MAKALAH KERAJAAN ISLAM DI GOA TALLO
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
allah subhanahuwata’ala, karena berkat rahmatnya kami bisa menyelesaikan
makalah yang bertema “kerajaan gowa tallo”. Makalah ini di ajukan guna memenuhi
tugas mata pelajaran sejarah. Kami mengucapkan terima kasih pada semua anggota
kelompok yang telah membantu sehungga makalah ini dapat di selesaikan tepat
pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari sempurnanya makalah
ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi teman-teman dan bermanfaat
untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuanbagi kita semua.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………
ii
BAB I
PENDAHULUAN
LatarBelakang…………………………………………………………………..…………..
1
Rumusan
Masalah……………………………………………………………….………….1
BAB II PEMBAHASAN
Sejarah awal Kerajaan Gowa Tallo……………………………………………..……....
...2
Letak Kerajaan Gowa
Tallo……………………………………………………………… ..2
Silsilah Raja Kerajaan Gowa
Tallo……………………………………………………….. .3
Kondisi sosial, ekonomi dan politik
Kerajaan Gowa Tallo……………………………… ..5
Proses kehancuran dari Kerajaan Gowa
Tallo…………………………………………... ...7
Peninggalan-peninggalan Kerajaan
Gowa Tallo………………………………………… ..7
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan……………………………………………………………….………….……
..9
Saran…………………………………………………………………………………….….
...9
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………………….. .10
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah
satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan.
Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung
selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada
dibawah Kabupaten Gowa dan daerah sekitarnya yang dalam bingkai negara kesatuan
RI dimekarkan menjadi Kotamadya Makassar dan kabupaten lainnya. Kerajaan ini
memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu
melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap
Belanda yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang berasal dari Suku Bugis dengan
rajanya Arung Palakka. Tapi perang ini bukan berati perang antar suku Makassar
– suku Bugis, karena di pihak Gowa ada sekutu bugisnya demikian pula di pihak
Belanda-Bone, ada sekutu Makassarnya. Politik Divide et Impera Belanda,
terbukti sangat ampuh disini. Perang Makassar ini adalah perang terbesar
Belanda yang pernah dilakukannya di abad itu.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana
sejarah awal dari Kerajaan Gowa Tallo?
b. Dimana
letak Kerajaan Gowa Tallo?
c. Bagaimana
silsilah Raja Kerajaan Gowa Tallo?
d. Bagaimana
kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Kerajaan Gowa Tallo?
e. Bagaimana
proses kehancuran dari Kerajaan Gowa Tallo?
f. Apa
saja peninggalan Kerajaan Gowa Tallo?
C. Tujuan Penulisan
a. Mengetahui
sejarah awal dari Kerajaan Gowa Tallo.
b. Mengetahui
letak Kerajaan Gowa Tallo.
c. Mengetahui
silsilah Raja Kerajaan Gowa Tallo.
d. Mengetahui
kondisi sosial, ekonomi, dan politk di Kerajaan Gowa Tallo.
e. Mengetahui
proses kehancuran dari Kerajaan Gowa Tallo.
f. Mengetahui
peninggalan Kerajaan Gowa Tallo.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah awal Kerajaan Gowa Tallo
Pada awalnya
di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate
Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan
Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero
dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya
bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai
oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan
empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah
Batara Guru dan saudaranya
Kesultanan
Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan
paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari
kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan
dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada di
bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya. Kerajaan
ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang
saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang
Makassar (1666-1669) terhadap VOC yang dibantu
oleh Kerajaan Bone yang dikuasai oleh satu wangsa Suku
Bugis dengan rajanya Arung Palakka. Perang Makassar bukanlah perang
antarsuku karena pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula
pihak Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah
perang terbesar VOC yang pernah dilakukannya di abad ke-17.
B.
Letak Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan
Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar. Kerajaan ini
terletak di daerah Sulawesi Selatan. Makassar sebenarnya adalah ibukota Gowa
yang dulu disebut sebagai Ujungpandang. Secara geografis Sulawesi Selatan
memiliki posisi yang penting, karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan
Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang,
baik yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun para pedagang yang berasal
dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan letak seperti ini mengakibatkan
Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa
atas jalur perdagangan Nusantara. Berikut adalah peta Sulawesi Selatan pada
saat itu.
C. Silsilah Raja Kerajaan Gowa Tallo
1.
Tumanurunga
(+ 1300)
2.
Tumassalangga
Baraya
3.
Puang Loe Lembang
4.
I
Tuniatabanri
5.
Karampang ri
Gowa
6.
Tunatangka
Lopi (+ 1400)
7.
Batara Gowa
Tuminanga ri Paralakkenna
8. Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
9.
Daeng
Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (awal abad ke-16)
10. I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung
Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng
Data Tunibatte
12. I Manggorai Daeng Mameta Karaeng
Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590).
13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni
Pasulu (1593).
14. I Mangari Daeng Manrabbia Sultan
Alauddin Tuminanga ri Gaukanna Berkuasa mulai tahun 1593 - wafat tanggal 15
Juni 1639. Merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam.
15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng
Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna Lahir 11 Desember 1605,
berkuasa mulai tahun 1639 hingga wafatnya 6 November 1653
16. I Mallombassi Daeng Mattawang
Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla'pangkana Lahir
tanggal 12 Juni 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12
Juni 1670 17. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu'
Lahir 31 Maret 1656, berkuasa mulai tahun 1669 hingga 1674, dan wafat 7 Mei
1681.
17. I Mallawakkang Daeng Mattinri
Karaeng Kanjilo Tuminanga ri Passiringanna
18. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga
ri Jakattara Lahir 29 November 1654, berkuasa mulai 1674 sampai 1677, dan wafat
15 Agustus 1681
19. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng
Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung. (1677-1709)
20. La Pareppa Tosappe Wali Sultan
Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
21. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin
Tuminang ri Pasi
22. I Manrabbia Sultan Najamuddin
23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin
Tuminang ri Pasi. (Menjabat untuk kedua kalinya pada tahun 1735)
24. I Mallawagau Sultan Abdul Chair
(1735-1742)
25. I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus
(1742-1753)
26. Amas Madina Batara Gowa (diasingkan
oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu
Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
28. I Temmassongeng Karaeng Katanka
Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)
29. I Manawari Karaeng Bontolangkasa
(1778-1810)
30. I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng
Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
31. La Oddanriu Karaeng Katangka
Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
32. I Kumala Karaeng Lembang Parang
Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna (1826 - wafat 30 Januari
1893)
33. I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng
Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893- wafat 18 Mei 1895)
34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng
Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu'na Memerintah sejak tanggal 18
Mei 1895, dimahkotai di Makassar pada tanggal 5 Desember 1895. Ia melakukan
perlawanan terhadap Hindia Belanda pada tanggal 19 Oktober 1905 dan diberhentikan
dengan paksa oleh Hindia Belanda pada 13 April 1906. Ia meninggal akibat jatuh
di Bundukma, dekat Enrekang pada tanggal 25 Desember 1906.
35. I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng
Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa (1936-1946)
36. Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng
Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1956-1960) merupakan Raja Gowa
terakhir, meninggal di Jongaya pada tahun 1978.
D. Kondisi sosial, ekonomi dan politik
Kerajaan Gowa Tallo
a. Kondisi
sosial budaya Kerajaan Gowa Tallo
Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat
Makasar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan
taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk
menambah kemakmuran hidupnya. Walaupun masyarakat Makasar memiliki
kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam
kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral.
Norma kehidupan masyarakat Makasar diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang
disebut PANGADAKKANG. Dan masyarakat Makasar sangat percaya terhadap
norma-norma tersebut.Di samping norma tersebut, masyarakat Makasar juga
mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan
golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan “Anakarung/Karaeng”,
sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan masyarakat lapisan bawah
yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”.
Dari segi
kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang
berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis
kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo.Kapal
Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Makasar dan terkenal sampai mancanegara.
b. Kondisi
ekonomi Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Makasar merupakan kerajaan Maritim dan
berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini
ditunjang oleh beberapa faktor :
• letak yang
strategis,
• memiliki
pelabuhan yang baik
• jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang
yang pindah ke Indonesia Timur.
Sebagai pusat perdagangan Makasar berkembang sebagai
pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing
seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang
di Makasar.
Pelayaran
dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan
ADE’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE, sehingga dengan adanya hukum niaga tersebut,
maka perdagangan di Makasar menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang
pesat.
Selain perdagangan, Makasar juga mengembangkan
kegiatan pertanian karena Makasar juga menguasai daerah-daerah yang subur di
bagian Timur Sulawesi Selatan.
c. Kondisi
politik Kerajaan Gowa Tallo
Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh
Datuk Robandang/Dato’ Ri Bandang dari Sumatera, sehingga pada abad 17 agama
Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan, bahkan raja Makasar pun memeluk
agama Islam. Raja Makasar yang pertama memeluk agama Islam adalah Sultan
Alaudin. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makasar berkembang sebagai
kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Muhammad Said
(1639 – 1653).
Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncak
kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669). Pada masa
pemerintahannya Makasar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan
menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang
keperluan perdagangan Makasar. Ia berhasil menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, dan
Bone.Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat. Daerah
kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat
dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada
dominasi asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang
dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara
Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya
kerajaan Makasar. Dengan kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara
Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan.
Peperangan tersebut terjadi di daerah Maluku.
Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin
memimpin sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di
Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan
Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan
dari Timur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu
dengan melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah
kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Makasar
mengadakan persetujuan kepada VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Makasar.
Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makasar.
Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat
menguasai ibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus
mengakui kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang
isinya tentu sangat merugikan kerajaan Makasar.
Isi dari
perjanjian Bongaya antara lain:
a. VOC memperoleh hak monopoli
perdagangan di Makasar.
b.
Belanda dapat
mendirikan benteng di Makasar.
c.
Makasar
harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar
Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.
Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan
Makasar terhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan
Hasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan
Belanda.Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan
pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya
kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.
E.
Proses Kehancuran Kerajaan Gowa Tallo
Sepeninggal Hasanuddin, Makassar dipimpin oleh putranya bernama napasomba. Sama
seperti ayahnya, sultan ini menentang kehadiran belanda dengan tujuan menjamin
eksistensi Kesultanan Makasar. Namun, Mapasomba gigih pada tekadnya untuk
mengusir Belanda dari Makassar. Sikapnya yang keras dan tidak mau bekerja sama
menjadi alasan Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran. Pasukan
Mapasomba berhasil dihancurkan dan Mapasomba sendiri tidak diketahui nasibnya.
Belanda pun berkuasa sepenuhnya atas kesultanan Makassar.
F.
Peninggalan – Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo
Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum
Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng
ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I
manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini
berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan
Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari
Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk
seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya
sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di
laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.
Nama asli benteng in i adalah Benteng Ujung Pandang.
Benteng Fort Rotterdam
Masjid Katangka
Mesjid Katangka didirikan pada tahun 1605 M. Sejak
berdirinya telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran itu
berturut-turut dilakukan oleh Sultan Mahmud (1818), Kadi Ibrahim (1921),
Haji Mansur Daeng Limpo, Kadi Gowa (1948), dan Andi Baso, Pabbicarabutta Gowa
(1962) sangat sulit mengidentifikasi bagian paling awal (asli) bangunan mesjid
tertua Kerajaan Gowa ini.
Kompleks makam raja gowa tallo.
Makam raja-raja. Tallo adalah sebuah kompleks makam
kuno yang dipakai sejak abad XVII sampai dengan abad XIX Masehi. Letaknya di RK
4 Lingkungan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Madya Ujungpandang. Lokasi makam
terletak di pinggir barat muara sungai Tallo atau pada sudut timur laut dalam wilayah
benteng Tallo. Ber¬dasarkan basil penggalian (excavation) yang dilakukan oleh
Suaka Peninggalan sejarah dan Purbakala (1976¬-1982) ditemukan gejala bah wa
komplek makam ber¬struktur tumpang-tindih. Sejumlah makam terletak di atas
pondasi bangunan, dan kadang-kadang ditemukan fondasi di atas bangunan makam.
Kompleks makam raja-raja Tallo ini sebagian
ditempat¬kan di dalam bangunan kubah, jirat semu dan sebagian tanpa bangunan
pelindung: Jirat semu dibuat dan balok¬balok ham pasir. Bangunan kubah yang berasal
dari kuran waktu yang lebih kemudian dibuat dari batu bata. Penempatan balok
batu pasir itu semula tanpa memper¬gunakan perekat. Perekat digunakan Proyek
Pemugaran. Bentuk bangunan jirat dan kubah pada kompleks ini kurang lebih
serupa dengan bangunan jirat dan kubah dari kompleks makam Tamalate, Aru
Pallaka, dan Katangka. Pada kompleks ini bentuk makam dominan berciri abad XII
Masehi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah
satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan.
Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung
selatan dan pesisir barat Sulawesi. Pada awalnya di daerah Gowa terdapat
sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera),
yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang,
Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Sejak Gowa Tallo sebagai
pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin hubungan dengan Ternate yang sudah
menerima Islam dari Gresik. Raja Ternate yakni Baabullah mengajak raja Gowa
Tallo untuk masuk Islam, tapi gagal. Baru pada masa Raja Datu Ri Bandang datang
ke Kerajaan Gowa Tallo agama Islam mulai masuk ke kerajaan ini.
Setahun kemudian hampir seluruh penduduk Gowa Tallo
memeluk Islam. Mubaligh yang berjasa menyebarkan Islam adalah Abdul Qodir
Khotib Tunggal yang berasal dari Minangkabau. Makasar mencapai puncak
kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669). Daerah
kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat
dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada
dominasi asing. Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin
sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku.
Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin
tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari
Timur.
Demikian Gowa telah mengalami pasang surut dalam
perkembangan sejak Raja Gowa pertama, Tumanurung (abad 13) hingga mencapai
puncak keemasannya pada abad XVIII kemudian sampai mengalami transisi setelah
bertahun-tahun berjuang menghadapi penjajahan. Dalam pada itu, sistem
pemerintahanpun mengalami transisi di masa Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng
Lalolang, setelah menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu,
berubah bentuk dari kerajaan menjadi daerah tingkat II Otonom. Sehingga dengan
perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa terakhir
dan sekaligus Bupati Gowa pertama.
B.
Saran
Saran
yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi perbaikan makalah ini. Bagi
para pembaca dan teman-teman lainnya, jika ingin menambah wawasan dan ingin
mengetahui lebih jauh maka kami mengharapkan dengan rendah hati agar membaca
buku-buku ilmiah.
Comments
Post a Comment