MAKALAH PERKEMBANGAN PERADABAN MASA BANI UMAYYAH
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadhirat
Allah SWT atas segala Rahmat, Taufiq serta Hidayah-Nya, sehingga tersusun
makalah yang sederhana ini. Sholawat serta salam semoga tetap
tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW semoga kita semua termasuk
umat yang kelak akan mendapatkan syafa’atul udzmah-Nya.
Dalam penyusunan makalah ini kami memberi judul “Perkembangan Peradaban Masa
Bani Umayyah”. Harapan kami dengan sedikit sumbangsih ini dapat
memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada penyusun maupun kepada para pembaca.
Mudah-mudahan makalah yang singkat dan sederhana ini dapat mendorong
kami untuk lebih giat belajar serta menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya.
Dalam penyusunan makalah ini kami telah berusaha dengan
segenap kemampuan tetapi kami juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan
dalam makalah ini. Karena terbatasnya pengetahuan, maka dari itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan
bagi pembaca yang budiman, semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat,
Taufiq, Hidayah, dan Inayah-Nya kepada kita semua. Amin Ya Robbal‘Alamin……
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………… ii
BAB I PEDAHULUAN
Latar Belakang ………………………………………………………………..
1
Rumusan Masalah ………………………………………………………………. 1
Tujuan …………………………………………………………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN
Sejarah berdirinya Bani Umayyah .……………………………………………… 2
Para Khalifah Bani Umayyah …………….……………………………………… 3
Masa Kejayaan Dinasti bani Umayyah ……………………………………………… 5
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ………………………………………………………………………. 8
Saran ……………………………………………………………………………… 8
Kata Penutup …………………………………………………………………………… 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberhasilan Muawiyah
mencapai ambisi mendirikan kekuasaan Dinasti Umayyah disebabkan di dalam diri
Muawiyah terkumpul sifat-sifat penguasa, politikus dan adiministrator. Ia
pandai bergaul dengan berbagai temperamen manusia, sehingga ia dapat
mengakumulasikan berbagai kecakapan tokoh-tokoh pendukungnya, bahkan bekas
lawan politiknya sekalipun.
Berdirinya pemerintahan
Dinasti Umayyah tidak semata-mata peralihan kekuasaan, namun peristiwa tersebut
mengandung banyak implikasi, diantaranya adalah perubahan beberapa prinsip dan
berkembangnya corak baru yang sangat mempengaruhi imperium dan perkembangan
umat Islam.
Memasuki masa kekuasaan
Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat
demokaratis berubah menjadi monarchi heridetis (kerajaan turun temurun).
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah sejarah
berdirinya Dinasti Umayyah?
2. Siapa sajakah Khalifah
Dinasti Umayyah?
3. Bagaimanakah masa kemajuan
Dinasti Umayyah?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisannya adalah sebagai
berikut:
1. Agar mengetahui sejarah
berdirinya Dinasti Umayyah.
2. Agar mengetahui para
Khalifah Dinasti Umayyah.
3. Agar mengetahui masa
kemajuan Dinasti Umayyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Berdirinya Dinasti
Umayyah
Nama Dinasti Umayyah
dinisbatkan kepada Umayyah bin Abdi Syam bin Abdu Manaf. Ia adalah salah
seorang tokoh penting ditengah Quraisy pada masa jahiliah. Ia dan pamannya
Hasyim bin Abdu Manaf selalu bertarung dalam memperebutkan kekuasaan dan
kedudukan.
Dinasti Umayyah didirikan
oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Muawiyah disamping sebagai pendiri
daulah Bani Umayyah juga sekaligus menjadi Khalifah pertama. Ia memindahkan ibu
kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus.
Muawiyah dipandang sebagai
pembangun dinasti yang oleh sebagian besar sejarawan awalnya dipandang negatif.
Keberhasilannya memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalam perang saudara di
Siffin dicapai melalui cara yang curang. Lebih dari itu, Muawiyah juga dituduh
sebagai pengkhianat prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan Islam, karena
dialah yang mula-mula mengubah pimpinan negara dari seorang yang dipilih oleh
rakyat menjadi kekuasaan raja yang diwariskan turun-temurun (monarchy
heredity).
Diatas segala-galanya jika
dilihat dari sikap dan prestasi politiknya yang menajubkan, sesungguhnya
Muawiyah adalah seorang pribadi yang sempurna dan pimpinan besar yang berbakat.
Di dalam dirinya terkumpul sifat-sifat seorang penguasa, politikus, dan
administrator.
Muawiyah berhasil
mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya dikarenakan kemenangan diplomasi di
Siffin dan terbunuhnya Khalifah Ali. Melainkan sejak semula gubernur Suriah itu
memiliki “basis rasional” yang solid bagi landasan pembangunan politiknya
dimasa depan. Pertama, adalah berupa dukungan yang kuat dari rakyat
Suriah dan dari keluarga Bani Umayyah sendiri. Penduduk Suriah yang lama
diperintah oleh Muawiyah mempunyai mempunyai pasukan yang kokoh, terlatih, dan
disiplin di garis depan dalam peperangan melawan Romawi. Mereka
Bersama-sama dengan bangsawan kaya Mekah dari keturunan Umayyah berada
sepenuhnya di belakang Muawiyah dan memasoknya dengan sumber-sumber kekuatan
yang tidak ada habisnya, baik moral, tenaga manusia, maupun kekayaan. Negeri
Suriah sendiri terkenal makmur dan menyimpan sumber alam yang berlimpah.
Ditambah lagi bumi Mesir yang berhasil dirampas, maka sumber-sumber kemakmuran
dan suplai bertambah bagi Muawiyah.
Kedua, sebagai seorang
administrator, Muawiyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembantunya
pada jabatan-jabatan penting. Tiga orang patutlah mendapat perhatian khusus,
yaitu ‘Amr bin Ash, Mugirah bin Syu’bah dan Ziyad bin Abihi. Ketiga pembantu
Muawiyah merupakan politikus yang sangatmengagumkan dikalangan muslim Arab.
Akses mereka sangat kuat dalam membina perpolitikan Muawiyah.
Ketiga, Muawiyah memiliki kemampuan
menonjol sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat “hilm”, sifat
tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar Mekah zaman dahulu. Seorang
manusia hilm seperti Muawiyah dapat menguasai diri secara
mutlak dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan meskipun ada tekanan
dan intimidasi.
Gambaran dari sifat mulia
tersebut dalam diri Muawiyah setidak-tidaknya tampak dalam keputusannya yang
berani memaklumkan jabatan Khalifah secara turun-temurun. Situasi ketika
Muawiyah naik ke kursi kekhalifahan mengundang banyak kesulitan. Anarkisme
tidak dapat lagi dikendalikan oleh ikatan agama dan moral, sehingga hilanglah
persatuan umat. Persekutuan yang dijalin secara efektif melalui dasar keagamaan
sejak Khalifah Abu Bakar tidak dapat dielakkan dirusak oleh peristiwa
pembunuhan atas diri Khalifah Utsman dan perang saudara sesama muslim di masa
pemerintahan Ali.
Dengan menegakkan wibawa
pemerintahan serta menjamin integritas kekuasaan di masa-masa yang akan datang,
Muawiyah dengan tegas menyelenggarakan suksesi yang damai, dengan pembantaian
putranya, Yazid, beberapa tahun sebelum Khalifah meninggal dunia.
B. Para Khalifah Dinasti
Umayyah
Masa kekuasaan Dinasti
Umayyah hampir satu Abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang Khalifah.
Diantara mereka ada pemimpin-pemimpin besar yang berjasa diberbagai bidang
sesuai dengan kehendak zamannya, ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah.
Adapun urutan Khalifah Umayyah adalah sebagai berikut:
1. Mu’awiyah 41-60 H
Mu’awiyah dilahirkan
kira-kira 15 tahun sebelum Hijrah. Masa pemerintahan Mu’awiyah adalah yang
paling cemerlang diantara masa-masa Khalifah seluruhnya, dimana keamanan dalam
negeri begitu baiknya, dan segala anasir-anasir yang bersikap permusuhan
terhadap Mu’awiyah telah dapat dibasmi, berkat moral Mu’awiyah yang tinggi,
ataupun karena hadiah-hadiah, dan pedangnya yang tajam. Masa pemerintahannya
adalah masa kemakmuran dan kekayaan yang berlimpah-limpah. Begitu pula dengan
hubungan luar negeri, kaum muslimin telah mencapai kemenangan yang gemilang.
2. Yazid 60-64 H
Namanya Yazid ibnu
Mu’awiyah. Masa pemerintahannya hanya berlangsung kira-kira tiga tahun saja. Ia
meninggal dalam usia muda. Ia tidak sempat merasakan kenikmatan sebagai
Khali-fali barang seharipun. Begitu ia naik takhta, dihadapannya telah
berkecamuk bermacam-macam peristiwa yang merupakan penyakit-penyakit berat bagi
negaranya. Ia mulai mengobati penyakit-penyakit itu. Tetapi celakanya, obat
yang dipakainya itu malah lebih berbahaya daripada penyakit-penyakit itu
sendiri.
3. Mu’awiyah II 64 H
Mu’awiyah II ialah seorang
pemuda yang lemah. Masa jabatannya tidak lebih dari 40 hari. Kemudian ia
mengundurkan diri karena sakit. Dan selanjutnya ia mengurung dirinya di rumah,
sampai ia meninggal 3 bulan kemudian.
4. Marwan Ibnul Hakam 64-65 H
Marwan adalah seorang yang
bijaksana, berpikir tajam, fasih berbicara, dan berani. Ia ahli dalam pembacaan
Al Qur’an. Dan banyak meriwayatkan hadis-hadis dari dari para sahabat
Rasulullah yang terkemuka, terutama dari Umar Ibnul Khattab dan Usman Ibnu
‘Affan. Ia juga telah berjasa dalam menerbitkan alat-alat takaran dan
timbangan.
5. Abdul Malik Ibnu Marwan
65-68 H
Abdul Malik ini dipandang
sebagai pendiri yang kedua bagi Daulah Umawiyah. Ketika diangkat menjadi
Khalifah, Alam Islami sedang berada dalam keadaan terpecah belah. Ibnu Zubair
di Hijaz telah memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah. Kaum syi’ah mengadakan
pemberontakan. Dan kaum Khawarij membangkang pula. Abdul malik telah berhasil
mengembalikan seluruh wilayah taat kepada kekuasaannya.
6. Al Walid Ibnu Abdil Malik
89-96 H
Al Walid dilahirkan pada
tahun 50 H. Ia mempelajari Kebudayaan Islam. Masa pemerintahan Al Walid pada
umumnya dapat disebut masa kemakmuran, keamanan dan ketenteraman. Dengan adanya
kekayaan dan kesatuan yang bulat, terutama karena keteguhaniman Al Walid, maka
alam Islami dapat bertambah luas sampai meliputi Andalusia dibarat, dan Sind di
timur, dan daerah-daerah lainnya.
7. Sulaiman Ibnu ‘Abdil Malk
92-99 H
Sulaiman ibnu Abdil Malik
dilahirkan pada tahun 54 H. Ia dilantik menjadi Khalifah setelah Al Walid
meninggal. Sulaiman adalah salah seorang dari Khalifah-khalifah Bani Umaiyah
yang terbaik. Ia berbicara fasih dan lancar, sangat mengutamakan keadilan, dan
suka pergi berperang. Ia telah memulai masa pemerintahannya dengan
menggerakkan rakyat untuk beramai-ramai melaksanakan sembahyang pada waktunya.
Dan diakhir masa pemerintahannya itu dengan menunjuk Umar ibnu Abdil Aziz
menjadi Khalifah sesudahnya.
8. Umar Ibnu Abdil Aziz 99-101
H
Umar ibnu Abdil Aziz
dilahirkan di kota Hulwan. Masa pemerintahannya sangat pendek, namun ia
menampakkan suatu masa yang berdiri sendiri, mempunyai ciri-ciri sendiri dan
mengandung falsafah Islam yang murni, yang tidak terpengaruh oleh aliran-aliran
dan peraturan-peraturan Bani Umaiyah yang disesali orang.
9. Yazid Ibnu Abdil Malik
101-105 H
Peristiwa-peristiwa penting
yang terjadi pada masa pemerintahan Yazid antara lain ialah pemberontakan yang
dilakukan oleh Yazid ibnul Muhallab. Antara Yazid ibnul Muhallab dan Yazid ibnu
Abdil Malik ada permusuhan yang tajam. Yazid ibnul Muhallab berpihak kepada
Sulaiman ibnu Abdil Malik dalam menjatuhkan dan menyiksa keluarga Al-Hajjaj.
Sedangkan Yazid ibnu Abdil Malik mempunyai hubungan kekeluargaan dengan
keluarga Al Hajjaj.
10. Hisyam Ibnu Abdil Malik 105-125
Dimasa pemerintahan
Khalifah Hisyam, Daulah Umawiyah telah menjurus kejurang kelemahannya, karena
timbulnya faham kesukuan antara bangsa Arab Utara dan Arab Selatan, lebih-lebih
di Khurasan. Didaerah-daerah lainpun timbul pula pemberontakan-pemberontakan
yang disebabkan rasa kesukuan dan tindak tanduk yang tidak bijak dari para
gubernur. Dan boleh jadi pekerti Hisyam sendiri yang begitu ingin menjaga
harta, dan amat teliti mengeluarkan uang, serta sifat lunak dan
penyantunnya itu, juga merupakan suatu faktor yang turut membantu
berlangsungnya kegoncangan dan pemberontakan itu terus-menerus.
11. Al Walid Ibnu Yazid 125-125 H
Al-Walid dilahirkan pada
tahun 90 H. Al Walid moralnya tidak begitu tinggi, dia mempunyai sifat
kegila-gilaan yaitu sifat yang diwarisinya dari ayahnya. Meskipun ia banyak
menunjukkan perangai yang negatif tetapi didalam pemerintahannya ia juga
mempunyai sumbangan tidak yang kecil artinya kepada pemerintahan yang
dikendalikannya.
12. Yazid Ibnul Walid 126 H
Masa pemerintahannya penuh
dengan kerusuhan-kerusuhan dan pemberontakan yang timbul dimana-mana. Ia
meninggal dunia setelah memangku jabatan Khalifah dalam masa beberapa bulan
itu.
13. Ibrahim Ibnul Walid 126 H
Ibrahim merupakan Khalifah
yang ke 13 keluarga Bani Umayyah. Tetapi kedudukannya sebagai Khalifah tidak
disepakati kaum muslimin. Ia tidak mendapat bai’ah dari segenap lapisan rakyat.
Sebab itu sebagian rakyat memanggilnya “Khalifah”, dan yang lain memanggilnya
“Amir”. Karena keangkatannya menjadi Khalifah tidak diangkat secara bulat, maka
begitu di bai’ah ia harus menghadapi berbagai macam problem. Terutama
pemberontakan Marwan ibnu Muhammad.
14. Marwan Ibnu Muhammad 127-132 H
Marwan menduduki
kursi Khalifah bukanlah berdasarkan bai’ah yang diberikan oleh rakyat kepadanya
sebelum itu, tetapi hanyalah semata-mata dengan ketajaman mata pedangnya. Sebab
itu ia barulah mendapatkan bai’ah yang sempurna setelah melalui suatu masa yang
penuh dengan perjuangan. Setelah mendapat bai’ah, pemberontakan-pemberontakan
terhadapnya terus saja berkobar. Pemberontakan-pemberontakan yang dicetuskan
oleh golongan Khawarij dan oleh rakyat di Hejaz. Sedangkan golongan Syi’ah juga
memperhebat perjuangan mereka di daerah Khurasan.
C. Masa Kemajuan Dinasti
Umayyah
Masa pemerintahan Bani
Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada
usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua
khulafaur rasyidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa
di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam, yang
meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria,
Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan
negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgiztan
yang termasuk Soviet Rusia.
Bani Umayyah juga banyak
berjasa dalam pembangunan berbagai bidang baik politik (tata pemerintahan)
maupun sosial kebudayaan. Dalam bidang politik, Bani Umayyah menyusun tata
pemerintahan yang sama sekali baru, untuk memenuhi tuntutan perkembangan
wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain mengangkat
Majelis Penasihat sebagai pendamping, khalifah Bani Umayyah dibantu oleh
beberapa orang sekretaris untuk membantu pelaksanaan tugas, yang meliputi:
1. Katib Ar-Rasail, sekretaris yang bertugas
menyelenggarakan administrasi dan surat-menyurat dengan para pembesar setempat.
2. Katib Al-Kharraj, sekretaris yang bertugas
menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
3. Katib Al-Jundi, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan
berbagai hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
4. Katib Asy-Syurtah, sekretaris yang bertugas
menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
5. Katib Al-Qudat, sekretaris yang bertugas
menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.
Dalam bidang sosial budaya,
Bani Umayyah telah membuka terjadinya kontak antar bangsa-bangsa muslim (Arab)
dengan negeri-negeri taklukan yang terkenal memiliki tradisi yang luhur seperti
Persia, Mesir, Eropa, dan sebagainya. Hubungan tersebut lalu melahirkan
kreativitas baru yang menajubkan di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Di bidang
seni, terutama seni bangunan (arsitektur), Bani Umayyah mencatat suatu
pencapaian yang gemilang, seperti Dome of the Rock (Qubah Ash-Shakhara) di
Yerusalem menjadi monumen terbaik yang hingga kini tak henti-hentinya dikagumi
orang. Perhatian terhadap seni sastra juga meningkat di zaman ini, terbukti
dengan lahirnya tokoh-tokoh besar sepertiAl-Ahtal, Farazdag, Jurair, dan lain-lain.
Dinasti Umayyah meneruskan
tradisi kemajuan dalam berbagai bidang yang telah dilakukan masa kekuasaan
sebelumnya, yaitu masa kekuasaan khulafaur rasyidin. Dalam bidang peradaban
Dinasti Umayyah telah menemukan jalan yang lebih luas ke arah pengembangan dan
perluasan berbagai bidang ilmu pengetahuan, dengan bahasa Arab sebagai media
utamanya.
Menurut Jurji Zaidan
(George Zaidan) beberapa kemajuan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan
antara lain sebagai berikut:
1. Pengembangan bahasa Arab
Para
penguasa Dinasti Umayyah telah menjadikan Islam sebagai daulah (negara),
kemudian dikuatkannya dan dikembangkanlah bahasa Arab dalam wilayah kerajaan
Islam. Upaya tersebut dilakukan dengan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa
resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan sebagai pembukuan dan
surat-menyurat harus menggunakan bahasa Arab, yang sebelumnya menggunakan
bahasa Romawi atau bahasa Persia di daerah-daerah bekas jajahan mereka dan di
Persia sendiri.
2. Marbad kota pusat kegiatan
ilmu
Dinasti
Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan ilmu
pengetahuan dan kebudayaa. Pusat kegiatan ilmu dan kebudayaan itu dinamakan
Marbad, kota satelit dari Damaskus. Di kota Marbad inilah berkumpul para
pujangga, filsuf, ulama, penyair, dan cendekiawan lainnya.
3. Ilmu Qiraat
Ilmu
qiraat adalah ilmu seni baca Al Qur’an. Ilmu qiraat merupakan ilmu syariat
tertua, yang telah dibina sejak zama Khulafaur rasyidin. Kemudian masa Dinasti
Umayyah dikembangluaskan sehingga menjadi cabang ilmu syariat yang sanagt
penting.
4. Ilmu Tafsir
Untuk
memahami Al-Qur’an sebagai kitab suci diperlukan interpretasi pemahaman secara
komprehensif.
5. Ilmu Hadis
Ketika
kaum muslim telah berusaha memahami Al-Qur’an, ternyata ada satu hal yang juga
sangat mereka butuhkan, yaitu ucapan-ucapan Nabi yang disebut hadis. Oleh
karena itu timbullah usaha untuk mengumpulkan Hadis, menyelidiki asal usulnya,
sehingga akhirnya menjadi satu ilmu yang berdiri sendiri yang dinamakan ilmu
hadis.
6. Ilmu Fiqh
Setelah
Islam menjadi daulah, maka para penguasa sangat membutuhkan adanya
peraturan-peraturan untuk menjadi pedoman dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Mereka kembali kepada Al-Qur’an dan hadis dan mengeluarkan syariat dari kedua
sumber tersebut untuk mengatur pemerintah dan memimpin rakyat. Al-Qur’an adalah
dasar fiqh Islam, dan pada zaman ini ilmu fiqh telah menjadi satu cabang ilmu
syariat yang berdiri sendiri.
7. Ilmu Nahwu
Pada
masa Dinasti Umayyah karena wilayahnya berkembang sangat luas, khususnya ke
wilayah di luar Arab, maka ilmu nahwu sangat diperlukan. Hal tersebut
disebabkan pula bertambahnya orang-orang Ajam yang masuk Islam, sehingga
keberadaan bahasa Arab sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, dibukukanlah ilmu
nahwu dan berkembanglah satu cabang ilmu yang penting untuk mempelajari
berbagai ilmu agama Islam.
8. Ilmu Jughrafi dan Tarikh
Ilmu
jughrafi (ilmu bumi atau geografi) dan ilmu tarikh (ilmu sejarah) lahir pada
masa Dinasti Umayyah, barulah berkembang menjadi suatu ilmu yang benar-benar
berdiri sendiri pada masa ini.
9. Usaha penerjemahan
Untuk
kepentingan pembinaan dakwah islamiyah, pada masa Dinasti Umayyah dimulai pula
penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa lain ke dalam bahasa
Arab.
Demikianlah berbagai kemajuan ilmu pengetahuan pada masa
Dinasti Umayyah yang telah berkembang pesat sebagai embrio perkembangan ilmu
pengetahuan pada zaman Dinasti Abbasiyah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dinasti Umayyah didirikan
oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Muawiyah disamping sebagai pendiri
daulah Bani Umayyah juga sekaligus menjadi Khalifah pertama. Ia memindahkan ibu
kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus. Memasuki masa kekuasaan
Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat
demokaratis berubah menjadi monarchi heridetis (kerajaan turun temurun).
Masa kekuasaan Dinasti
Umayyah hampir satu Abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang Khalifah.
Namun para sejarawan umumnya sependapat bahwa para Khalifah terbesar dari
daulah Bani Umayyah ialah Muawiyah, Abdul Malik, dan Umar ibnu Abdil Aziz.
Masa pemerintahan Bani
Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada
usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua
khulafaur rasyidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa
di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam.
B. Saran
Demikian yang dapat kami
paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini.
Untuk mengetahui lebih dalam ada baiknya mahasiswa lebih banyak membaca
buku-buku yang terkait dengan makalah ini.
C. Kata Penutup
Demikian makalah ini kami
susun. Terima kasih atas antusias dari pembaca yang mau menelaah dan mengimplementasikan
isi makalah ini. Dengan kerendahan hati saran dan kritik tetap kami harapkan
sebagai bahan perbaikan. Sekian.
Comments
Post a Comment