MAKALAH PERSEBARAN BUDAYA BUGIS DI SULAWESI

 

BAB I

 

1.      KATA PENGANTAR

 

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang suku bugis dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah Multikultural “Kebudayaan Suku Bugis Makassar” ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

2.      LATAR BELAKANG

Keragaman etnis dan budaya memiliki potensi besar dalam membangun bangsa ini, termasuk dalam pembangunan dan pengembangan pendidikan. Keragaman budaya yang tumbuh dan berkembang pada setiap etnis seharusnya diakui eksistensinya dan sekaligus dapat dijadikan landasan dalam pembangunan pendidikan. Tilaar  mengemukakan bahwa pendidikan nasional di dalam era reformasi perlu dirumuskan suatu visi pendidikan yang baru yaitu membangun manusia dan masyarakat madani Indonesia yang mempunyai identitas berdasarkan kebudayaan nasional. Sedang kebudayaan nasional sendiri dibangun dari kebudayaan daerah yang tumbuh dan berkembang di setiap etnis. Dalam kaitannya dengan upaya pembaharuan pendidikan dan keragaman budaya, maka faktor sosial budaya tidak dapat diabaikan. Sistem pendidikan yang digunakan di negara maju, seyogyanya tidak diciplak secara menyeluruh tanpa memperhatikan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Sistem pendidikan suatu negara harus sesuai dengan falsafah dan budaya bangsa sendiri. Indonesia dengankeanekaragaman budayanya, perlu melakukan kajian tersendiri terhadap sistem pendidikan yang akandigunakan, termasuk sistem pendidikan yang akan digunakan di setiap daerah dan setiap etnis, sehinggasistem yang dipakai sesuai dengan kondisi budaya masyarakat setempat.

Oleh karena itu, perlu ada upaya bagaimana memperhatikan dan mengungkapkan keterlibatan faktor budaya dalam interaksi tersebut agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.Siri’ sebagai inti budaya Bugis-Makassar memiliki potensi untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, sebab siri’ merupakan pandangan hidup yang bertujuan untuk meningkatkan harkat,martabat dan harga diri, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

Etnis Bugis dan etnis Makassar adalah dua diantara empat etnis besar yang berada di Sulawesi Selatan. Pada hakekatnya kebudayaan dan pandangan hidup orang Bugis padaumumnya sama dan serasi dengan kebudayaan dan pandangan hidup orang Makassar. Oleh karena itu membahas tentang budaya  Bugis sulit dilepaskan dengan pembahasan tentang budaya Makassar. Hal ini sejalan dengan pandangan Abdullah yang mengatakan bahwa dalam sistem keluarga atau dalam kekerabatan kehidupan manusia Bugis dan manusia Makassar, dapat dikatakan hampir tidak terdapat perbedaan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kedua kelompok suku bangsa ini (suku Bugis dan suku Makassar) pada hakekatnya merupakan suatu unit budaya. Sebab itu, apa yang berlaku dalam duniamanusia Bugis, berlaku pula pada manusia Makassar.

3.      RUMUSAN MASALAH

·         Bagaimana Iklim dan kondisi geografis suku Bugis?

·         Bagaimana adat dan kebudayaan suku Bugis?

 

4.   TUJUAN PENULISAN

·         Mengetahui Kebudayaan Bugis

·         Mengetahui wisata dan Potensi wisata suku bugis

 

5.      MANFAAT PENULISAN

Agar masyarakat mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan dan segala yang berhubungan dengan suku bugis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    LETAK WILAYAH

Sulawesi, dahulu dikenal sebagai Celebes (/ˈsɛlᵻbiːz/ atau /sᵻˈliːbiːz/), adalah sebuah pulau di Indonesia. Sulawesi merupakan salah satu dari empat Kepulauan Sunda Besar, dan merupakan pulau terbesar kesebelas di dunia, yang terletak di sebelah timur Kalimantan, sebelah barat Kepulauan Maluku, dan sebelah selatan Mindanao dan Kepulauan SuluFilipina. Di Indonesia, hanya Pulau SumateraKalimantan dan Papua yang lebih besar luas wilayahnya, dan hanya Pulau Jawa dan Sumatera yang memiliki populasi lebih banyak dari Sulawesi.

Bentang alam di Sulawesi mencakup empat semenanjung: Semenanjung Minahasa di bagian utara; Semenanjung TimurSemenanjung Selatan; dan Semenanjung Tenggara. Ada tiga teluk yang memisahkan semenanjung-semenanjung ini: yaitu Teluk Tomini di antara Semenanjung Minahasa dan Timur; Teluk Tolo di antara Semenanjung Timur dan Tenggara; dan Teluk Bone di antara Semenanjung Selatan dan Tenggara. Selat Makassar membentang di sepanjang sisi barat pulau dan memisahkan pulau ini dari Kalimantan.

Sulawesi adalah pulau terbesar kesebelas di dunia, meliputi area seluas 174600 km2 (67413 sq mi). Bagian tengah pulau ini bergunung-gunung dengan permukaan kasar, sehingga semenanjung di Sulawesi pada dasarnya jauh satu sama lain, yang lebih mudah dijangkau melalui laut daripada melalui jalan darat. Ada tiga teluk yang membagi semenanjung-semenanjung di Sulawesi, dari utara ke selatan, yaitu Teluk TominiTolo dan Bone. Ketiganya memisahkan Semenanjung Minahasa atau Semenanjung UtaraSemenanjung TimurSemenanjung Tenggara dan Semenanjung Selatan.

Selat Makassar membentang di sepanjang sisi barat pulau ini.[5] Sulawesi dikelilingi oleh Kalimantan di sebelah barat, oleh Filipina di sebelah utara, oleh Maluku di timur, serta oleh Flores dan Timor di selatan.

Kepulauan Selayar membentuk semenanjung yang membentang ke selatan dari bagian barat daya Sulawesi hingga ke Laut Flores, dan secara administratif merupakan bagian dari Sulawesi Selatan. Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud membentang ke utara dari ujung timur laut Sulawesi, sementara Pulau Buton dan pulau-pulau tetangganya berbatasan dengan semenanjung tenggara. Kepulauan Togean berada di tengah Teluk Tomini, dan Pulau Peleng serta Kepulauan Banggai membentuk sebuah gugusan pulau antara Sulawesi dan Maluku. Semua pulau yang disebutkan di atas, dan pulau-pulau yang lebih kecil secara administratif, merupakan bagian dari enam provinsi di Sulawesi.

Pulau ini terbentuk melalui lekukan tepi laut dalam yang mengelilinginya hingga wilayah pedalaman berupa pegunungan yang tinggi, dan sebagian besar non-vulkanik. Gunung berapi aktif ditemukan di Semenanjung Minahasa yang berada di utara Sulawesi, dan terus membentang ke utara menuju Kepulauan Sangihe. Semenanjung utara Sulawesi merupakan tempat bagi beberapa gunung berapi aktif seperti Gunung LokonGunung AwuSoputan dan Karangetang.

Menurut rekonstruksi lempeng, pulau ini diyakini terbentuk melalui proses tumbukan terran antara Lempeng Asia (yang membentuk semenanjung barat dan barat daya) dan Lempeng Australia (yang membentuk semenanjung tenggara dan Banggai), dengan busur kepulauan yang sebelumnya berada di Samudera Pasifik (dan membentuk semenanjung utara dan timur). Karena ketidakstabilan riwayat tektoniknya, berbagai sesar terbentuk dan akibatnya pulau ini menjadi rawan gempa bumi.

Sulawesi, berbeda dengan sebagian besar pulau lainnya di wilayah biogeografis Wallacea, tidak sepenuhnya memiliki sifat samudera, namun merupakan pulau komposit di pusat zona tabrakan Asia-Australia. Bagian dari pulau ini sebelumnya menyatu, entah pada batas benua Asia atau Australia sebelum akhirnya terpisah dari benua asalnya melalui proses vikarian.[7] Di sebelah barat, pembukaan Selat Makassar memisahkan Sulawesi Barat dari Sundaland pada zaman Eosen sekitar 45 juta tahun yang lalu.[7] Di sebelah timur, pandangan awam tentang tumbukan yang melibatkan beberapa fragmen mikro-benua yang terpisah dari Pulau Nugini dengan batas volkanik aktif di Sulawesi Barat pada waktu yang berbeda sejak zaman Miosen Awal sekitar 20 juta tahun yang lalu, baru-baru ini digantikan oleh hipotesis bahwa fragmen tambahan tersebut merupakan hasil dari tabrakan tunggal yang terjadi pada zaman Miosen antara Sulawesi Barat dengan Titik Sula, yang merupakan ujung barat dari sabuk lipat kuno asal Variskan pada zaman Paleozoikum Akhir.

 

B.     CIRI BUDAYA LOKAL

BAHASA

Etnik Bugis Mempunyai Bahasa Tersendiri Dikenali Sebagai Bahasa Bugis (Ugi)
Konsonan Di Dalam Ugi Pula Di Kenali Sebagai Lontara Yang Berdasarkan Tulisan Brahmi. Orang Bugis Mengucapkan Bahasa Ugi Dan Telah Memiliki Kesusasteraan Tertulis Sejak Berabad-Abad Lamanya Dalam Bentuk Lontar. Huruf Yang Dipakai Adalah Aksara Lontara, Sebuah Sistem Huruf Yang Berasal Dari Sanskerta.

Seperti Halnya Dengan Wujud-Wujud Kebudayaan Lainnya. Penciptaan Tulisan Pun Diciptakan Karena Adanya Kebutuhan Manusia Untuk Mengabdikan Hasil-Hasil Pemikiran Mereka. Kata Lontaraq Berasal Dari Bahasa Bugis/Makassar Yang Berarti Daun Lontar. Karena Pada Awalnya Tulisan Tersebut Di Tuliskan Diatas Daun Lontar. Tiap-Tiap Daun Lontar Disambungkan Dengan Memakai Benang Lalu Digulung Pada Jepitan Kayu, Yang Bentuknya Mirip Gulungan Pita Kaset.

Cara Membacanya Dari Kiri Kekanan.

Lontara Bugis-Makassar Merupakan Sebuah Huruf Yang Sakral Bagi Masyarakat Bugis Klasik. Huruf Lontara Tidak Hanya Digunakan Oleh Masyarakat Bugis Tetapi Huruf Lontara Juga Digunakan Oleh Masyarakat Makassar.

Contoh Pemakaian Bahasa Bugis: “Makan Ma’ki (Silakan Anda Makan)”.
“Aga Tapigau?”( Apa Yang Sedang Anda Lakukan?). Adapun Partikel-Partikel Yang Biasa Digunakan Dalam Bahasa Bugis-Makassar Seperti Ji, Mi, Pi, Mo, Ma’, Di’, Tonji, Tawwa, Pale. Contoh Penggunaannya Misalnya : “Tidak Papa Ji.” (Tidak Apa-Apa).

 

 

MATA PENCAHARIAN

Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Suku Bugis, Karena letaknya yang berada di daerah dataran yang subur kebanyakan masyarakat bugis bermata pencaharian sebagai petani. Faktor ini sangat di dukung oleh kesuburan tanah yang sangat sehingga menjadikan wilayah suku bugis menjadi wilayah pertanian.mata pencaharian lainnya di suku bugis adalah nelayan, selain terletak di dataran yang subur suku bugis juga mempunyai wilayah di pesisir yang di anugrahi banyak sumber daya yang melimpah di lautan. Hal ini di manfaatkan masyarakat untuk mencari penghasilan di lautan. 

 

Mata pencaharian terakhir yang banyak di geluti oleh masyarakat bugis adalah pedagang karena hasil dari para petani dan nelayan akan di distribusikan ke pedagang pedagang, lalu pedagang mengumpulkan jumlah yang lebih besar dan di distribusikan kembali ke masyarakat umum suku bugis. Dari semua mata pencaharian semua inilah masyarakat suku bugis mendapatkan perekonomian untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.

Selain itu pada masa sekarang masyarakat suku bugis juga sudah banyak yang mengenyam dunia pendidikan dan masuk ke dunia birokrasi pemerintahan.jadi dari birokrasi yang telah dijalankan sebagian kecil masyarakat bugis mampu mendapatkan perekonomian yang baik. Tapi mata pencaharian yang sangat umum adalah petani, hal ini dikarenakan banyak kebutuhan kebutuhan masyarakat suku bugis sehari harinya dihasilkan oleh lading pertanian misalnya seperti beras, jagung, tembakau,

SISTEM RELIGI

Masyarakat Bugis banyak tinggal di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Mereka penganut Islam yang taat. Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal yang mempunyai nama-nama sebagai berikut.

  1. Patoto-e adalah dewa penentu nasib.
  2. Dewata Seuwa-e adalah dewa tunggal.
  3. Turie a’rana adalah kehendak tertinggi.

Masyarakat Bugis menganggap bahwa budaya (adat) itu keramat. Budaya (adat) tersebut didasarkan atas lima unsur pokok panngaderreng (aturan adat yang keramat dan sakral), yaitu sebagai berikut.

  1. Ade (‘ada dalam bahasa Makassar).
  2. Bicara.
  3. Rapang.
  4. Wari’.
  5. Sara’.

KESENIAN

1. Tari Paduppa Bosara

Tari Padupa Bosara Merupakan Sebuah Tarian Yang Mengambarkan Bahwa Orang Bugis Kedatangan Atau Dapat Dikatakan Sebagai Tari Selamat Datang Dari Suku Bugis. Orang Bugis Jika Kedtangan Tamu Senantisa Menghidangkan Bosara Sebagai Tanda Kehormatan.

 

 

2. Tari Pakarena

Tari Pakarena Merupakan Tarian Khas Sulawesi Selatan, Nama Pakarena Sendiri Di Ambil Dari Bahasa Setempat, Yaitu Karena Yang Artinya Main. Tarian Ini Pada Awalnya Hanya Dipertunjukkan Di Istana Kerajaan, Namun Dalam Perkembangannya Tari Pakarena Lebih Memasyarakat Di Kalangan Rakyat.

Tari Pakarena Memberikan Kesan Kelembutan. Hal Tersebut Mencerminkan Watak Perempuan Yang Lembut, Sopan, Setia, Patuh Dan Hormat Pada Laki-Laki Terutama Pada Suami. Sepanjang Pertunjukan Tari Pakarena Selalu Diiringi Dengan Gerakan Lembut Para Penarinya Sehingga Menyulitkan Bagi Masyarakat Awam Untuk Mengadakan Babak Pada Tarian Tersebut.

3. Tari Ma’badong

Tari Ma’badong Hanya Diadakan Pada Saat Upacara Kematian. Penari Membuat Lingkaran Dengan Mengaitkan Jari-Jari Kelingking, Penarinya Bisa Pria Atau Bisa Wanita. Mereka Biasanya Berpakaian Serba Hitam, Namun Terkadang Memakai Pakaian Bebas Karena Tarian Ini Terbuka Untuk Umum.

Tarian Yang Hanya Diadakan Pada Upacara Kematian Ini Hanya Dilakukan Dengan Gerakan Langkah Yang Silih Berganti Sambil Melangtungkan Lagu Kadong Badong. Lagu Tersebut Syairnya Berisikan Riwayat Manusia Malai Dari Lahir Hingga Mati, Agar Arwah Si Mati Diterima Di Negeri Arwah Atau Alam Baka. Tarian Badong Bisanya Belansung Berjam-Jam, Sering Juga Berlansung Semalam Suntuk.

Tarian Ma’badong Bisanya Dibawakan Hanya Pada Upacara Pemakaman Yang Lamanya Tiga Hari Tiga Malam Khusus Bagi Kaum Bangsawan Di Daerah Tana Toraja Sulawesi Selatan.

4. Tarian Pa’gellu

Tari Pagellu Merupakan Salah Satu Tarian Dari Tana Toraja Yang Di Pentaskan Pada Acara Pesta Tambu Tuka, Tarian Ini Juga Dapat Ditampilkan Untuk Menyambut Patriot Atau Pahlawan Yang Kembali Dari Medan Perang Dengan Membawa Kegembiraan.

 

5. Tari Mabbissu

Tari Mabissu Merupakan Tarian Bissu Yang Biasanya Dipertunjukkan Ketika Upacara Adat. Para Penarinya Bissu (Orang Yang Kebal) Yang Selalu Mempertontokan Kesaktian Mereka Dalam Bentuk Tarian Komunitas Bissu Bisa Kita Jumpai Didaerah Pangkep Sigeri Sulawesi Selatan.

 

6. Tari Kipas

Tari Kipas Merupakan Tarian Yang Memrtunjukan Kemahiran Para Gadis Dalam Memainkan Kipas Dengan Gemulai Alunan Lagu.

 

7. Gandrang Bulo

Gandrang Bulo Merupakan Sebuah Pertunjukan Musik Dengan Perpaduan Tari Dan Tutur Kata. Nama Gandrang Bulo Sendiri Diambil Dari Perpaduan Dua Suku Kata, Yaitu Gendang Dan Bulo, Dan Jika Disatukan Berarti Gendang Dari Bambu. Ganrang Bulo Merupakan Pertunjukan Kesenian Yang Mengungkapkan Kritikan Dan Dikemas Dalam Bentuk Lelucon Atau Banyolan.

 

8. Kecapi

Kecapi Merupakan Sala Satu Alat Musik Petik Tradisional Sulawesi Selatan, Khusunya Suku Bugis. Baik Itu Bugis Makassar Ataupun Bugis Mandar. Menurut Sejarahnya Kecapi Ditemukan Atau Diciptakan Oleh Seorang Pelaut Sehingga Betuknya Menyerupai Perahu. Kecapi, Biasanya Ditampilkan Sebagai Musik Pengiring Pada Acara Penjemputan Para Tamu Pada Pesta Perkawinan, Hajatan, Bahkan Hiburan Pada Hari Ulang Tahun.

 

9. Gendang

Gendang Merupakan Sala Satu Alat Musik Perkusi Yang Mempunyai Dua Bentuk Dasar, Yakni Bulat Panjang Dan Bundar Mirip Seperti Rebana.

 

10. Suling

Suling Bambu Terdiri Dari Tiga Jenis, Yaitu:

·         Suling Panjang (Suling Lampe) Yang Memiliki Lima Lubang Nada Dan Jenis Suling Ini Telah Punah.

·         Suling Calabai (Siling Ponco) Suling Jenis Ini Sering Dipadukan Dengan Biola, Kecapi Dan Dimainkan Bersama Penyanyi.

·         Suling Dupa Samping (Musik Bambu) Musik Bambu Masih Sangat Terpelihara Biasanya Digunakan Pada Acara Karnaval Atau Acara Penjemputan Tamu.

 

 

POTENSI WISATA

Dari segi keindahan alam, Sulawesi Selatan tidak kalah dengan daerah lainnya di nusantara bahkan memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Salah seorang teman saya dari Kalimantan Timur yang beberapa minggu lalu datang berlibur ke Sulawesi Selatan mengakui keindahan alamnya. “Jauh lebih indah dibanding daerah saya” pujinya.

 

Saya sendiri sebagai orang Sulawesi Selatan ketika melakukan perjalanan ke daerah misalnya ke Bone ataupun Tana Toraja takjub dengan pemandangan alam yang tersaji indah memanjakan mata disepanjang perjalanan yang saya lalui. Untaian pengunungan sambung menyambung yang terhampar hijau. Belum lagi wisata air terjun yang dimiliki Sulawesi Selatan misalnya Bantimurung. Keindahan alam ini juga merupakan sebuah potensi wisata yang bisa dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

 

Bukan cuma keindahan alam berupa pengunungan tapi kita juga patut berbangga hati karena memiliki potensi wisata bahari dan pantai yang bisa menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Sulawesi Selatan. Pantai Losari, Pantai Akkarena, dan Tanjung Bira adalah salah satu contohnya. Keindahan bawah laut yang dimiliki juga bisa menjadi daya tarik bagi para penyelam untuk menjelajahinya misalnya di Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai.

 

Selain wisata alam dan bahari, Sulawesi Selatan juga memiliki banyak wisata sejarah. Contohnya di Makassar saja ada Fort Rotterdam, Benteng Somba Opu, Makam Diponegoro, Kuburan Raja-Raja Tallo, dan Makam Syech Yusuf. Belum lagi potensi wisata sejarah lainnya yang tersebar di seluruh daerah yang ada di Sulawesi Selatan.

 

Untuk urusan kuliner, Sulawesi Selatan memiliki banyak kuliner khas yang enak-enak tentunya misalnya Coto Makassar, Pallubasa, Konro, dan lain sebagainya.

 

Agar pembaca tidak penasaran dengan apa yang saya terangkan diatas, berikut saya paparkan beberapa potensi wisata yang ada di Sulawesi Selatan khususnya Makassar yang menjadi salah satu kota tujuan utama wisata di daerah ini.

  

Wisata Pantai 

 

:: Pantai Losari

Makassar memiliki  wisata pantai yang terkenal baik dalam maupun luar negeri. Pantai Losari namanya pantai yang indah dengansunset (matahari terbenamnya) yang eksotis, salah satu sunset terbaik. Ketika sore tiba banyak yang berjalan sore ke pantai ini dan menikmati nuansa senja di anjungan pantai losari. Pantai losari dulu dikenal dengan restoran terpanjangnya, karena di sepanjang bibir pantai dipenuhi dengan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai kuliner khas Makassar. Seiring pengembangan pantai losari pedagang kaki lima ini direlokasi.


Hari minggu pagi Pantai Losari menjadi pusat olah raga dan belanja bagi warga Makassar. Jalan di sekitar pantai losari di tutup hingga jam 10.00 pagi. Warga banyak melakukan jogging, bersepeda, senam kesegaran jasmani dan aerobik ataukah sekedar berjalan-jalan menikmati suasana pagi di Pantai Losari.  Pasar dadakan di Pantai losari menjadi keunikan tersendiri, segala kebutuhan tersedia di sini mulai dari pakaian, sepatu, tas,  penjual obat, penjual kelinci, penjual ikan, alat masak, makanan, minuman, dan banyak lagi yang lain.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJMRRLpBAxrLlQf4cpwYnu9k5KYHW1CbA6oR724SEP_zj11y0ExqOZOenLf-HUUR9xq84XK4LD9zW2h-otFkEw4j29fgRW05Af6k44FbpeCf7p3HkjKQ2uk6EhxsdAyYMyRieCHzOJBR0/s400/visit+sulawesi_1.jpg


:: Pantai Akkarena

Pantai Akkarena merupakan salah satu objek wisata favorit bagi warga Makassar dan sekitarnya. Pantai yang indah dengan pasirnya yang hitam yang dulu di kenal dengan nama Tanjung Bunga. Ramai dikunjungi wisatawan untuk sekedar jalan-jalan, berenang, menikmati keindahan sunset di kala senja, ataukah memacu adrenalin dengan ber-Banana Boat ria ataupun ber-Jet Ski.





:: Pelabuhan Paotere

Pelabuhan Paotere adalah pelabuhan warisan kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14. Anda ingin melihat kapal Phinisi yang melegenda itu? Pelabuhan Paotere tempatnya. Masih banyak kapal phinisi yang berlabuh di pantainya. Paotere berfungsi sebagai pelabuhan perdagangan dan transportasi antar pulau yang ramai dengan kapal yang bersandar. Aktivitas nelayan dan bongkar muat yang ada di pelabuhan ini menjadi pemandangan khas dan keunikan tersendiri. Selain itu di pelabuhan ini banyak terdapat warung-warung yang menjajakan kuliner khas Poetere, Seafood segar dengan cobek-cobek sambel khas Makassar.


Wisata Sejarah

Bagi anda yang suka berwisata sejarah Makassar bisa menjadi salah satu tujuan utama. Makassar termasuk kota tua yang memiliki banyak peninggalan bersejarah. Letak kota Makassar yang berada di pesisir pantai menjadikannya tempat yang strategis untuk membangun pusat perdagangan dan benteng-benteng pertahanan antara lain Benteng Rotterdam dan Benteng Somba Opu. Selain itu juga terdapat makam pahlawan nasional  antara lain kuburan tua raja-raja Tallo, makam Pangeran Diponegoro, dan Makam Syech Yusuf.

:: Fort Rotterdam

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang merupakan peninggalan sejarah sejak pemerintahan raja Gowa ke-9  yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna. Di kompleks Benteng Ujung Pandang ini terdapat Museum La Galigo yang didalamnya terdapat referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.

 

:: Benteng Somba Opu

Benteng ini juga merupakan salah satu peninggalan bersejarah kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun dengan tanah liat dan putih telur sebagai pengganti semen. Benteng ini merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari asia dan eropa. 

Pada tahun 1669 benteng ini dikuasai VOC yang kemudian dihancurkan hingga terendam ombak pasang. Pada tahun 1980-an benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuwan. Didalam benteng ini terdapat miniatur budaya antara lain bangunan rumah adat Sulawesi Selatan (yang mewakili Bugis, Makassar, Mandar dan Kajang). Juga terdapat sebuah meriam bernama “Baluwara Agung” sepanjang 9 meter dengan berat 9.500 Kg dan sebuah museum benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7CijdIDvXlDtljx7yU6a4JxemAISrVb2Y8lcBQ50oi2w-pCXXph47rJgYouEvnyZ27XVcwuEWGc5SYOLcFre0uIKa4w2YjNI0TDttUeZnJTqCT_U_Jqn7ojmn8BGOJgMWzpA_Z_Lh6Ks/s400/visit+sulawesi_2.jpg





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzp7dLeR3aAe5yxsf_3vqRNhRSe4hvXY5TeYbjKgOUtRKy5Kaju8v5bqskZjDmuonBcLZKmJPFKxNZ14w4Qjlc6ryJ0JLcdmyGyZAa1D7Vv_fWg5OMgkn2fAJYOOMjCogYSpXPSCV8V4k/s400/visit+sulawesi_3.jpg


:: Kuburan Tua Raja-Raja Tallo

Kompleks makam ini dibangun sekitar abad ke-17 yang merupakan tempat pemakaman raja-raja Tallo abad ke-17 hingga abad ke-19. Konstruksi bangunan makam ini terdapat beberapa tipe antara lain tipe susun-timbun yang bentuknya mirip candi-candi di Jawa, tipe papan batu, dan tipe kubah.


:: Makam Pangeran Diponegoro

Siapa yang tak kenal pahlawan nasional kita Pangeran Diponegoro. Beliau adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwono III Yogyakarta yang aktif berjuang melawan penjajah. Pada tahun 1845 beliau ditangkap dan dipenjara di benteng Rotterdam, kemudian diasingkan di Manado setelah itu dikembalikan lagi ke Makassar dan wafat 8 Januari 1855 di Makassar. Makam beliau terletak di Jalan Dipoenegoro Makassar dan sangat mudah di jangkau dengan kendaraan umum.

 

:: Makam Syech Yusuf

Syech Yusuf Tajul Khalwati Lahir di Gowa, 3 Juli 1626. Beliau merupakan ulama terkemuka yang aktif berdakwah dan menyebarkan islam. Syech Yusuf juga aktif berjuang melawan Belanda. Karena perlawanannya tersebut beliau pun diasingkan ke Srilanka, dipengasingannya tersebut beliau melahirkan karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu dan Bugis. Kemudian beliau diasingkan lagi ke Afrika Selatan dan akhirnya menutup usia di Negara tersebut. Sultan Gowa meminta VOC supaya jenazah tersebut dikembalikan ke tanah airnya dan permintaan tersebut dikabulkan. Makam beliau terletak di Jalan Syech Yusuf (Perbatasan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar). Hampir tiap hari makam ini ramai dikunjungi para peziarah.


Wisata Kuliner

Makassar terkenal dengan berbagai kuliner khasnya antara lain Coto Makassar, Pallubasa, Sup Konro, Konro Bakar, Sup Ulu Juku’ (Sup Kepala Ikan), Pisang Epe’, Pisang Ijo, Pallubutung, dan masih banyak lagi kuliner lainnya yang akan memanjakan lidah anda.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiKAQmYKYQAjzwewYK8Rhzp-c7QeEokGbi97ka8KaG08CvLsD_cejBAZ06MYU2-AHBaKu3tIWw5hCc_mKigdJUj7hkRhJtDnCV_zGx7MUgKcmTvkiGZEpjijJcNdRlYtVUh6-mV5tcK6A/s400/visit+sulawesi_4.jpg



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiA14B0CJ4aCbpDZR6p7ulrQGOgatgPe6VQoe31pg4dNS5dpnqYwxfof2RKk_XOydemfSU93V0BizAGkAo_lvK_BPT_q3OFwd8cfCTeJzos-OBawnKbcQzWgU4Zcpc2lbO15mdyMVR9ORE/s400/visit+sulawesi_5.jpg


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCGzbloNyihS70eNNhyphenhyphenW7SAaYfoUC5ZDy-8vpp87wWJOiVJWT6gBmwwRJLbLxbc51Y3_SeU_pyO7Fq66vjByo5L3lknzpn4dERQnalx0kpjZboSWKHe6AQU-itthKmLLnu3jAiYXTkRsQ/s400/visit+sulawesi_7.jpg

Wisata Belanja

Berkunjung ke Sulawesi Selatan tak lengkap rasanya jika tidak membawa pulang buah tangan khas daerah ini. Artikel tentang oleh-oleh khas Sulawesi Selatan sudah saya tuliskan  di postingan blog saya yang lalu yaitu “Berbagai Buah Tangan Khas Sulawesi Selatan”.

 

Wisata Religi

 

:: Masjid Raya Makassar

Masjid Raya Makassar ini berlantai dua yang sanggup menampung 10.000 jamaah. Arsitekturnya mengadopsi Masjid Cordoba Spanyol. Masjid ini banyak dipergunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan oleh warga Makassar dan sekitarnya.

 

:: Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar

Masjid yang dibangun pada tahun 1994 ini menjadi pusat pengembangan ibadah agama Islam terbesar dan termegah di Asia Tenggara

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmJgErJBGptq7QqgNM6HwpIczUOctQ0U_RZsaMTDnbaicrU7rt-4g4VjBhnl1dpDcGO8JOBUKjpX86lEZylgmxonG0igM9mdV6LJ7IoYBv9mkxEC28bupgrj-xvqowk19PuVU596ofqZQ/s400/visit+sulawesi_6.jpg

C.    PENGARUH KONDISI GEOGRAFIS TERHADAP BERAGAM BUDAYA

Adapun letak astronomis Indonesia yaitu 6° LU (Lintang Utara) – 11° LS (Lintang Selatan) dan 95° BT (Bujur Timur) – 141° BT (Bujur Timur). Letak astronomis suatu negara berpengaruh kepada pembagian waktu. Seperti yang kita ketahui Indonesia memiliki 3 bagian waktu diantaranya WIB (Waktu Indonesia Barat), WIT ( Waktu Indonesia Timur) dan WITA (Waktu Indonesia Tengah) dengan selisih 1 jam dari setiap bagian waktu tersebut.

Selain berpengaruh terhadap pembagian waktu, letak astronomis berpengaruh terhadap iklim Indonesia. Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia memiliki ciri-ciri iklim yang khas, antara lain:

·         Memiliki curah hujan yang tinggi, sekitar 200mm pertahun

·         Memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas

·         Sepanjang tahun Indonesia mendapatkan penyinaran matahari

·         Temperatur tinggi antara 260° C hingga 280° C.

·         Keanekaragaman hayati yang sangat banyak dibandingkan negara lain

·         Memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi

 

Pengaruh Letak Geografis Terhadap Keadaan Alam Indonesia merupakan kepulauan yang terletak diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, dan terletak diantara Benua Asia dan Benua Australia. Hal ini berpengaruh pada keadaan alam Indonesia, yaitu :

·         Wilayah Indonesia memiliki iklim laut

·         Wilayah Indonesia memiliki iklim musim

Berikut ini penjelasan lengkap mengenai iklim laut dan iklim musim yang berada di wilayah Indonesia.

·         Iklim Laut

Iklim laut terjadi karena wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan yang di kelilingi oleh perairan laut yang sangat luas, sehingga peran dunia internasional dalam konflik Indonesia Belanda banyak memperoleh pengaruh aingin laut yang menyebabkan sering terjadi hujan. Iklim laut biasanya berada pada daerah tropis dan subtropis.

·         Iklim Musim

Iklim musim terjadi karena adanya pengaruh angin muson yang setiap 6 bulan sekali bertiup dengan bergantian arah. Terjadinya pergantian musim kemarau ke musim hujan ataupun sebaliknya terjadi karena adanya pergantian arah angin musim yang terjadi setengah tahun sekali. Angin musim terdiri dari dua jenis berdasarkan arahnya yaitu angin musim barat dan angin musim timur. Dibawah ini penjelasan lengkap mengenai jenis angin musim (angin muson) :

·         Angin Musim (muson) Barat

Angin musim barat biasanya terjadi di antara bulan Oktober sampai bulan April. Pada bula Oktober sampai April biasanya ada perbedaan keragaman suku bangsa dan budaya dari beberapa tekanan udara di bumi bagian utara dan bumi bagian selatan. Pada saat bumi bagian utara mengalami musim dingin, maka di bumi bagian selatan memiliki tekanan yang tinggi. Angin yang bertiup di bukan Oktober sampai April memiliki sifat basah oleh karena itu biasanya Indonesia pada bulan Oktober hingga April mengalami musim hujan. Arah angin yang berhembus pada bulan Oktober sampai April yaitu dari Asia dan Samudera Pasifik menuju Australia dan terdapat lintasan yang melalui wilayah Indonesia.

·          Angin Musim (muson) Timur

Angin musim Timur terjadi antara bulan April hingga Oktober, hal ini disebabkan adanya perbedaan tekanan udara di belahan bumi selatan dan utara. Pada saat musim dingin di belahan bumi bagian selatan, saat itu pula tekanan di selatan lebih tinggi dari pada di bumi bagian utara. Oleh karena itu, angin bertipu dari bumi bagian selatan (Australia) menuju Asia pada saat itu melewati wilayah Indonesia.

 Pengaruh Letak Geografis Terhadap Keadaan Sosial

Letak geografis Indonesia memberikan pengaruh dari berbagai aspek baik dari sosial atau kebudayaan, ekonomi, maupun politik.

1. Bidang Sosial dan Kebudayaan

Letak geografis yang strategis sangat berpengaruh terhadap bangsa Indonesia. Karena dengan letak yang strategis Indonesia dapat dengan penyebab kegagalan LBB sehingga mudah berhubungan dengan bangsa lain dengan begitu proses interaksi sosial bangsa Indonesia akan lebih dinamis.Sedangkan terhadap kebudayaan yaitu Indonesia terletak pada wilayah yang strategis, dan banyak di lalui berbagai bangsa asing dari zaman dahulu hingga sekarang itu menyebabkan adat, kebiasaan, agama, dan bahasa asing ikut terbawa kepada Indonesia. Beberapa negara yang berpengaruh terhadap kebudayaan Indonesia diantaranta Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda, Timur Tengah, Cina, India, dll.

Akibat interaksi sosial antara bangsa Indonesia dengan bangsa Asing maka terjadilah proses akulturasi ataupun asimilasi. Datangnya bangsa-bangsa tersebut membuat bangsa Indonesia menganut agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, dan khonghucu. Percampuran bangsa dan kebudayaan Indonesia dari barat membuat kebudayaan Indonesia yang beragam (Bhinneka Tunggal Ika).Indonesia memiliki kondisi alam dan wilayah yang sangat luas sehingga perilaku dan kebudayaan bangsa Indonesia beraneka ragam. Indonesia memiliki banyak aneka ragam suku bangsa dan adat kebudayaan, tercatat kurang lebih 250 suku yang berada di Indonesia dan masih banyak suku yang belum teridentifikasi juga.

2. Bidang Ekonomi

Karena Indonesia berada pada wilayah strategis, maka Indonesia sering menjadi wilayah persimpangan lalu lintas dan titik persilangan kegiatan perekonomian dunia. Berikut ini letak geografis terhadap ekonomi di Indonesia :

·         Letak wilayah yang berada pada posisi silang menyebabkan Indonesia banyak mempunyai kerjasama perekenomian dengan negara-negara berkembang.

·         Karena Indonesia terletak diantara samudera hindia dan samudera pasifik yang menjadi jalur pelayaran, hal itu akan menunjan Indonesia dalam lalu lintas perdagangan.

·         Karena Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Australia maka indonesia memiliki iklim musim yang berganti 6 bulan sekali yaitu musim hujan dan musim kemarau, hal itu berpengaruh baik bagi perekenomian Indonesia dalam bidang perkebunan. Dan hasil perkebunan yang bagus akan membuat Indonesia memperbesar ekspor hasil perkebunan.

·         Karena Indonesia terletak di antara Benua Australia dan Asia maka dapat dijadikan sebagai daya tarik kerjasama antar negara bersama dengan negara-negara ASEAN

 

D.    BENTUK KEARIFAN LOKAL

Pada masyarakat Bugis, kearifan lokal ternyata terdokumntasi dengan baik dalamkarya sastra mereka dan tertuang dalam karya sastra Bugis klasik.

1.   Bawaan Hati yang Baik (Ati Mapaccing)

Dalam bahasa Bugis, Ati Mapaccing (bawaan hati yang baik) berarti nia’ madeceng (niat baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata nia’ maja’ (niat jahat), nawa-nawa masala (niat atau pikiran bengkok). Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas, baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik.

Tindakan bawaan hati yang baik dari seseorang dimulai dari suatu niat atau itikad baik (nia mapaccing), yaitu suatu niat yang baik dan ikhlas untuk melakukan sesuatu demi tegaknya harkat dan martabat manusia. Bawaan hati yang baik mengandung tiga makna, yaitu a) menyucikan hati, b) bermaksud lurus, dan c) mengatur emosi-emosi. Pertama, manusia menyucikan dan memurnikan hatinya dari segala nafsu- nafsu kotor, dengki, iri hati, dan kepalsuan-kepalsuan. Niat suci atau bawaan hati yang baik diasosiasikan dengan tameng (pagar) yang dapat menjaga manusia dari serangan sifat-sifat tercela. Ia bagai permata bercahaya yang dapat menerangi dan menjadi hiasan yang sangat berharga. Ia bagai air jernih yang belum tercemar oleh noda-noda atau polusi. Segala macam hal yang dapat menodai kesucian itu harus dihindarkan dari hati, sehingga baik perkataan maupun perbuatan dapat terkendali dengan baik.

 

2.  Konsep Pemerintahan yang Baik (good governance)

Istilah good governance tak bisa dilepaskan dari konteks perbincangan mengenai politik dan paradigma pembangunan yang berkembang di dunia. Bila dilacak agak teliti, penggunaan istilah ini belum lebih dari dua dekade. Diduga, good governance pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah resolusi The Council of the European Community yang membahas Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Pembangunan.. Di dalam resolusi itu disebutkan, diperlukan empat prasyarat lain untuk dapat mewujudkan Pembangunan yang berkelanjutan, yaitu mendorong penghormatan atas hak asasi manusia, mempromosikan nilai demokrasi, mereduksi budget pengeluaran militer yang berlebihan dan mewujudkan good governance. Sejak saat itu, good governance mulai diperbincangkan dan diakomodasi dalam berbagai konvensi dan resolusi yang berkaitan dengan pembangunan, baik dalam perbincangan pembangunan di UNDP maupun di Lome Convention, Bantuan Pembangunan yang bersifat Multilateral dan Bilateral.

Istilah good governance telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata pemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih (Effendi, 2005).

Dalam kepustakaan Bugis, untuk terwujudnya permerintahan yang baik, seorang pemimpin dituntut memiliki 4 kualitas yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Keempat kualitas itu terungkap dalam ungkapan Bugis.

Maccai na Malempu;

Waraniwi na Magetteng

(Cendekia lagi Jujur, Berani lagi Teguh dalam Pendirian.)

Bila ungkapan di atas diurai maka ada empat karakteristik seorang pemimpin yang diangap dapat memimpin suatu negeri, yaitu: cendekia, jujur, berani, dan teguh dalam pendirian. Ungkapan itu bermakna bahwa kepandaian saja tidak cukup. Kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran, karena banyak orang pandai menggunakan kepandaiannya membodohi orang lain. Karerna itu, kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran. Selanjutnya, keberanian saja tidak cukup. Keberanian haruslah disertai dengan keteguhan dalam pendirian. Orang yang berani tetapi tidak cendekia dan teguh dalam pendirian dapat terjerumus dalam kenekadan.

Syarat terselenggaranya pemerintahan negeri dengan baik terungkap dalam Lontarak bahwa pemimpin negeri haruslah:

·         Jujur terhadap Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan sesamanya manusia.

·         Takut kepada Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan menghormati rakyatnya dan orang asing serta tidak membeda-bedakan rakyatnya.

·         Mampu memperjuangkan kebaikan negerinya agar berkembang biak rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya perselisihan antara pejabat kerajaan dan rakyat.

·         Mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya.

·         Berani dan tegas, tidak gentar hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan berita baik (tidak mudah terbuai oleh sanjungan).

·         Mampu mempersatukan rakyatnya beserta para pejabat kerajaan.

·         Berwibawa terhadap para pejabat dan pembantu-pembantunya.

·         Jujur dalam segala keputusannya.

Kemudian, I Mangada’cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang membuat pesan yang isinya bahwa ada lima sebab yang menyebabkan negeri itu rusak, yaitu:

1.      Kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati.

2.      Kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.

3.      Kalau para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.

4.      Kalau terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu negara.

5.      Kalau raja tidak menyayangi rakyatnya.

 

3.   Demokrasi (Amaradekangeng)

Kata amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut:

Niaa riasennge maradeka, tellumi pannessai:

Seuani, tenrilawai ri olona.

Maduanna, tenriangkai’ riada-adanna.

Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao ri awa

Demokrasi sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara terungkap dalam sastra Bugis sebagai berikut: 

Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya:

pertama, tidak dihalangi kehendaknya; 

kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; 

ketiga tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah. Itulah hak-hak kebebasan.

Rusa taro arung, tenrusa taro ade,

Rusa taro ade, tenrusa taro anang,

Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.

(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak).

Keamanaan, dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep di atas sejalan dengan konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan ada di tangan rakyat. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Dalam ungkapan itu, jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rakyat berarti segala-galanya bagi negara. Raja atau penguasa hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi kepercayaan untuk mengurus administrasi.

Dari kutipan itu, jelas tergambar bahwa kekuatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan raja. Jika hal ini dihubungkan dengan teori demokrasi Rousseau tentang volonte generale atau kehendak umum dan volonte de tous atau kehendak khusus, jelas tergambar bahwa teori Rousseau berkesesuaian dengan sistem pemerintahan yang dikembangkan di Tanah Bugis yaitu apabila dua kepentingan (antara penguasa dan rakyat) bertabrakan, kepentingan yang harus dimenangkan adalah kepentingan rakyat (umum).

Dalam menjalankan pemerintahan, raja selalu berusaha untuk bertindak secara ekstra hati-hati. Sesuatu yang akan dibebankan kepada rakyat haruslah terlebih dahulu dipertimbangkan. Artinya, acuan utama dari setiap tindakan adalah rakyat. Hal tersebut tertuang dalam Getteng Bicara (undang-undang) sebagai berikut. “Takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang rendah saya tempatkan di bawah, yang tengah saya tempatkan di tengah, yang tinggi saya tempatkan di atas.”

Ketetapan hukum yang tergambar dalam getteng bicara di tanah Bugis menunjukkan bahwa raja tidak akan memutuskan suatu kebijakan bila raja itu sendiri tidak merasa nyaman. Raja menjadikan dirinya sebagai ukuran dan selalu berusaha berbuat sepatutnya. Dari argumentasi itu, jelas tergambar bahwa negara adalah sepenuhnya milik rakyat dan bukan milik raja. Raja tidak dapat berbuat sekehendak hatinya kepada negara yang menjadi milik dari rakyat itu. Raja sama sekali tidak dapat membuat peraturan dengan seenaknya, terutama menyangkut kepentingan dirinya atau keluarganya. Semua peraturan yang akan ditetapkan oleh raja harus melalui persetujuan dari kalangan wakil rakyat yang telah mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Jika raja melanggar ketentuan itu, berarti raja telah melanggar kedaulatan rakyat.

Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut:

·         Mannganro ri ade’, memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai akibat kesalahan pemerintah.

·         Mapputane’, menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, langsung menghadap raja.

·         Mallimpo-ade’, protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja, dan karena usaha melalui mapputane’ gagal. Orang banyak, tetapi tanpa perlengkapan senjata mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali permasalahannya selesai.

·         Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipial masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panngadereng oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.

·         Mallekke’ dapureng, tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena sudah tidak mampu melihat kesewenang-wenangan di dalam negerinya dan protes-protes lain tidak ampuh. Mereka berkata: “Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang melepaskan diri dari kekuasaannya”.(Mattulada, 1985)

 

4.   Kesetiakawanan Sosial (assimellereng)

Konsep assimellereng mengandung makna kesehatian, kerukunan, kesatupaduan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, antara seorang sahabat dengan sahabat yang lain. Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, setia kawan, cepat merasakan penderitaan orang lain, tidak tega membiarkan saudaranya berada dalam keadaan menderita, dan cepat mengambil tindakan penyelamatan atas musibah yang menimpa seseorang, dikenal dengan konsep “sipa’depu-repu” (saling memelihara). Sebaliknya, orang yang tidak mempedulikan kesulitan sanak keluarganya, tetangganya, atau orang lain sekali pun disebut bette’ perru. Dalam kehidupan sehari-hari, manifestasi kesehatian dan kerukunan itu disebutkan dalam sebuah ungkapan Bugis:

“tejjali tettappere , banna mase-mase”.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

1.      KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Kearifan Lokal dalam kepustakaan Bugis masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, Kearifan Lokal sebagai jati diri bangsa perlu direvitalisasi, khususnya bagi generasi muda dalam percaturan global saat dan di masa datang. Dengan demikian, identitas sebagai bangsa baik secara fisik maupun non fisik akan tetap terjaga.

 

2.      SARAN

Mengingat aspek kebudayaan yang ada di Indonesia begitu beragam, maka perlu kiranya Perguruan Tinggi sebagai representasi dari dunia pendidikan yang ada dimasing-masing daerah untuk lebih serius dalam melakukan eksperimen ilmiah mengenai kekayaan etnisitas daerah masing-masing. Kemudian perhatian secara serius dapat dilakukan dan dikampanyekan guna kembali menjadi kearifan lokal sebagai pilar kemajuan bangsa Indonesia. Sehingga aspek kebudayaan yang beragam tersebut mampu diketahui, dikembangkan serta menjadi karakter masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam etnis dan latar belakang budaya.

 

3.      PETA DAERAH

 

Sulsel.jpg

4.      DAFTAR PUSTAKA

 

Kementerian Penerangan, Republik Indonesia: Propinsi sulawesi, 1953, hal. 176-177

"Indonesia: Provinces, Cities & Municipalities". City Population. Diakses pada  30 november 2016.

“           “.2010. Kearifan lokal dalam sastra bugis klasik. Diakses pada 30 november 2016 pada situs http://lafinus.filsafat.ugm.ac.id/

“      “. Ceritaku. Diakses pada 1 Desember 2016 pada situshttp://www.ahmadmaulana.com/tag/cerita-ku/

“      “. 2011. Makalah peran pendidikan. Diakses pada 1 Desember 2016 pada situs http://hardysengawang.blogspot.com/

“      “.2012. Suku di Sulawesi. Diakses pada 1  2016 pada situs http://protomalayans.blogspot.com/

“      “.2012. Makalah Kearifan Lokal. Diakses pada 12 Januari 2013 pada situs http://erwinblog-erwinpermana12.blogspot.com/

 

 

Comments

Popular posts from this blog

SOAL ULANGAN MI FIKIH DAN AKIDAH AKHLAK KELAS 2 SAMPAI 6

MAKALAH SUKU BANJAR

MAKALAH SUKU TORAJA