MAKALAH OBSERVASI TUNADAKSA
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah SWT yang lagi maha pengasih lagi maha penyayang ,penyusun
panjatkan Puji syukur atas
kehadirat-Nya,yang telah melimpahkan rahmat hidayah, dan inayahnya kepada
kami,sehingga saya dapat menyelesaikan makalah OBSERVASI TERKAIT
DENGAN TUNA DAKSA dan pembahasannya, dapat terselesaikan pada
waktunya. Bahasan kali ini mengupas
mengenai “OBSERVASI DALAM PEMBELAJARAN TUNA DAKSA , yang tentunya dalam makalah ini lebih dikerucutkan mengenai Anak-anak
penyandang tuna daksa .
Adapun makalah
ini telah diusahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak
lupa berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan
makalah ini.
Tentunya penyusun memohon maaf apabila dalam penyusunan
makalah ini terdapat kekurangan, untuk itu saya sangat terbuka terhadap berbagai kritikan sebagai bentuk penyempurna
makalah ini. Semoga kedepan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan ajar.
Kotabaru, Desember 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Persepsi
masyarakat awam tentang anak berkelainan fungsi anggota tubuh (anak tunadaksa)
sebagai salah satu jenis anak berkelainan dalam konteks Pendidikan Luar Biasa
(Pendidikan Khusus) masih dipermasalahkan. Munculnya permasalahan
tersebutterkait dengan asumsi bahwa anak tunadaksa (kehialangan salah satu atau
lebih fungsianggota tubuh) pada kenyataannya banyak yang tidak mengalami
kesulitan untuk menititugas perkembangannya, tanpa harus masuk sekolah khusus
untuk anak tunadaksa(khususnya tunadaksa ringan).
Kegiatan
observasi ini merupakan kegiatan pembelajaran mata kuliah pendidikan inklusi di
jurusan pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Kegiatan observasi ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengenal secara langsung
anak-anak yang berkebutuhan khusus, terutama anak yang mengalami tuna daksa.
Dengan mata kuliah ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa sebagai calon
guru dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif di berbagai daerah di
Indonesia.
Anak
berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayan yang
spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Mengalami hambatan dalam belajar
dan perkembangan sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhan belajar masing-masing anak.
Orang-orang yang
berkrbutuhan khusus sering diolok-olok dan dikucilkan. Padahal mereka juga
memiliki hak yang sama dengan orang-orang nornal pada umumnya. Mereka juga
mempunyai hak untuk menuntut ilmu, akan tetapi mereka tidak bisa sekolah di
sekolah umum, melainkan di sekolah khusus untuk orang-orang yang
berkrbutuhan khusus (SLB). Penelitian ini akan memberikan manfaat
bagi kita agar selelu bersyukur, karena Tuhan menciptakan kita dengan
kesempurnaan. Bukan hanya itu, kita juga hars bisa menghargai mereka dengan
tidak mengucilkan atau mengolok-oloknya.
1.2 Rumusan Masalah
Yang menjadi pokok permasalahan dalam
penelitian ini adalah:
1. Apa pengertian tuna daksa?
2. Bagaimana karakteristik anak tuna daksa?
3. Apa peran sekolah, dan keluarga terhadap
anak tuna daksa?
4. Apa peran lingkungan terhadap anak tuna
daksa?
5. Bagaimana sistem pembelajaran yang digunakan
untuk anak yang berkebutuhan khusus?
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Definisi Anak Berkebutuhan Khusus ( Tuna daksa)
Secara
etiologis, gambaran seseorang yang diidentifikasi mengalami ketunadaksaan,
yaitu seseorang yang mengalami kesulitan mengoptimalkan fungsi anggota tubuh
sebagai akibat dari luka, penyakit, pertumbuhan yang salah bentuk, dan
akibatnya kemapuan untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh tertentu mengalami
penurunan. Menyimak keadaan fisik yang tampak pada anak tunadaksa ortopedi dan
tunadaksa saraf tidak terdapat perbedaaan yang mencolok, sebab secara fisik
kedua jenis anak tunadaksa memiliki kesamaan, terutama pada fungsionalisasi anggota
tubuh namun, apabila dicermati secara seksama untuk memanfaatkan fungsi
tubuhnya akan tampak perbedaan.
B. Definisi Tuna daksa menurut para ahli
· Didalam
Wikipedia, pengertian Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak
yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat
bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio,
dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki
keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan
melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami
gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam
gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
· Secara
definitif, pengertian kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa) adalah
ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh
berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi secara normal
akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan yang tidak sempurna sehingga untuk
kepentingan pembelajarannya perlu layanan secara khusus (Suroyo&Kneedler
dalam Efendi, 2006).
BAB III
PEMBAHASAN
A. Tempat Observasi
Dari observasi kami tanggal 22 Desember
2018 di Desa Gedambaan.
B. Identitas Siswa
Nama :
Supardi
Umur :
3 tahun
TTL :
Kotabaru, 11 Maret 2015
Nama anggota keluarga :
Ibu : Heni
Susanti
Ayah :
Jamaludin
Alamat : Jl.
Berangas km. 7 RT. 01 Desa Sarang Tiung Kab. Kotabaru
C. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang dijadiakn
subjek penelitian adalah warga yang mengalami cacat fisik (Tuna Daksa) di Desa
Sarang Tiung Kabupaten Kotabaru.
D. Hasil Observasi
Berdasarkan hasil observasi yang telah
kami lakukan pada warga yang mengalami cacat fisik (Tuna Daksa) di Desa Sarang
Tiung tersebut terdapat satu orang yang mengalami gangguan cacat fisik. Kondisi
tubuh Supardi lengkap namun syaraf-syaraf ditubuh terganggu sehingga menghambat
pergerakan angga maka dari itu untuk bergerak harus menggunakan kursi roda.
Metode yang digunakan adalah metode ceramah yang dipadukan alat peraga agar
lebih mudah dalam penyampaiannya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diadapat dari laporan
hasil observasi anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan fisik atau
tuna daksa disekolah khusus Samantha antara lain: anak dengan gangguan fisik
atau tuna daksa adalah anak yang mengalami gangguan syaraf-syaraf sedemikian
rupa, sehingga membutuhkan layanan khusus dalam pendidikan maupun kehidupannya.
1. Tunadaksa Saraf (neurologically
handicapped)
Anak tunadaksa saraf yaitu anak tunadaksa yang mengalami kelainan akibat
gangguan pada susunan saraf di otak. Otak sebagai pengontrol tubuh memiliki
sejumlah saraf yang menjadi pengendali mekanisme tubuh sehingga jika otak
mengalami kelainan, sesuatu akan terjadi pada organisme fisik, emosi, dan
mental.
2. cerebral palsy menurut derajat
kecacatannya diklasifikasikan menjadi :
· Ringan
Ciri-cirinya yaitu dapat berjalan tanpa alat bantu, bicara jelas, dan
dapat menolong diri sendiri.
· Sedang
Ciri-cirinya Membutuhkan bantuan untuk latihan bicara, berjalan, dan
mengurus diri.
· Berat
Ciri-cirinya membutuhkan perawatan tetap dalam ambulansi, bicara, dan
menolong diri.
3. Hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan otak bayi
pada saat bayi dilahirkan antra lain :
· Kesulitan persalinan karena letak
bayi sungsang atau pinggung ibu terlalu kecil.
· Pendarahan pada otak pada saat
kelahiran.
· Kelahiran prematur.
DAFTAR PUSTAKA
https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/tuna-daksa-dan-layanan-pendidikannya/
https://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus
http://erniekawati-k5113021-plbuns13.blogspot.co.id/2013/11/pengertian-tuna-daksa_15.html
http://phipitk5110029.blogspot.co.id/2010/12/apa-itu-tuna-daksa_05.html
LAMPIRAN

FOTO : Anak Tunadaksa
Comments
Post a Comment