarakat, keluarga,
maupun sekolah, asesmen kemampuan koordinasi dan keseimbangan, serta asesmen
kemampuan pembelajaran anak. Maka terlihat dengan jelas beberapa kebutuhan yang
diperlukan anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya agar dapat tumbuh
dan berkembang secara optimal. Berikut akan diuraikan beberapa kebutuhan anak
tunadaksa yang bernama Hermawan atau lebih akrab dipanggil Wawan, menurut hemat
penulis:
1. Dilihat
dari keadaan anggota gerak atas maupun anggota gerak bagian bawah mengalami
kekakuan dan kelayuan pada bagian kanan, maka anak membutuhkan alat bantu untuk
berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain misalnya tongkat maupun kursi
roda, namun karena keterbatasan materi orang tua maka kebutuhan tersebut belum
terpenuhi.
2. Masih
sehubungan dengan keadaan anggota gerak yang mengalami kekakuan dan kelayuan
pada bagian kanan, baik anggota gerak atas maupun anggota gerak bawah, maka
anak juga membutuhkan fisioteraphy untuk melatih kerja anggota gerak yang tidak
berfungsi dengan baik karena kekuan dan kelayuan yang dialaminya.
3. Sehubungan
dengan sikap Wawan yang mulai mempertanyakan perbedaan fisiknya dengan
saudaranya yang lain kepada orang tuanya, maka anak juga membutuhkan layanan
bimbingan konseling untuk mendapatkan bimbingan dalam memahami dirinya sendiri,
menerima keadaan fisiknya, sehingga kelak anak siap menghadapi masa depannya
dengan keterbaasan fisiknya.
4. Sehubungan
dengan cita-cita Wawan yang ingi menjadi seorang TNI, maka dalam hal ini juga
dibutuhkan peran tenaga bimbingan dan konseling, untuk memberikan bimbingan
karier, mengingat keadaan fisik Wawan yang tidak memungkinkan untuk menjadi
seorang TNI. Dengan adanya bantuan tenaga bimbingan dan konseling diharapkan
anak akan ada gambaran karier kedepannya yang sesuai dengan kondisi fisiknya.
5. Masih
sehubungan dengan cita-cita Wawan, maka dalam hal ini Wawan juga membutuhkan
layanan pelatihan keterampilan sejak dini, sebagai modal kedepannya agar dapat
hidup mandiri tanpa terus bergantunng pada orang tua baik secara moral maupun
materil.
6. Sehubungan
dengan kemampuan yang ditunjukkan Wawan dalam proses pembelajaran, yang lebih
maju dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, maka Wawan perlu di buatkan
PPI (Program Pembelajaran Individual) dengan materi yang berbeda dengan
temannya, sehingga kemampuannya tidak terhambat karena menunggu temannya yang
lain yang terkesan agak lambat.
BAB IV
RANCANGAN RPP
Satuan
Pendidikan : SDLB D
Kelas/Semester : II/I
Tema
: Benda, Hewan dan Tanaman di Sekitar
Sub
Tema : Hewan
di Sekitar
Metode Pembelajaran : Scientific
Pertemuan
Ke- : Pertama
Alokasi
Waktu : 6×35 menit
KEMAMPUAN
AWAL
1. Siswa mengalami kondisi CP
2. Siswa mampu mengenal operasi penjumlahan dibawah 20.
3. Siswa mampu menulis nama sendiri dengan font yang cukup
besar
4. Siswa memahami perintah berupa verbal tetapi dalam
menyampaikan tidak jelas karena kondisi yang dialami.
5. Siswa mampu mengambil benda dengan ukuran yang tidak terlalu
kecil
6. Siswa memiliki sikap yang penurut.
KOPETENSI
INTI
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamatimendengar,
melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di
rumah, sekolah
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan
logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan
anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan
berakhlak mulia
KOPETENSI
DASAR DAN INDIKATOR
|
MATA PELAJARAN |
KOPETENSI DASAR |
INDIKATOR |
|
Bahasa Indonesia |
3.1.Mengenal teks laporan
sederhana tentang alam sekitar serta jumlahnya dengan bantuan guru atau teman
dalam bahasa indonesia lisan dan tulis dan dapat diisi dengan kosakata bahasa
daerah untuk membantu pemahaman. |
3.1.1.
Memahami macam-macam tempat hidup hewan |
|
4.1.Mengamati dan mencoba
menyajikan laporan sederhana tentang alam sekitar serta jumlahnya dengan
bantuan guru atau teman dalam bahasa indonesia lisan dan tulis dan dapt
diiisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman. |
4.1.1.
Menyajikan laporan sederhana tentang tempat hidup hewan. |
|
|
Matematika |
3.2.Memahami perbandingan dengan
memperkirakan berat suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih berat,
lebih ringan, lebih besar, lebih kecil) |
3.2.1.
Mengidentifikasi lebih besar-kecil ukuran hewan yang diulang 3 kali dengan
hewaan yang berbeda. |
|
4.2.Membandingkan dengan
memperkirakan berat suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih berat,
lebih ringan, lebih besar, lebih kecil) |
4.2.1.
Mengurutkan ukuran hewan dari terbesar hingga terkecil dan sebaliknya
sejumlah 5 hewan. |
|
|
Seni Budaya |
4.2.Membuat gambar ragam hias. |
4.2.1.
Menebalkan gambar hewan yang hidup di air. 4.2.2.
Mewarnai gambar hewan yang hidup di air (ikan). |
TUJUAN
1. Melalui kegiatan mengamati video dan menyimak bacaan, siswa
dapat memahami 2 macam tempat hidup hewan darat dan air dengan benar
2. Melalui kegiatan menempel gambar hewan dan tempat hidup
hewan, siswa dapat menyajikan laporan sederhana tentang tempat hidup hewan, 5
hewan hidup di darat dan 5 hewan hidup di air dengan benar.
3. Melalui kegiatan menalar, siswa dapat mengidentifikasi lebih
besar-kecil ukuran 2 hewan dengan benar.
4. Melalui kegiatan mencoba, siswa dapat mengurutkan ukuran 5
hewan dari terbesar hingga terkecil dan sebaliknya dengan benar.
5. Melalui kegiatan mengkomunikasikan, siswa dapat menebalkan
dan mewarnai gambar ikan yang hidup di air dengan rapi.
MATERI
1. Mengenal hewan di sekitar
2. Tempat hidup hewan
3. Gambar ragam hias (ikan)
PENDEKATAN
DAN METODE
Pendekatan
: Scientific
Metode
: Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi, Ceramah, dan Praktek.
KEGIATAN
PEMBELAJARAN
|
Langkah Kegiatan |
Deskripsi |
|
Pendahuluan (10 menit) |
1.
Guru bersama siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk
mengawali kegiatan pembelajaran) 2.
Guru melakukan komunikasi tentang kehadiran siswa 3.
Siswa menyampaikan binatang apa saja yang dimiliki di rumah setelah ditanya
oleh guru. 4.
Guru menyampaikan Sub Tema yang akan dibahas yaitu tentang “Hewan di
Sekitar”. 5.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. |
|
Inti (190 menit) |
6.
Dengan bimbingan guru,siswa melihat gambar beberapa hewan di sekitar beserta
tempat hidupnya. (melihat) 7. Siswa
membuat pertanyaan seputar hewan sekitar yang dimiliki dengan bantuan gambar
yang diajukan pada temannya. (menanya) setalah dipancing oleh guru. 8.
Siswa bertanya kepada teman lain sekelas tantang hewan yang dimiliki di
lingkungan tempat tinggal. 9.
Setelah melihat gambar, siswa dengan dibimbing guru menemukan tempat hidup
hewan yang dimiliki. 10. Selanjutnya siswa
menyimak teks tentang “hewan di sekitar” yang dibacakan oleh guru.
(mengumpulkan informasi) 11. Siswa menyebutkan
nama-nama hewan yang ada pada teks dan gambar(mencoba) 12. Siswa dengan bimbingan
guru membuat laporan sederhana tentang tempat hidup hewan dengan
bantuan media papan tempel (mengkomunikasikan) 13. Siswa mengidentifikasi
dua gambar hewan mana yang lebih besar ataupun kecil setelah ditunjukkan oleh
guru. 14. Siswa mengurutkan ukuran
hewan dari terbesar hingga terkecil dan sebaliknya. 15. Siswa mendengarkan
penjelasan guru bahwa salah satu binatang sekitar yang hidup di air adalah
ikan 16. Siswa dengan bimbingan guru
menebalkan pola titik-titik bergambar ikan. 17. Siswa mewarnai gambar
ikan yang sebelumnya telah ditebalkan. 18. Siswa memajang hasil
gambar yang telah diwarnai di papan karya siswa. |
|
Penutup (10 menit) |
19. Bersama guru, siswa
menyimpulkan pembelajaran hari ini yakni hewan di sekitar.
(mengkomunikasikan) 20. Guru menyarankan agar
apa yang telah dipelajari hari ini dapat di ingat dan dilaksanakan oleh siswa
di rumah. 21. Guru menyampaikan pesan
agar di rumah siswa rajin membantu orang tua. 22. Sebelum pulang guru
mengajak siswa untuk berdoa. |
SUMBER DAN MEDIA
1. Video tempat hidup hewan
2. Teks Bacaan “hewan di sekitar”.
3. Papan tempel tempat hidup hewan.
4. Gambar ikan
5. Buku siswa dan guru.
PENILAIAN
1. Penilaian Sikap
Jenis
: Non tes
Bentuk
: Observasi
Instrumen
: Pengamatan sikap
2. Penilaian pengetahuan
Instrumen penilaian
: tes tertulis
Tes
tertulis
: Skor per kopetensi dasar
Jumlah
soal
: 5
Skor
maksimal
: 10
3. Penilaian keterampilan
Instrumen penilaian
: tes unjuk kerja
Tes unjuk
kerja
: Skor per kopetensi dasar
PEMBELAJARAN
REMIDIAL
Apabila siswa yang masih mengalami
kesulitan atau belum menguasai materi, akan diberikan remidial, dengan
pembelajaran yang lebih sederhana.
1. Mengenal hewan di sekitar (difokuskan pada 2 hewan: 1 hewan
yang hidup di darat dan 1 hewan yang hidup di air)
2. Gambar ragam hias ikan (gambar yang lebih sederhana)
PENGAYAAN
Apabila siswa Sudah mampu menguasai
materi, dapat diberikan pengayaan berupa materi yang lebih sulit:
1. Mengenal hewan di sekitar (14 hewan: 7 hewan yang hidup di
darat, 7 hewan yang hidup di air)
2. Gambar ragam hias ikan (gambar yang lebih rumit)
BAB V
BAHAN AJAR
Pengembangan
Media Pembelajaran Untuk Anak Tunadaksa
Goals
1) Anak
mampu mengelompokkan berbagai bangun ruang sederhana (balok, prisma, tabung,
bola, dan kerucut)
2) Anak
mampu menentukan urutan benda-benda yang sejenis menurut besarnya
(Sesuai dengan KD SDLB-D Kelas 1
Semester 1. Mata pelajaran Matematika, Geometri dan Pengukuran)
Conditions
1. Disediakan
sebuah kotak hitam persegi dengan sisi depannya diberi lubang. Kira-kira besar
lubang dapat dilewati oleh tangan orang dewasa. Kemudian, disediakan juga lampu
indicator BENAR SALAH dimana indicator salah ditandai dengan
lampu merah kemudian indicator benar ditandai dengan lampu hijau yang
masing-masing memiliki suara atau bunyi yang telah disesuaikan.
2. Selain
itu, disediakan pula tampilan materi yang akan diajarkan dalam bentuk slide
show menggunakan LCD.
3. Anak
diintruksikan untuk menebak bangun ruang yang ditampilkan di layar. Jika anak
menebak dengan benar maka lampu hijau akan menyala disertai dengan bunyi yang
khas. Sebaliknya, jika anak menebak salah maka lampu merah akan menyala
disertai dengan bunyi yang khas juga.
4. Selanjutnya,
anak mengurutkan bangun ruang yang sejenis berdasarkan besarnya.
Disediakan tiga bangun ruang yang sejenis dengan ukuran yang berbeda. Kemudian,
anak menyusun bangun ruang tersebut dari yang terbesar ke yang terkecil dengan
bantuan guru.
Resources
Media
pembelajaran ini bernama Magic Box. Magic Box adalah sebuah media
berupa kotak hitam persegi dengan sisi depannya diberi lubang. Terdapat lampu
indicator BENAR SALAH dimana indicator salah ditandai dengan
lampu merah kemudian indicator benar ditandai dengan lampu hijau yang
masing-masing memiliki suara atau bunyi yang telah disesuaikan. Anak akan
menebak nama benda yang dikeluarkan dari kotak tersebut.
Alat
dan Bahan :
1. Untuk
Membuat Box, alat yang digunakan antara lain :
- Kotak
kardus
- Gunting
- Solasi
- Lem
- Penggaris
- Kain
berwarna hitam
2. Untuk
Membuat Rangkaian Lampu Indikator BENAR SALAH,alat dan bahan yang
digunakan antara lain :
- 2
lampu indicator (berwarna hijau dan merah)
- Kabel
penghubung secukupnya
- Saklar
- Baterai
- Isolator
3. Untuk
Membuat Bentuk Bangun Ruang, alat dan bahan yang digunakan antara lain :
- Kertas
karton
- Model
bangun ruang
- ATK
4. Peralatan
lain yang dibutuhkan
- LCD
Outcomes
1) Setelah
menggunakan media anak mampu mengenali beberapa macam bangun ruang, menyebutkan
beberapa nama bangun ruang
2)
Masih terdapat beberapa nama bangun ruang yang belum dikenal oleh anak. Maka
hal ini perlu ditindak lanjuti dengan cara mengajarkan anak tentang bangun
ruang menggunakan media pembelajaran dengan mengulang-ulang dalam menebak
nama-nama bangun ruang.
BAB VI
EVALUASI
Laporan ini bertujuan untuk mengevaluasi program
asesmen bagi anak tunadaksa dengan melihat kesenjangan antara kondisi lapangan
dengan kriteria dari para ahli. Pada penelitian ini difokuskan pada (1)
pelaksanaan program asesmen bagi anak tunadaksa, (2) tim pelaksana asesmen, 3)
sarana dan prasarana penunjang asesmen bagi anak tunadaksa, dan (4) kendala
yang dihadapi selama program asesmen berlangsung. Penelitian ini merupakan
penelitian evaluasi dengan menggunakan discrepancy model yang dikembangkan oleh
Malcolm Provus. Penelitian ini dilakukan di SLB G Daya Ananda dari November
sampai Desember 2015. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, tim
pelaksana asesmen, dan guru di sekolah. Pengumpulan data pada penelitian ini
menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen pada
penelitian ini yaitu peneliti. Analisis data yang digunakan bersifat kualitatif
dengan tahapan reduksi, penyajian, dan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan
uji kredibilitas (perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi,
dan menggunakan bahan referensi), uji transferability, uji dependability, dan
uji konfirmability. Hasil penelitian menyatakan bahwa : (1) pada pelaksanaan
program asesmen terdapat beberapa aspek yang sudah memenuhi kriteria yang
meliputi model asesmen, teknik asesmen, dan analisis data hasil, walaupun masih
pada asesmen umum belum lebih spesifik pada asesmen tunadaksa. Terdapat pula
yang belum memenuhi kriteria meliputi persiapan, pelaksanaan, diagnosis dan
tindak lanjut serta pencatatan dan penyimpanan hasil asesmen. (2) tim pelaksana
asesmen belum memenuhi kriteria tim karena belum mempunyai pengalaman dan belum
melibatkan ahli lain atau orang tua. (3) sarana dan prasarana secara
keseluruhan sudah baik, tetapi masih ada yang kurang memenuhi kriteria yang
meliputi ruangan asesmen sempit dan pencahayaan kurang, instrumen yang
digunakan belum spesifik pada asesmen tunadaksa, penggunaan bahasa kurang
mengeksplorasi anak, dan media yang digunakan kurang sesuai dengan kebutuhan
anak. (4) kendala dalam pelaksanaan asesmen meliputi pembagian waktu,
pengetahuan yang kurang, belum ada MOU dengan ahli lain, dan ruangan asesmen yang
sempit serta terdapat anggota tim yang alot dalam proses analisis.
BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diadapat dari laporan hasil observasi anak
berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan fisik atau tuna daksa disekolah
khusus Samantha antara lain: anak dengan gangguan fisik atau tuna daksa adalah
anak yang mengalami gangguan syaraf-syaraf sedemikian rupa, sehingga
membutuhkan layanan khusus dalam pendidikan maupun kehidupannya.
1. Tunadaksa Saraf (neurologically
handicapped)
Anak tunadaksa
saraf yaitu anak tunadaksa yang mengalami kelainan akibat gangguan pada susunan
saraf di otak. Otak sebagai pengontrol tubuh memiliki sejumlah saraf yang
menjadi pengendali mekanisme tubuh sehingga jika otak mengalami kelainan,
sesuatu akan terjadi pada organisme fisik, emosi, dan mental.
2. cerebral palsy menurut derajat
kecacatannya diklasifikasikan menjadi :
a. Ringan
Ciri-cirinya
yaitu dapat berjalan tanpa alat bantu, bicara jelas, dan dapat menolong diri
sendiri.
b. Sedang
Ciri-cirinya
Membutuhkan bantuan untuk latihan bicara, berjalan, dan mengurus diri.
c. Berat
Ciri-cirinya
membutuhkan perawatan tetap dalam ambulansi, bicara, dan menolong diri.
3. Hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan otak bayi
pada saat bayi dilahirkan antra lain :
a. Kesulitan persalinan karena letak bayi
sungsang atau pinggung ibu terlalu kecil.
b. Pendarahan pada otak pada saat
kelahiran.
c. Kelahiran prematur.
4. Karakteristik Anak Tunadaksa
Karakteristik
Kognitif
Implikasi dalam
konteks perkembangan kognitif menurut Gunarsa dalam Efendi (2006:124) ada
empat aspek yang turut mewarnai, yaitu:
a) Kematangan, kematangan merupakan perkembangan susunan saraf
misalnya mendengar yang diakibatkan kematangan susunan sarat tersebut.
b) Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organism dengan
lingkungan dan dunianya.
c) Transmisi sosial, yaitu pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya
dengan lingkungan sosial.
d) Ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri
anak.
Karakteristik
Intelegensi Tunadaksa
Untuk mengetahui
tingkat intelegensi anak tunadaksa dapat digunakan tes yang telah dimodifikasi
agar sesuai dengan anak tunadaksa. Tes tersebut antara lain Hausserman
Test (untuk anak tunadaksa ringan), Illinois Test (The
Psycholinguistis Ability), danPeabody Picture Vocabulary Test. Lee
dalam Soemantri (2007:129) mengungkapkan hasil penelitian yang menggunakan tes
Binet untuk mengukur tingkat intelegensi anak tunadaksa yang berumur antara 3
sampai 6 tahun sebagai berikut:
1. IQ tunadaksa berkisar antara 35-138.
2. Rata-rata mereka adalah IQ 57.
3. Klasifikasi tunadaksa yang lain yaitu:
a)
Anak polio
mempunyai rata-rata intelegensi yang tinggi yaitu IQ 92.
b)
Anak yang TBC
tulang rata-rata IQ 88
c)
Anak yang cacat
konginetal rata-rata IQ 61
d)
Anak yang
sapstik rata-rata IQ 69
e)
Anak cacat pada
pusat syaraf rata-rata IQ 74
Karakteristik
Kepribadian Anak Tunadaksa
Terdapat hal
yang tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian anak tunadaksa, antara
lain:
1. Terhambatnya aktivitas normal sehingga menimbulkan perasaan frustasi
2. Timbulnya kekhawatiran orang tua yang berlebihan yang justru akan
menghambat terhadap perkembangan kepribadian anak karena orang tua biasanya
cenderung over protective.
3. Perlakuan orang sekitar yang membedakan terhadap anak tunadaksa
menyebabkan anak merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain.
B.
Saran
Untuk
observer harus memahami terlebih dahulu hambatan-hambatan anak,
mengklasifikasikan dari beberapa karakteristiknya dan dapat menarik kesimpulan
dari pengamatan tersebut.
Diharapkan
untuk semua mahasiswa yang melakukan observasi dapat mengamati sendiri/ terjun
langsung ke lapangan dengan menentukan pandangan sendiri dan dapat meluruskan
pandangan yang keliru atau sekedar dugaan sementara oleh pihak sekolah ataupun
lingkungan sekitar anak tersebut.
LAMPIRAN
Foto
: Proses belajar anak tunadaksa
Foto
: Program Individual Pembelajaran Anak Tunadaksa
Comments
Post a Comment