MAKALAH OBSERVASI ANAK HIPERAKTIF

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT sebab karena limpahan rahmat serta anugerah dari-Nya kami mampu untuk menyelesaikan makalah penyusun dengan judul “Observasi Anak Hiperaktif” ini.

Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi agung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan Allah SWT untuk kita semua, yang merupakan sebuah pentunjuk yang paling benar yakni Syariah agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.

Selanjutnya dengan rendah hati penyusun meminta kritik dan saran dari pembaca untuk makalah ini supaya selanjutnya dapat kami revisi kembali. Karena penyusun sangat menyadari, bahwa makalah yang telah dibuat ini masih memiliki banyak kekurangan.

Penyusun  ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada setiap pihak yang telah mendukung serta membantu selama proses penyelesaian makalah ini hingga rampungnya makalah ini.

Demikianlah yang dapat kami haturkan, kami berharap supaya makalah yang telah penyusun buat ini mampu memberikan manfaat kepada setiap pembacanya.

 

Kotabaru,  Desember 2018

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Perilaku siswa-siswi usia sekolah saat ini beragam, salah satu perilakunya adalah anak-anak yang sangat sulit di atur, tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Anak-anak tersebut biasanya mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperkinetik yang secara luas di masyarakat disebut sebagai anak hiperaktif.

Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome.

Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa. Dr. Seto Mulyadi dalam bukunyaMengatasi Problem Anak Sehari-hari mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif. ADHD adalah sebuah kondisi yang amat kompleks; gejalanya berbeda-beda.

 

Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaraan guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal. Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak yang hiperaktif tersebut supaya mereka dapat memaksimalkan potnsi diri dan meningkatkan prestasinya.

Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian.

Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau bisa juga karena gangguan di kepala seperti geger otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.

Pendekatan ini yaitu dengan adanya bimbingan konseling berupa layanan / treatment yang sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga dengan demikian, diharapkan setiap anak akan memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik tanpa terkecuali, karena pengajaran yang diberikan telah disesuaikan dengan kemampuan dan kesulitan yang dimilikinya.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.  Apa pengertian Hiperaktif?

2.  Apa saja ciri-ciri Anak Hiperaktif ?

3.  Apa faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak ?

4.  Apa saja problem-problem yang biasa dialami oleh anak  hiperaktif ? 

5.   Bagaimana penanganan untuk Anak Hiperaktif ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

DASAR TEORI

A.    Pengertian Hiperaktif

Kata “hiperaktivitas” (hiperaktivity) digunakan untuk menyatakan suatu pola prilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan implusif (semau gue).Anak-anak yang hiperaktif selalu bergerak. Mereka tidak mau diam bahkan dalam situasi-situasi, misalnya ketika sedang mengikuti pelajaran di kelas yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak pernah merasakan asyiknya permaianan atau mainan yang umumnya disukai anak-anak lain seusia mereka, sebentar-sebentar mereka tergerak untuk beralih dari permainan atau mainan satu ke yang lain.

Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa dalam Irawati Ismail (2009).

Dr. Seto Mulyadi dalam Irawati Ismail (2009) dalam bukunya “Mengatasi Problem Anak Sehari-hari“ mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, Tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.

Hiperaktivitas juga mengacu ke tiadanya pengendalian diri, misalnya mengambil keputusan atau kesimpulan tanpa memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul, dan sering menyebabkan pelakunya terkena hukuman atau mengalami kecelakaan.

Hiperaktivitas tidak selalu harus dinyatakan sebagai penyakit. Kendatipun demikan, hiperaktivitas juga bisa merupakan gejala(symptom)yang menunjukkan adanya sesuatu yang salah dalam perkembangan anak anda. Kalau anak anda hampir sepanjang waktu tampak sangat hiperaktif, dalam situasi apapun yang dihadapinya maka gejala ini perlu diselidiki. Perangai demikian mungkin tetap ada untuk jangka waktu yang panjang dan cukup parah untuk mempengaruhi hubungannya dengan orang lain, kemampuan belajarnya, dan kebahagiaannya. Pola tingkah laku ini kadang-kadang disebut “sindrom hiperkinetik”. Umumnya sindrom hiperkinetik  menyebabkan seorang anak tidak bisa menjadi dewasa. Anak seperti ini tidak dapat mengembangkan pengendalian dirinya dengan laju yang sama seperti pada anak-anak lain yang seusia.

      Para ahli mempunyai perbedaan pendapat mengenai hal ini, akan tetapi mereka membagi ADHD ke dalam 3 jenis berikut ini:

1.      Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian.

Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau Impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak perempuan. Mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang berada “di awang-awang”.

2.      Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive.

Mereka menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsif, tetapi bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anak- anak kecil.

3.      Tipe gabungan.

Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif. Kebanyakan anak anak termasuk tipe seperti ini. Jadi yang dimaksud dengan hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekehendak hatinya). Anak hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain seusia mereka, dikarenakan perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Mereka seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasikkan namun tidak kunjung dating.

 

B.  Ciri-Ciri Anak Yang Hiperaktif

Ada tiga tanda utama anak yang menderita ADHD menurut Irawati Ismail (2009), yaitu:

1.      Tidak ada perhatian.

Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau ketidak mampuan untuk berkonsentrasi pada beberapa hal seperti membaca, menyimak pelajaran, dan sering tidak mendengarkan perkataan oranglain.

2.      Hiperaktif
Mempunyai terlalu banyak energi. Misalnya berbicara terus menerus, tidak mampu duduk diam, selalu bergerak, dan sulit tidur

3.      Impulsif.

Sulit untuk menunggu giliran dalam permainan, sulit mengatur pekerjaanya, bertindak tanpa dipikir, misalnya mengejar bola yang lari ke jalan raya, menabrak pot bunga pada waktu berlari di ruangan, atau berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya. 


       Ciri-ciri khusus anak yang hiperaktif menurut Irawati Ismail (2009) diantaranya ialah sebagai berikut :

1.      Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat.

2.      Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis.

3.      Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak  selayaknya. 

4.      Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.

5.      Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah habis.

6.      Sering terlalu banyak bicara

7.      Sering sulit menunggu giliran

8.   Sering memotong atau menyela pembicaraan

9.   Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis   terhadap lawan bicaranya).

 

C.  Faktor Penyebab Anak Yang Hiperaktif

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain:

1.      Faktor Genetik

Anak laki-laki dengan eksra kromosom Y yaitu XYY, kembar satu telur lebih memungkinkan hiperaktif dibanding kembar dua telur.

2.      Faktor Neurologik

Penelitian menunjukan, anak hiperaktif lebih banyak disebabkan karena gangguan fungsi otak akibat sulit saat kelahiran, penyakit berat, cidera otak.

3.      Faktor Lingkungan

Racun atau limbah pada lingkungan sekitar bisa menyebabkan hiperaktif terutama keracunan timah hitam (banyak terdapat pada asap knalpot berwarna hitam kendaraan bermotor yang menggunakan solar).

4.      Faktor Kultural dan Psikososial

a.       PemanjaanPemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja itu sering memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya.

b.      Kurang disiplin dan pengawasan.

Anak yang kurang disiplin atau pengawasan akan berbuat sesuka hatinya, sebab perilakunya kurang dibatasi. Jika anak dibiarkan begitu saja untuk berbuat sesuka hatinya dalam rumah, maka anak tersebut akan berbuat sesuka hatinya ditempat lain termasuk di sekolah. Dan orang lain juga akan sulit untuk mengendalikannya di tempat lain baik di sekolah.

c.       Orientasi kesenangan

Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan umumnya akan memiliki ciri-ciri hiperaktif secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda agar mau mendengarkan dan menyesuaikan diri.

Satu hal lain yang membantu berkembangnya hiperaktivitas adalah penggunaan hukuman secara tidak bijaksana oleh orang tua.

 

D.   Problem-problem yang Biasa Dialami Oleh Anak Hiperaktif

1. Problem di Sekolah

Problem di sekolah biasanya anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai bahwa anak hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki ketrampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa.

2.  Problem di Rumah

Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi. Apabila mengalami kekecewaan, ia gampang bersikap emosional.

Selain itu, anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Hambatan-hambatan tersebut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. Maka yang akan terjadi adalah reaksi penolakan dan pemberontakan pada anak. Hal ini mengakibatkan terjadinya ketegangan antara orang tua dengan anak. Baik anak maupun orang tua menjadi stress dan situasi rumah menjadi kurang nyaman. Akibatnya, anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.

3.  Problem Berbicara

Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi dan memberikan umpan balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.

4.  Problem Fisik

Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti: asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti: terjatuh, terkilir, dan keseleo.

 

E. Penanganan Anak Hiperaktif

Banyak orang tua yang tahu bahwa penyebab anak berperilaku disebabkan oleh masalah biologis. Ada  orang tua yang menanggapinya tidak dengan serius, tetapi ada juga yang menanggapi secara serius dan menghajarnya atau menghukumnya ketika mereka berperilaku agresif. Namun, bila terus- menerus dihukum dan dipukul, tidak akan mempan dalam upaya mendidik  anak seperti ini.

Menurut Dr. Mary Go Setiawani (2000) upaya yang perlu dilakukan dalam menangani anak hiperaktif melalui:

1.  Penggunaan Obat

Dokter umumnya menganjurkan penggunaan obat untuk menolong anak yang hiperaktif, dan hal itu pun sudah dibuktikan bermanfaat dalam menenangkan mereka. Jika masalahnya cukup serius dan penyebabnya bukan masalah emosi, maka penggunaan obat harus sesuai dengan petunjuk dokter dan jangan sampai ada efek sampingannya. Penting sekali untuk berkonsultasi dengan dokter ahli saraf.

2. Pengaturan Makanan

Dalam konsultasi dengan dokter sebaiknya orangtua menanyakan apakah anaknya itu alergi terhadap satu macam makanan. Selain itu, perlu ada pengendalian terhadap makanan sebab ada banyak bukti terhadap kebenaran ini.

3. Hindarkan Pemanjaan

Anak jangan dimanjakan jika tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. Orangtua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orangtua ingin ditaati oleh anak-anaknya supaya pernyataan ini juga memberi rasa aman kepada anak. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam, keras, diktator atau berhati baja, tetapi sebaliknya justru untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan.

4. Menciptakan Lingkungan yang Tenang

Orang tua berupaya menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak, misalnya: di kamar atau di ruang bermain. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising, sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik.

5. Memilih Acara Televisi dengan Hati-hati

Acara televisi yang menampilkan adegan kekerasan, lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan, dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. Oleh sebab itu, pilihlah acara televisi yang beradegan lembut dan baik.

6. Gunakan Tenaga Ekstra dengan Tepat

Anak hiperaktif biasanya kurang dapat mengendalikan diri. Namun, apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat, sesungguhnya akan mengurangi keonaran. Misalnya dengan mengizinkan dia mengikuti aktivitas di luar rumah atau membuat pekerjaan rumah bersama teman atau mengikutsertakan dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga dengan demikian ia dapat menyalurkan tenaga ekstranya dengan benar.

7. Membimbing dalam Kebenaran

Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dengan perilakunya, orangtua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah, kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini, walaupun harus dilakukan secara berulang-ulang. Apabila orangtua tidak putus asa, anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah mengajak anak untuk berdoa kepada Tuhan dan bersandar pada pertolongan-Nya.



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 BAB III

PEMBAHASAN

 

 

Laporan Hasil Pengamatan Anak yang Hiperaktif

 

A.  DATA ANAK

Nama                     : Aisha Kirania Putri

Jenis Kelamin        : Perempuan

TTL                       : Samarinda, 08 Februari 2008      

Umur                     5 tahun

Kelas                     : TK B

Sekolah                 : TK Anak Kita Preschool

Tempat Observasi: Sekolah : Jl. Jakarta Blok AC NO.16

Rumah                   : Jl. Jakarta Blok M. No 14

 

B.  Ciri Anak

Aisha adalah anak usia dini yang berusia 5 tahun, dia memiliki kepribadian yang sangat ceria, lincah, suka bernyanyi, suka bercerita, jika dilihat dari kecerdasan, Aisha termasuk anak yang memiliki kecerdasan linguistik. Namun, aisha ini sangat sulit untuk diam dia selalu melakukan apapun itu menulis, belajar, maupun bermain. Jika diberi tugas, ia langsung menyelesaikan tugas dengan baik dirumah dan tidak pernah untuk istirahat walaupun tugas itu sudah selesai dia terus belajar tanpa hentiAisha termasuk anak yang suka mencari perhatian orang lain karena dia tidak suka apabila ada orang lain yang lebih diperhatikan daripada dia.

 

C.  Penyebab

Jika dilihat dari kepribadian dan tingkah laku Aisha termasuk anak yang jarang diperhatikan orang tuanya, karena selain kedua orang tuanya bekerja Aisha banyak di asuh oleh pembantu dan keluarganya,kurangnya perhatian orang tuanya membuat Aisha lebih banyak bermain dan beraktivitas tanpa adanya pengawasan selain itu Aisha kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya karena kesibukan yang bekerja dari pagi hingga malam.

 

D.  Diagnosis Kasus

Dari hasil observasi yang diperoleh bahwa kasus memiliki masalah hiperaktif, selama berada disekolah tidak bisa diam.sering berbicara walaupun bukan saatnya untuk berbicara. Saat kegiatan belajar sering kesana-kemari bahkan juga mengganggu temannya.

 

E.  Treatmen / Menangani satu anak

Ada beberapa treatmen dalam menangani anak yaitu :

a.         Menatap anak saat sedang berkomunikasi

b.        Menyingkirkan perlengkapan yang ada dimeja supaya perhatiaan anak tidak pecah.

c.         Sesekali menggunakan kontak fisik,seperti memgang bahu atau tmenepuk punggung anak untuk mengfokuskan perhatian.

d.        Memberikan pujian bila anak tenang

e.         Mengingatkan orang tuanya agar melatih anak melakukan kegiatan secara teratur / terjadwal saat waktu tertentu ( misalnya: tidur, mandi, belajar, makan, bermain, dll.

f.         Orang tua juga harus berperan aktif dalam penanganan anak dan lebih memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap anak tersebut.

 

Hasil Treatment dan layanan

Mengatasi anak yang hiperaktif tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan proses yang membutuhkan kesabaran, namun demikian dari serangkaian treatment atau bimbingan yang diberikan anak sudah menunjukkan suatu perubahan yang positif seperti berikut :

1.      Tidak lagi berjalan kesana kemari ketika didlam kelas atau pun didalam rumah

2.      Sudah jarang mengganggu teman – temannya

3.      Sudah mau menunggu giliran dengan temannya ketika melakukan suatu Permainan.

 

F.  Penanganan yang diberikan

Berikut ini adalah beberapa layanan yang kami berikan kepada anak dan bisa bagi semua orang tua atau guru dalam menangani anak hiperaktif:

1.      Ajarkan disiplin pada anak hiperaktif

Disiplin akan membuat anak bisa mengatur dirinya dengan baik. Melatih anak untuk disiplin bukanlah disiplin yang terlalu keras dan terlalu mengatur tapi di sini anak dilatih untuk mengatur dan membentuk lingkungan anak, yaitu dengan memberikan kebiasaan-kebiasaan rutin melalui latihan yang ditanamkan orang tua secara tekun di rumah. Sebagai contoh, mengatur waktu untuk bangun tidur, saat makan, saat membuat PR, menonton televisi, dan sebagainya. Disiplin digunakan kepada anak guna membangun kebiasaan hidup yang lebih tertib dan teratur.

2.      Jangan menghukum anak hiperaktif berlebihan

Perilaku menghukum anak bukanlah kebiasaan baik untuk orang tua dalam mendidik anak, karena dengan sikap yang cenderung untuk menghukum anak secara berlebihan, baik itu secara verbal maupun non-verbal akan mempengaruhi faktor psikologi anak. Contohnya, apabila anak mengotori kamarnya maka hukumlah dia dengan disuruh untuk menghapalkan sebuah cerita, yang jika anak tidak mau atau tidak bisa dia tidak boleh menonton acara kesayangannya selama seminggu.

3.      Jangan menganggap anak hiperaktif sebagai anak nakal, malas, atau bodoh

Pemberian label kepada anak sebagai anak nakal, malas atau bodoh juga bukanlah sikap yang baik dalam mendidik anak. Bila hal tersebut berlarut-larut dilakukan maka permasalahan yang dihadapi oleh anak akan sangat kompleks. Karena akhirnya anak akan bersikap seperti yang dilabelkan kepadanya.

4.      Memberi kasih sayang yang cukup.

Hal yang paling penting diperhatikan oleh orang tua yang mengalami permasalahan anak hiperaktif yaitu orang tua harus lebih memperhatikan dan memberikan kasih sayang tapi bukan berarti memanjakannya, orang tua harus memahami dan mengetahui semua kebutuhan anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan     

 Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaran guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya.

  Bimbingan dan konseling menjadi sarana mengatasi anak hiperaktif baik bimbingan konseling yang dilakukan di rumah maupun di sekolah. Selain itu perlu ada kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua dalam menangani anak yang hiperaktif. Kerjasama yang baik antara semua pihak dalam menangani anak hiperaktif akan sangat membantu dalam perbaikannya kedepan demi masa depan anak tersebut.

 

 B. Saran    

 Oleh karena itu, lebih baik memilihkan aktivitas yang memberi mereka kebebasan bergerak. Atau membuat diagnosis lengkap yang memerlukan penilaian dari seorang pakar yang berpengalaman dalam mengevaluasi beberapa hal yang bisa menimbulkan sikap yang tidak dapat memusatkan perhatian. Diagnosis dibuat dengan mempelajari corak tertentu tingkah laku anak-anak serta laporan tingkah laku mereka di rumah dan di sekolah dari ibu bapak dan guru sekolah. Kerapakali perawatan ADHD yang berhasil, melibatkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan bidang pengobatan, psikologi, social dan pendidikan.Untuk penanganan anak hiperaktif sebaiknya memiliki kelas khusus yang bisa menanganinya secara benar dan tepat seperti kelas Inklusi.


  


 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aisyah, sity, dkk. Perkembangan dan Konsep Dasar AUD, Jakarta; Universitas Terbuka,2009

Papalia E. Diane, Sally wendkos old, Ruth Duskin Feldman, Human Development ( Psikologi Perkembangan), Cet : Ke-1,  Jakarta; Kencana, 2008

Taylor Eric, Anak yang Hiperaktif, Jakarta; PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992

http://earlychildhoodeducation-fifi.blogspot.com/2011/01/bk-di-tk.html   

Suryadi, Drs,2007 Cara Efektif Memahami Perilaku Anak Usia Dini

Anonim. 08 April 2007, Membimbing anak Hiperaktif.

M. Sholikul Huda. Mengenal Anak Hiperaktif (Gangguan Hiperkinetik). Htttp///www.kaffa/web.id

 

 

Comments

Popular posts from this blog

SOAL ULANGAN MI FIKIH DAN AKIDAH AKHLAK KELAS 2 SAMPAI 6

MAKALAH SUKU BANJAR

MAKALAH SUKU TORAJA