MAKALAH PERSEBARAN BUDAYA BUGIS DI SULAWESI
BAB I
1.
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang suku bugis dan manfaatnya untuk masyarakat.
Makalah Multikultural “Kebudayaan Suku Bugis Makassar” ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
2.
LATAR BELAKANG
Keragaman
etnis dan budaya memiliki potensi besar dalam membangun bangsa ini, termasuk
dalam pembangunan dan pengembangan pendidikan. Keragaman budaya yang tumbuh dan
berkembang pada setiap etnis seharusnya diakui eksistensinya dan sekaligus
dapat dijadikan landasan dalam pembangunan pendidikan. Tilaar
mengemukakan bahwa pendidikan nasional di dalam era reformasi perlu dirumuskan
suatu visi pendidikan yang baru yaitu membangun manusia dan masyarakat madani
Indonesia yang mempunyai identitas berdasarkan kebudayaan nasional. Sedang
kebudayaan nasional sendiri dibangun dari kebudayaan daerah yang tumbuh dan
berkembang di setiap etnis. Dalam kaitannya dengan upaya pembaharuan pendidikan
dan keragaman budaya, maka faktor sosial budaya tidak dapat diabaikan. Sistem
pendidikan yang digunakan di negara maju, seyogyanya tidak diciplak secara
menyeluruh tanpa memperhatikan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Sistem
pendidikan suatu negara harus sesuai dengan falsafah dan budaya bangsa sendiri.
Indonesia dengankeanekaragaman budayanya, perlu melakukan kajian tersendiri
terhadap sistem pendidikan yang akandigunakan, termasuk sistem pendidikan yang
akan digunakan di setiap daerah dan setiap etnis, sehinggasistem yang dipakai sesuai
dengan kondisi budaya masyarakat setempat.
Oleh
karena itu, perlu ada upaya bagaimana memperhatikan dan mengungkapkan
keterlibatan faktor budaya dalam interaksi tersebut agar dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.Siri’ sebagai inti budaya
Bugis-Makassar memiliki potensi untuk dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa, sebab siri’ merupakan pandangan hidup yang bertujuan untuk meningkatkan
harkat,martabat dan harga diri, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk
sosial.
Etnis
Bugis dan etnis Makassar adalah dua diantara empat etnis besar yang berada di
Sulawesi Selatan. Pada hakekatnya kebudayaan dan pandangan hidup orang Bugis
padaumumnya sama dan serasi dengan kebudayaan dan pandangan hidup orang
Makassar. Oleh karena itu membahas tentang budaya Bugis sulit dilepaskan
dengan pembahasan tentang budaya Makassar. Hal ini sejalan dengan pandangan
Abdullah yang mengatakan bahwa dalam sistem keluarga atau dalam kekerabatan
kehidupan manusia Bugis dan manusia Makassar, dapat dikatakan hampir tidak
terdapat perbedaan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kedua kelompok suku bangsa
ini (suku Bugis dan suku Makassar) pada hakekatnya merupakan suatu unit budaya.
Sebab itu, apa yang berlaku dalam duniamanusia Bugis, berlaku pula pada manusia
Makassar.
3.
RUMUSAN MASALAH
·
Bagaimana Iklim dan kondisi
geografis suku Bugis?
·
Bagaimana adat dan kebudayaan suku Bugis?
4.
TUJUAN PENULISAN
·
Mengetahui Kebudayaan Bugis
·
Mengetahui wisata dan Potensi wisata
suku bugis
5.
MANFAAT PENULISAN
Agar masyarakat mengetahui lebih
dalam tentang kebudayaan dan segala yang berhubungan dengan suku bugis.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
LETAK WILAYAH
Sulawesi, dahulu dikenal sebagai Celebes (/ˈsɛlᵻbiːz/ atau /sᵻˈliːbiːz/), adalah sebuah pulau di Indonesia. Sulawesi merupakan salah satu dari empat Kepulauan Sunda Besar, dan merupakan pulau terbesar kesebelas di dunia, yang terletak di sebelah timur Kalimantan, sebelah barat Kepulauan Maluku, dan sebelah selatan Mindanao dan Kepulauan Sulu, Filipina. Di Indonesia, hanya Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua yang lebih besar luas wilayahnya, dan hanya Pulau Jawa dan Sumatera yang memiliki populasi lebih banyak dari Sulawesi.
Bentang alam di Sulawesi mencakup empat semenanjung: Semenanjung Minahasa di bagian utara; Semenanjung Timur; Semenanjung Selatan; dan Semenanjung Tenggara. Ada tiga teluk yang memisahkan semenanjung-semenanjung ini: yaitu Teluk Tomini di antara Semenanjung Minahasa dan Timur; Teluk Tolo di antara Semenanjung Timur dan Tenggara; dan Teluk Bone di antara Semenanjung Selatan dan Tenggara. Selat Makassar membentang di sepanjang sisi barat pulau dan memisahkan pulau ini dari Kalimantan.
Sulawesi adalah pulau terbesar kesebelas di dunia, meliputi area seluas 174600 km2 (67413 sq mi). Bagian tengah pulau ini bergunung-gunung dengan permukaan kasar, sehingga semenanjung di Sulawesi pada dasarnya jauh satu sama lain, yang lebih mudah dijangkau melalui laut daripada melalui jalan darat. Ada tiga teluk yang membagi semenanjung-semenanjung di Sulawesi, dari utara ke selatan, yaitu Teluk Tomini, Tolo dan Bone. Ketiganya memisahkan Semenanjung Minahasa atau Semenanjung Utara, Semenanjung Timur, Semenanjung Tenggara dan Semenanjung Selatan.
Selat Makassar membentang di sepanjang sisi barat pulau ini.[5] Sulawesi dikelilingi oleh Kalimantan di sebelah barat, oleh Filipina di sebelah utara, oleh Maluku di timur, serta oleh Flores dan Timor di selatan.
Kepulauan Selayar membentuk
semenanjung yang membentang ke selatan dari bagian barat daya Sulawesi hingga
ke Laut Flores,
dan secara administratif merupakan bagian dari Sulawesi Selatan. Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud membentang ke
utara dari ujung timur laut Sulawesi, sementara Pulau Buton dan pulau-pulau
tetangganya berbatasan dengan semenanjung tenggara. Kepulauan Togean berada di tengah
Teluk Tomini, dan Pulau Peleng serta Kepulauan Banggai membentuk sebuah
gugusan pulau antara Sulawesi dan Maluku. Semua pulau yang disebutkan di atas,
dan pulau-pulau yang lebih kecil secara administratif, merupakan bagian dari
enam provinsi di Sulawesi.
Pulau ini terbentuk melalui lekukan tepi laut dalam yang mengelilinginya hingga wilayah pedalaman berupa pegunungan yang tinggi, dan sebagian besar non-vulkanik. Gunung berapi aktif ditemukan di Semenanjung Minahasa yang berada di utara Sulawesi, dan terus membentang ke utara menuju Kepulauan Sangihe. Semenanjung utara Sulawesi merupakan tempat bagi beberapa gunung berapi aktif seperti Gunung Lokon, Gunung Awu, Soputan dan Karangetang.
Menurut rekonstruksi lempeng, pulau ini diyakini terbentuk melalui proses tumbukan terran antara Lempeng Asia (yang membentuk semenanjung barat dan barat daya) dan Lempeng Australia (yang membentuk semenanjung tenggara dan Banggai), dengan busur kepulauan yang sebelumnya berada di Samudera Pasifik (dan membentuk semenanjung utara dan timur). Karena ketidakstabilan riwayat tektoniknya, berbagai sesar terbentuk dan akibatnya pulau ini menjadi rawan gempa bumi.
Sulawesi, berbeda dengan sebagian besar pulau lainnya di wilayah biogeografis Wallacea, tidak sepenuhnya memiliki sifat samudera, namun merupakan pulau komposit di pusat zona tabrakan Asia-Australia. Bagian dari pulau ini sebelumnya menyatu, entah pada batas benua Asia atau Australia sebelum akhirnya terpisah dari benua asalnya melalui proses vikarian.[7] Di sebelah barat, pembukaan Selat Makassar memisahkan Sulawesi Barat dari Sundaland pada zaman Eosen sekitar 45 juta tahun yang lalu.[7] Di sebelah timur, pandangan awam tentang tumbukan yang melibatkan beberapa fragmen mikro-benua yang terpisah dari Pulau Nugini dengan batas volkanik aktif di Sulawesi Barat pada waktu yang berbeda sejak zaman Miosen Awal sekitar 20 juta tahun yang lalu, baru-baru ini digantikan oleh hipotesis bahwa fragmen tambahan tersebut merupakan hasil dari tabrakan tunggal yang terjadi pada zaman Miosen antara Sulawesi Barat dengan Titik Sula, yang merupakan ujung barat dari sabuk lipat kuno asal Variskan pada zaman Paleozoikum Akhir.
B.
CIRI BUDAYA
LOKAL
BAHASA
Etnik Bugis Mempunyai Bahasa Tersendiri
Dikenali Sebagai Bahasa Bugis (Ugi)
Konsonan Di Dalam Ugi Pula Di Kenali Sebagai Lontara Yang Berdasarkan Tulisan
Brahmi. Orang Bugis Mengucapkan Bahasa Ugi Dan Telah Memiliki Kesusasteraan
Tertulis Sejak Berabad-Abad Lamanya Dalam Bentuk Lontar. Huruf Yang Dipakai
Adalah Aksara Lontara, Sebuah Sistem Huruf Yang Berasal Dari Sanskerta.
Seperti Halnya Dengan Wujud-Wujud Kebudayaan Lainnya. Penciptaan Tulisan Pun Diciptakan Karena Adanya Kebutuhan Manusia Untuk Mengabdikan Hasil-Hasil Pemikiran Mereka. Kata Lontaraq Berasal Dari Bahasa Bugis/Makassar Yang Berarti Daun Lontar. Karena Pada Awalnya Tulisan Tersebut Di Tuliskan Diatas Daun Lontar. Tiap-Tiap Daun Lontar Disambungkan Dengan Memakai Benang Lalu Digulung Pada Jepitan Kayu, Yang Bentuknya Mirip Gulungan Pita Kaset.
Cara
Membacanya Dari Kiri Kekanan.
Lontara Bugis-Makassar Merupakan Sebuah Huruf Yang Sakral Bagi Masyarakat Bugis Klasik. Huruf Lontara Tidak Hanya Digunakan Oleh Masyarakat Bugis Tetapi Huruf Lontara Juga Digunakan Oleh Masyarakat Makassar.
Contoh Pemakaian Bahasa Bugis: “Makan
Ma’ki (Silakan Anda Makan)”.
“Aga Tapigau?”( Apa Yang Sedang Anda Lakukan?). Adapun Partikel-Partikel Yang
Biasa Digunakan Dalam Bahasa Bugis-Makassar Seperti Ji, Mi, Pi, Mo, Ma’, Di’,
Tonji, Tawwa, Pale. Contoh Penggunaannya Misalnya : “Tidak Papa Ji.” (Tidak
Apa-Apa).
MATA PENCAHARIAN
Sistem Mata
Pencaharian Masyarakat Suku Bugis, Karena letaknya yang berada di daerah
dataran yang subur kebanyakan masyarakat bugis bermata pencaharian sebagai
petani. Faktor ini sangat di dukung oleh kesuburan tanah yang sangat sehingga
menjadikan wilayah suku bugis menjadi wilayah pertanian.mata pencaharian
lainnya di suku bugis adalah nelayan, selain terletak di dataran yang subur
suku bugis juga mempunyai wilayah di pesisir yang di anugrahi banyak sumber
daya yang melimpah di lautan. Hal ini di manfaatkan masyarakat untuk mencari
penghasilan di lautan.
Mata pencaharian terakhir yang banyak di
geluti oleh masyarakat bugis adalah pedagang karena hasil dari para petani dan
nelayan akan di distribusikan ke pedagang pedagang, lalu pedagang mengumpulkan
jumlah yang lebih besar dan di distribusikan kembali ke masyarakat umum suku
bugis. Dari semua mata pencaharian semua inilah masyarakat suku bugis
mendapatkan perekonomian untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.
Selain itu pada masa sekarang masyarakat
suku bugis juga sudah banyak yang mengenyam dunia pendidikan dan masuk ke dunia
birokrasi pemerintahan.jadi dari birokrasi yang telah dijalankan sebagian kecil
masyarakat bugis mampu mendapatkan perekonomian yang baik. Tapi mata
pencaharian yang sangat umum adalah petani, hal ini dikarenakan banyak
kebutuhan kebutuhan masyarakat suku bugis sehari harinya dihasilkan oleh lading
pertanian misalnya seperti beras, jagung, tembakau,
SISTEM RELIGI
Masyarakat
Bugis banyak tinggal di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Mereka penganut
Islam yang taat. Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal
yang mempunyai nama-nama sebagai berikut.
- Patoto-e
adalah dewa penentu nasib.
- Dewata
Seuwa-e adalah dewa tunggal.
- Turie
a’rana adalah kehendak tertinggi.
Masyarakat
Bugis menganggap bahwa budaya (adat) itu keramat. Budaya (adat) tersebut
didasarkan atas lima unsur pokok panngaderreng (aturan adat yang keramat dan
sakral), yaitu sebagai berikut.
- Ade
(‘ada dalam bahasa Makassar).
- Bicara.
- Rapang.
- Wari’.
- Sara’.
KESENIAN
1.
Tari Paduppa Bosara
Tari
Padupa Bosara Merupakan Sebuah Tarian Yang Mengambarkan Bahwa Orang Bugis
Kedatangan Atau Dapat Dikatakan Sebagai Tari Selamat Datang Dari Suku Bugis.
Orang Bugis Jika Kedtangan Tamu Senantisa Menghidangkan Bosara Sebagai Tanda
Kehormatan.
2.
Tari Pakarena
Tari
Pakarena Merupakan Tarian Khas Sulawesi Selatan, Nama Pakarena Sendiri Di Ambil
Dari Bahasa Setempat, Yaitu Karena Yang Artinya Main. Tarian Ini Pada Awalnya
Hanya Dipertunjukkan Di Istana Kerajaan, Namun Dalam Perkembangannya Tari
Pakarena Lebih Memasyarakat Di Kalangan Rakyat.
Tari Pakarena Memberikan Kesan
Kelembutan. Hal Tersebut Mencerminkan Watak Perempuan Yang Lembut, Sopan,
Setia, Patuh Dan Hormat Pada Laki-Laki Terutama Pada Suami. Sepanjang
Pertunjukan Tari Pakarena Selalu Diiringi Dengan Gerakan Lembut Para Penarinya
Sehingga Menyulitkan Bagi Masyarakat Awam Untuk Mengadakan Babak Pada Tarian
Tersebut.
3.
Tari Ma’badong
Tari
Ma’badong Hanya Diadakan Pada Saat Upacara Kematian. Penari Membuat Lingkaran
Dengan Mengaitkan Jari-Jari Kelingking, Penarinya Bisa Pria Atau Bisa Wanita.
Mereka Biasanya Berpakaian Serba Hitam, Namun Terkadang Memakai Pakaian Bebas
Karena Tarian Ini Terbuka Untuk Umum.
Tarian Yang Hanya Diadakan Pada
Upacara Kematian Ini Hanya Dilakukan Dengan Gerakan Langkah Yang Silih Berganti
Sambil Melangtungkan Lagu Kadong Badong. Lagu Tersebut Syairnya Berisikan
Riwayat Manusia Malai Dari Lahir Hingga Mati, Agar Arwah Si Mati Diterima Di
Negeri Arwah Atau Alam Baka. Tarian Badong Bisanya Belansung Berjam-Jam, Sering
Juga Berlansung Semalam Suntuk.
Tarian Ma’badong Bisanya Dibawakan
Hanya Pada Upacara Pemakaman Yang Lamanya Tiga Hari Tiga Malam Khusus Bagi Kaum
Bangsawan Di Daerah Tana Toraja Sulawesi Selatan.
4.
Tarian Pa’gellu
Tari
Pagellu Merupakan Salah Satu Tarian Dari Tana Toraja Yang Di Pentaskan Pada
Acara Pesta Tambu Tuka, Tarian Ini Juga Dapat Ditampilkan Untuk Menyambut
Patriot Atau Pahlawan Yang Kembali Dari Medan Perang Dengan Membawa
Kegembiraan.
5.
Tari Mabbissu
Tari
Mabissu Merupakan Tarian Bissu Yang Biasanya Dipertunjukkan Ketika Upacara
Adat. Para Penarinya Bissu (Orang Yang Kebal) Yang Selalu Mempertontokan
Kesaktian Mereka Dalam Bentuk Tarian Komunitas Bissu Bisa Kita Jumpai Didaerah
Pangkep Sigeri Sulawesi Selatan.
6.
Tari Kipas
Tari
Kipas Merupakan Tarian Yang Memrtunjukan Kemahiran Para Gadis Dalam Memainkan
Kipas Dengan Gemulai Alunan Lagu.
7.
Gandrang Bulo
Gandrang
Bulo Merupakan Sebuah Pertunjukan Musik Dengan Perpaduan Tari Dan Tutur Kata.
Nama Gandrang Bulo Sendiri Diambil Dari Perpaduan Dua Suku Kata, Yaitu Gendang
Dan Bulo, Dan Jika Disatukan Berarti Gendang Dari Bambu. Ganrang Bulo Merupakan
Pertunjukan Kesenian Yang Mengungkapkan Kritikan Dan Dikemas Dalam Bentuk Lelucon
Atau Banyolan.
8.
Kecapi
Kecapi
Merupakan Sala Satu Alat Musik Petik Tradisional Sulawesi Selatan, Khusunya
Suku Bugis. Baik Itu Bugis Makassar Ataupun Bugis Mandar. Menurut Sejarahnya
Kecapi Ditemukan Atau Diciptakan Oleh Seorang Pelaut Sehingga Betuknya
Menyerupai Perahu. Kecapi, Biasanya Ditampilkan Sebagai Musik Pengiring Pada
Acara Penjemputan Para Tamu Pada Pesta Perkawinan, Hajatan, Bahkan Hiburan Pada
Hari Ulang Tahun.
9.
Gendang
Gendang
Merupakan Sala Satu Alat Musik Perkusi Yang Mempunyai Dua Bentuk Dasar, Yakni
Bulat Panjang Dan Bundar Mirip Seperti Rebana.
10.
Suling
Suling
Bambu Terdiri Dari Tiga Jenis, Yaitu:
·
Suling
Panjang (Suling Lampe) Yang
Memiliki Lima Lubang Nada Dan Jenis Suling Ini Telah Punah.
·
Suling
Calabai (Siling Ponco) Suling Jenis Ini Sering Dipadukan Dengan Biola, Kecapi Dan
Dimainkan Bersama Penyanyi.
·
Suling
Dupa Samping (Musik Bambu) Musik Bambu Masih Sangat Terpelihara Biasanya Digunakan Pada
Acara Karnaval Atau Acara Penjemputan Tamu.
POTENSI WISATA
Dari segi keindahan alam, Sulawesi
Selatan tidak kalah dengan daerah lainnya di nusantara bahkan memiliki kekhasan
dan keunikan tersendiri. Salah seorang teman saya dari Kalimantan Timur yang
beberapa minggu lalu datang berlibur ke Sulawesi Selatan mengakui keindahan
alamnya. “Jauh lebih indah dibanding daerah saya” pujinya.
Saya sendiri sebagai orang Sulawesi
Selatan ketika melakukan perjalanan ke daerah misalnya ke Bone ataupun Tana
Toraja takjub dengan pemandangan alam yang tersaji indah memanjakan mata disepanjang
perjalanan yang saya lalui. Untaian pengunungan sambung menyambung yang
terhampar hijau. Belum lagi wisata air terjun yang dimiliki Sulawesi Selatan
misalnya Bantimurung. Keindahan alam ini juga merupakan sebuah potensi wisata
yang bisa dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Bukan cuma keindahan alam berupa
pengunungan tapi kita juga patut berbangga hati karena memiliki potensi wisata
bahari dan pantai yang bisa menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Sulawesi
Selatan. Pantai Losari, Pantai Akkarena, dan Tanjung Bira adalah salah satu
contohnya. Keindahan bawah laut yang dimiliki juga bisa menjadi daya tarik bagi
para penyelam untuk menjelajahinya misalnya di Pulau Lanjukang dan Pulau
Langkai.
Selain wisata alam dan bahari,
Sulawesi Selatan juga memiliki banyak wisata sejarah. Contohnya di Makassar
saja ada Fort Rotterdam, Benteng Somba Opu, Makam Diponegoro, Kuburan Raja-Raja
Tallo, dan Makam Syech Yusuf. Belum lagi potensi wisata sejarah lainnya yang
tersebar di seluruh daerah yang ada di Sulawesi Selatan.
Untuk urusan kuliner, Sulawesi
Selatan memiliki banyak kuliner khas yang enak-enak tentunya misalnya Coto
Makassar, Pallubasa, Konro, dan lain sebagainya.
Agar pembaca tidak penasaran dengan
apa yang saya terangkan diatas, berikut saya paparkan beberapa potensi wisata
yang ada di Sulawesi Selatan khususnya Makassar yang menjadi salah satu kota tujuan utama wisata di
daerah ini.
Wisata Pantai
:: Pantai Losari
Makassar memiliki wisata
pantai yang terkenal baik dalam maupun luar negeri. Pantai Losari namanya
pantai yang indah dengansunset (matahari terbenamnya) yang eksotis,
salah satu sunset terbaik. Ketika sore tiba banyak yang
berjalan sore ke pantai ini dan menikmati nuansa senja di anjungan pantai
losari. Pantai losari dulu dikenal dengan restoran terpanjangnya, karena di
sepanjang bibir pantai dipenuhi dengan pedagang kaki lima yang menjajakan
berbagai kuliner khas Makassar. Seiring pengembangan pantai losari pedagang
kaki lima ini direlokasi.
Hari minggu pagi Pantai Losari menjadi pusat olah raga dan belanja bagi warga
Makassar. Jalan di sekitar pantai losari di tutup hingga jam 10.00 pagi. Warga
banyak melakukan jogging, bersepeda, senam kesegaran jasmani dan aerobik
ataukah sekedar berjalan-jalan menikmati suasana pagi di Pantai Losari.
Pasar dadakan di Pantai losari menjadi keunikan tersendiri, segala kebutuhan
tersedia di sini mulai dari pakaian, sepatu, tas, penjual obat, penjual
kelinci, penjual ikan, alat masak, makanan, minuman, dan banyak lagi yang lain.
:: Pantai Akkarena
Pantai Akkarena merupakan salah satu
objek wisata favorit bagi warga Makassar dan sekitarnya. Pantai yang indah
dengan pasirnya yang hitam yang dulu di kenal dengan nama Tanjung Bunga. Ramai
dikunjungi wisatawan untuk sekedar jalan-jalan, berenang, menikmati keindahan
sunset di kala senja, ataukah memacu adrenalin dengan ber-Banana Boat ria
ataupun ber-Jet Ski.
:: Pelabuhan Paotere
Pelabuhan Paotere adalah pelabuhan
warisan kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14. Anda ingin melihat kapal Phinisi
yang melegenda itu? Pelabuhan Paotere tempatnya. Masih banyak kapal phinisi
yang berlabuh di pantainya. Paotere berfungsi sebagai pelabuhan perdagangan dan
transportasi antar pulau yang ramai dengan kapal yang bersandar. Aktivitas
nelayan dan bongkar muat yang ada di pelabuhan ini menjadi pemandangan khas dan
keunikan tersendiri. Selain itu di pelabuhan ini banyak terdapat warung-warung
yang menjajakan kuliner khas Poetere, Seafood segar dengan
cobek-cobek sambel khas Makassar.
Wisata Sejarah
Bagi anda yang suka berwisata
sejarah Makassar bisa menjadi salah satu tujuan utama. Makassar termasuk kota
tua yang memiliki banyak peninggalan bersejarah. Letak kota Makassar yang
berada di pesisir pantai menjadikannya tempat yang strategis untuk membangun
pusat perdagangan dan benteng-benteng pertahanan antara lain Benteng Rotterdam
dan Benteng Somba Opu. Selain itu juga terdapat makam pahlawan nasional
antara lain kuburan tua raja-raja Tallo, makam Pangeran Diponegoro, dan
Makam Syech Yusuf.
:: Fort Rotterdam
Fort Rotterdam atau Benteng Ujung
Pandang merupakan peninggalan sejarah sejak pemerintahan raja Gowa ke-9
yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna. Di
kompleks Benteng Ujung Pandang ini terdapat Museum La Galigo yang didalamnya
terdapat referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah
lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.
:: Benteng Somba Opu
Benteng ini juga merupakan salah
satu peninggalan bersejarah kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun dengan tanah liat
dan putih telur sebagai pengganti semen. Benteng ini merupakan pusat
perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing
dari asia dan eropa.
Pada tahun 1669 benteng ini dikuasai
VOC yang kemudian dihancurkan hingga terendam ombak pasang. Pada tahun 1980-an
benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuwan. Didalam benteng ini
terdapat miniatur budaya antara lain bangunan rumah adat Sulawesi Selatan (yang
mewakili Bugis, Makassar, Mandar dan Kajang). Juga terdapat sebuah meriam
bernama “Baluwara Agung” sepanjang 9 meter dengan berat 9.500 Kg dan sebuah
museum benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa.

:: Kuburan Tua Raja-Raja Tallo
Kompleks makam ini dibangun sekitar
abad ke-17 yang merupakan tempat pemakaman raja-raja Tallo abad ke-17 hingga
abad ke-19. Konstruksi bangunan makam ini terdapat beberapa tipe antara lain
tipe susun-timbun yang bentuknya mirip candi-candi di Jawa, tipe papan batu,
dan tipe kubah.
:: Makam Pangeran Diponegoro
Siapa yang tak kenal pahlawan
nasional kita Pangeran Diponegoro. Beliau adalah putra sulung Sultan
Hamengkubuwono III Yogyakarta yang aktif berjuang melawan penjajah. Pada tahun
1845 beliau ditangkap dan dipenjara di benteng Rotterdam, kemudian diasingkan
di Manado setelah itu dikembalikan lagi ke Makassar dan wafat 8 Januari 1855 di
Makassar. Makam beliau terletak di Jalan Dipoenegoro Makassar dan sangat mudah
di jangkau dengan kendaraan umum.
:: Makam Syech Yusuf
Syech Yusuf Tajul Khalwati Lahir di
Gowa, 3 Juli 1626. Beliau merupakan ulama terkemuka yang aktif berdakwah dan
menyebarkan islam. Syech Yusuf juga aktif berjuang melawan Belanda. Karena
perlawanannya tersebut beliau pun diasingkan ke Srilanka, dipengasingannya
tersebut beliau melahirkan karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu dan
Bugis. Kemudian beliau diasingkan lagi ke Afrika Selatan dan akhirnya menutup
usia di Negara tersebut. Sultan Gowa meminta VOC supaya jenazah tersebut
dikembalikan ke tanah airnya dan permintaan tersebut dikabulkan. Makam beliau
terletak di Jalan Syech Yusuf (Perbatasan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar).
Hampir tiap hari makam ini ramai dikunjungi para peziarah.
Wisata Kuliner
Makassar terkenal dengan berbagai
kuliner khasnya antara lain Coto Makassar, Pallubasa, Sup Konro, Konro Bakar,
Sup Ulu Juku’ (Sup Kepala Ikan), Pisang Epe’, Pisang Ijo, Pallubutung, dan
masih banyak lagi kuliner lainnya yang akan memanjakan lidah anda.

Wisata Belanja
Berkunjung ke Sulawesi Selatan tak
lengkap rasanya jika tidak membawa pulang buah tangan khas daerah ini. Artikel
tentang oleh-oleh khas Sulawesi Selatan sudah saya tuliskan di postingan
blog saya yang lalu yaitu “Berbagai Buah
Tangan Khas Sulawesi Selatan”.
Wisata Religi
:: Masjid Raya Makassar
Masjid Raya Makassar ini
berlantai dua yang sanggup menampung 10.000 jamaah. Arsitekturnya mengadopsi
Masjid Cordoba Spanyol. Masjid ini banyak dipergunakan untuk berbagai kegiatan
keagamaan oleh warga Makassar dan sekitarnya.
:: Masjid Al-Markaz Al-Islami
Makassar
Masjid yang dibangun pada tahun 1994
ini menjadi pusat pengembangan ibadah agama Islam terbesar dan termegah di Asia
Tenggara

C.
PENGARUH KONDISI
GEOGRAFIS TERHADAP BERAGAM BUDAYA
Adapun letak astronomis Indonesia
yaitu 6° LU (Lintang Utara) – 11° LS (Lintang Selatan) dan 95° BT (Bujur
Timur) – 141° BT (Bujur Timur). Letak astronomis suatu negara berpengaruh
kepada pembagian waktu. Seperti yang kita ketahui Indonesia memiliki 3 bagian
waktu diantaranya WIB (Waktu Indonesia Barat), WIT ( Waktu Indonesia Timur) dan
WITA (Waktu Indonesia Tengah) dengan selisih 1 jam dari setiap bagian waktu
tersebut.
Selain berpengaruh terhadap
pembagian waktu, letak astronomis berpengaruh terhadap iklim
Indonesia. Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia memiliki ciri-ciri
iklim yang khas, antara lain:
·
Memiliki curah hujan yang tinggi,
sekitar 200mm pertahun
·
Memiliki hutan hujan tropis yang
sangat luas
·
Sepanjang tahun Indonesia
mendapatkan penyinaran matahari
·
Temperatur tinggi antara 260° C
hingga 280° C.
·
Keanekaragaman hayati yang sangat
banyak dibandingkan negara lain
·
Memiliki kelembapan udara yang cukup
tinggi
Pengaruh Letak Geografis Terhadap
Keadaan Alam Indonesia merupakan kepulauan yang terletak diantara Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik, dan terletak diantara Benua Asia dan Benua
Australia. Hal ini berpengaruh pada keadaan alam Indonesia, yaitu :
·
Wilayah Indonesia memiliki iklim
laut
·
Wilayah Indonesia memiliki iklim
musim
Berikut ini penjelasan lengkap
mengenai iklim laut dan iklim musim yang berada di wilayah Indonesia.
·
Iklim Laut
Iklim laut terjadi karena wilayah
Indonesia merupakan negara kepulauan yang di kelilingi oleh perairan laut yang
sangat luas, sehingga peran
dunia internasional dalam konflik Indonesia Belanda banyak memperoleh pengaruh aingin laut yang
menyebabkan sering terjadi hujan. Iklim laut biasanya berada pada daerah tropis
dan subtropis.
·
Iklim
Musim
Iklim musim terjadi karena adanya pengaruh
angin muson yang setiap 6 bulan sekali bertiup dengan bergantian arah.
Terjadinya pergantian musim kemarau ke musim hujan ataupun sebaliknya terjadi
karena adanya pergantian arah angin musim yang terjadi setengah tahun sekali.
Angin musim terdiri dari dua jenis berdasarkan arahnya yaitu angin musim barat
dan angin musim timur. Dibawah ini penjelasan lengkap mengenai jenis angin
musim (angin muson) :
·
Angin
Musim (muson) Barat
Angin musim barat biasanya terjadi
di antara bulan Oktober sampai bulan April. Pada bula Oktober sampai April
biasanya ada perbedaan keragaman
suku bangsa dan budaya dari
beberapa tekanan udara di bumi bagian utara dan bumi bagian selatan. Pada
saat bumi bagian utara mengalami musim dingin, maka di bumi bagian selatan
memiliki tekanan yang tinggi. Angin yang bertiup di bukan Oktober sampai April
memiliki sifat basah oleh karena itu biasanya Indonesia pada bulan Oktober
hingga April mengalami musim hujan. Arah angin yang berhembus pada bulan
Oktober sampai April yaitu dari Asia dan Samudera Pasifik menuju Australia dan
terdapat lintasan yang melalui wilayah Indonesia.
·
Angin Musim (muson) Timur
Angin musim Timur terjadi antara
bulan April hingga Oktober, hal ini disebabkan adanya perbedaan tekanan udara
di belahan bumi selatan dan utara. Pada saat musim dingin di belahan bumi
bagian selatan, saat itu pula tekanan di selatan lebih tinggi dari pada di bumi
bagian utara. Oleh karena itu, angin bertipu dari bumi bagian selatan
(Australia) menuju Asia pada saat itu melewati wilayah Indonesia.
Pengaruh
Letak Geografis Terhadap Keadaan Sosial
Letak geografis Indonesia memberikan
pengaruh dari berbagai aspek baik dari sosial atau kebudayaan, ekonomi, maupun
politik.
1.
Bidang Sosial dan Kebudayaan
Letak geografis yang strategis
sangat berpengaruh terhadap bangsa Indonesia. Karena dengan letak yang
strategis Indonesia dapat dengan penyebab kegagalan
LBB sehingga mudah
berhubungan dengan bangsa lain dengan begitu proses interaksi
sosial bangsa Indonesia akan lebih
dinamis.Sedangkan terhadap kebudayaan yaitu Indonesia terletak pada
wilayah yang strategis, dan banyak di lalui berbagai bangsa asing dari zaman
dahulu hingga sekarang itu menyebabkan adat, kebiasaan, agama, dan bahasa asing
ikut terbawa kepada Indonesia. Beberapa negara yang berpengaruh terhadap
kebudayaan Indonesia diantaranta Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda, Timur
Tengah, Cina, India, dll.
Akibat interaksi sosial antara
bangsa Indonesia dengan bangsa Asing maka terjadilah proses akulturasi ataupun
asimilasi. Datangnya bangsa-bangsa tersebut membuat bangsa Indonesia menganut
agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, dan khonghucu. Percampuran bangsa dan
kebudayaan Indonesia dari barat membuat kebudayaan Indonesia yang beragam
(Bhinneka Tunggal Ika).Indonesia memiliki kondisi alam dan wilayah yang sangat
luas sehingga perilaku dan kebudayaan bangsa Indonesia beraneka ragam.
Indonesia memiliki banyak aneka ragam suku bangsa dan adat kebudayaan, tercatat
kurang lebih 250 suku yang berada di Indonesia dan masih banyak suku yang belum
teridentifikasi juga.
2.
Bidang Ekonomi
Karena Indonesia berada pada wilayah
strategis, maka Indonesia sering menjadi wilayah persimpangan lalu lintas dan
titik persilangan kegiatan perekonomian dunia. Berikut ini letak geografis
terhadap ekonomi di Indonesia :
·
Letak wilayah yang berada pada
posisi silang menyebabkan Indonesia banyak mempunyai kerjasama perekenomian
dengan negara-negara berkembang.
·
Karena Indonesia terletak diantara
samudera hindia dan samudera pasifik yang menjadi jalur pelayaran, hal itu akan
menunjan Indonesia dalam lalu lintas perdagangan.
·
Karena Indonesia terletak di antara
Benua Asia dan Australia maka indonesia memiliki iklim musim yang berganti 6
bulan sekali yaitu musim hujan dan musim kemarau, hal itu berpengaruh baik bagi
perekenomian Indonesia dalam bidang perkebunan. Dan hasil perkebunan yang bagus
akan membuat Indonesia memperbesar ekspor hasil perkebunan.
·
Karena Indonesia terletak di antara
Benua Australia dan Asia maka dapat dijadikan sebagai daya tarik kerjasama
antar negara bersama dengan negara-negara ASEAN
D.
BENTUK KEARIFAN
LOKAL
Pada masyarakat Bugis, kearifan lokal ternyata terdokumntasi
dengan baik dalamkarya sastra mereka dan tertuang dalam karya sastra Bugis
klasik.
1. Bawaan
Hati yang Baik (Ati Mapaccing)
Dalam
bahasa Bugis, Ati Mapaccing (bawaan hati yang baik) berarti nia’ madeceng (niat
baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata
nia’ maja’ (niat jahat), nawa-nawa masala (niat atau pikiran bengkok). Dalam
berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas,
baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik.
Tindakan
bawaan hati yang baik dari seseorang dimulai dari suatu niat atau itikad baik
(nia mapaccing), yaitu suatu niat yang baik dan ikhlas untuk melakukan sesuatu
demi tegaknya harkat dan martabat manusia. Bawaan hati yang baik mengandung
tiga makna, yaitu a) menyucikan hati, b) bermaksud lurus, dan c) mengatur
emosi-emosi. Pertama, manusia menyucikan dan memurnikan hatinya dari segala
nafsu- nafsu kotor, dengki, iri hati, dan kepalsuan-kepalsuan. Niat suci atau
bawaan hati yang baik diasosiasikan dengan tameng (pagar) yang dapat menjaga
manusia dari serangan sifat-sifat tercela. Ia bagai permata bercahaya yang
dapat menerangi dan menjadi hiasan yang sangat berharga. Ia bagai air jernih
yang belum tercemar oleh noda-noda atau polusi. Segala macam hal yang dapat
menodai kesucian itu harus dihindarkan dari hati, sehingga baik perkataan
maupun perbuatan dapat terkendali dengan baik.
2. Konsep
Pemerintahan yang Baik (good governance)
Istilah
good governance tak bisa dilepaskan dari konteks perbincangan mengenai politik
dan paradigma pembangunan yang berkembang di dunia. Bila dilacak agak teliti,
penggunaan istilah ini belum lebih dari dua dekade. Diduga, good governance
pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah resolusi The Council
of the European Community yang membahas Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan
Pembangunan.. Di dalam resolusi itu disebutkan, diperlukan empat prasyarat lain
untuk dapat mewujudkan Pembangunan yang berkelanjutan, yaitu mendorong
penghormatan atas hak asasi manusia, mempromosikan nilai demokrasi, mereduksi
budget pengeluaran militer yang berlebihan dan mewujudkan good governance.
Sejak saat itu, good governance mulai diperbincangkan dan diakomodasi dalam
berbagai konvensi dan resolusi yang berkaitan dengan pembangunan, baik dalam
perbincangan pembangunan di UNDP maupun di Lome Convention, Bantuan Pembangunan
yang bersifat Multilateral dan Bilateral.
Istilah
good governance telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang
amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata pemerintahan yang baik (UNDP),
pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang
mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih (Effendi, 2005).
Dalam
kepustakaan Bugis, untuk terwujudnya permerintahan yang baik, seorang pemimpin
dituntut memiliki 4 kualitas yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya.
Keempat kualitas itu terungkap dalam ungkapan Bugis.
Maccai
na Malempu;
Waraniwi
na Magetteng
(Cendekia
lagi Jujur, Berani lagi Teguh dalam Pendirian.)
Bila
ungkapan di atas diurai maka ada empat karakteristik seorang pemimpin yang
diangap dapat memimpin suatu negeri, yaitu: cendekia, jujur, berani, dan teguh
dalam pendirian. Ungkapan itu bermakna bahwa kepandaian saja tidak cukup.
Kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran, karena banyak orang pandai
menggunakan kepandaiannya membodohi orang lain. Karerna itu, kepandaian
haruslah disertai dengan kejujuran. Selanjutnya, keberanian saja tidak cukup.
Keberanian haruslah disertai dengan keteguhan dalam pendirian. Orang yang
berani tetapi tidak cendekia dan teguh dalam pendirian dapat terjerumus dalam
kenekadan.
Syarat
terselenggaranya pemerintahan negeri dengan baik terungkap dalam Lontarak bahwa
pemimpin negeri haruslah:
·
Jujur terhadap Dewata Seuwae
(Tuhan YME) dan sesamanya manusia.
·
Takut kepada Dewata Seuwae
(Tuhan YME) dan menghormati rakyatnya dan orang asing serta tidak
membeda-bedakan rakyatnya.
·
Mampu memperjuangkan kebaikan
negerinya agar berkembang biak rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya
perselisihan antara pejabat kerajaan dan rakyat.
·
Mampu menjamin kesejahteraan
rakyatnya.
·
Berani dan tegas, tidak gentar
hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan berita baik (tidak mudah terbuai
oleh sanjungan).
·
Mampu mempersatukan rakyatnya
beserta para pejabat kerajaan.
·
Berwibawa terhadap para pejabat
dan pembantu-pembantunya.
·
Jujur dalam segala
keputusannya.
Kemudian,
I Mangada’cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang membuat pesan yang isinya
bahwa ada lima sebab yang menyebabkan negeri itu rusak, yaitu:
1. Kalau
raja yang memerintah tidak mau diperingati.
2. Kalau
tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.
3. Kalau
para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.
4. Kalau
terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu negara.
5. Kalau
raja tidak menyayangi rakyatnya.
3. Demokrasi (Amaradekangeng)
Kata
amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas.
Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut:
Niaa
riasennge maradeka, tellumi pannessai:
Seuani,
tenrilawai ri olona.
Maduanna,
tenriangkai’ riada-adanna.
Matellunna,
tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao
ri awa
Demokrasi
sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara terungkap dalam sastra Bugis sebagai
berikut:
Yang
disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya:
pertama,
tidak dihalangi kehendaknya;
kedua,
tidak dilarang mengeluarkan pendapat;
ketiga
tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah.
Itulah hak-hak kebebasan.
Rusa
taro arung, tenrusa taro ade,
Rusa
taro ade, tenrusa taro anang,
Rusa
taro anang, tenrusa taro tomaega.
(Batal
ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal
ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak).
Keamanaan,
dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep di atas sejalan dengan
konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan ada di tangan
rakyat. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti
rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan
sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan
dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Dalam
ungkapan itu, jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Rakyat berarti segala-galanya bagi negara. Raja
atau penguasa hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi kepercayaan
untuk mengurus administrasi.
Dari
kutipan itu, jelas tergambar bahwa kekuatan berada di tangan rakyat, bukan di
tangan raja. Jika hal ini dihubungkan dengan teori demokrasi Rousseau tentang
volonte generale atau kehendak umum dan volonte de tous atau kehendak khusus,
jelas tergambar bahwa teori Rousseau berkesesuaian dengan sistem pemerintahan
yang dikembangkan di Tanah Bugis yaitu apabila dua kepentingan (antara penguasa
dan rakyat) bertabrakan, kepentingan yang harus dimenangkan adalah kepentingan
rakyat (umum).
Dalam
menjalankan pemerintahan, raja selalu berusaha untuk bertindak secara ekstra
hati-hati. Sesuatu yang akan dibebankan kepada rakyat haruslah terlebih dahulu
dipertimbangkan. Artinya, acuan utama dari setiap tindakan adalah rakyat. Hal
tersebut tertuang dalam Getteng Bicara (undang-undang) sebagai berikut.
“Takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang rendah saya
tempatkan di bawah, yang tengah saya tempatkan di tengah, yang tinggi saya
tempatkan di atas.”
Ketetapan
hukum yang tergambar dalam getteng bicara di tanah Bugis menunjukkan bahwa raja
tidak akan memutuskan suatu kebijakan bila raja itu sendiri tidak merasa
nyaman. Raja menjadikan dirinya sebagai ukuran dan selalu berusaha berbuat
sepatutnya. Dari argumentasi itu, jelas tergambar bahwa negara adalah
sepenuhnya milik rakyat dan bukan milik raja. Raja tidak dapat berbuat
sekehendak hatinya kepada negara yang menjadi milik dari rakyat itu. Raja sama
sekali tidak dapat membuat peraturan dengan seenaknya, terutama menyangkut
kepentingan dirinya atau keluarganya. Semua peraturan yang akan ditetapkan oleh
raja harus melalui persetujuan dari kalangan wakil rakyat yang telah mendapatkan
kepercayaan dari rakyat. Jika raja melanggar ketentuan itu, berarti raja telah
melanggar kedaulatan rakyat.
Adat
menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut:
·
Mannganro
ri ade’, memohon petisi atau
mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang
hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai
akibat kesalahan pemerintah.
·
Mapputane’, menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah yang
memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut kelompok, maka
mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika
perseorangan, langsung menghadap raja.
·
Mallimpo-ade’, protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja,
dan karena usaha melalui mapputane’ gagal. Orang banyak, tetapi tanpa
perlengkapan senjata mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak
meninggalkan tempat itu kecuali permasalahannya selesai.
·
Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipial
masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panngadereng oleh
raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di
balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau
tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada
keadaan negara.
·
Mallekke’
dapureng, tindakan protes rakyat dengan
berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena sudah tidak mampu melihat
kesewenang-wenangan di dalam negerinya dan protes-protes lain tidak ampuh.
Mereka berkata: “Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang
melepaskan diri dari kekuasaannya”.(Mattulada, 1985)
4. Kesetiakawanan
Sosial (assimellereng)
Konsep
assimellereng mengandung makna kesehatian, kerukunan, kesatupaduan antara satu
anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, antara seorang sahabat dengan
sahabat yang lain. Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, setia kawan, cepat
merasakan penderitaan orang lain, tidak tega membiarkan saudaranya berada dalam
keadaan menderita, dan cepat mengambil tindakan penyelamatan atas musibah yang
menimpa seseorang, dikenal dengan konsep “sipa’depu-repu” (saling memelihara).
Sebaliknya, orang yang tidak mempedulikan kesulitan sanak keluarganya,
tetangganya, atau orang lain sekali pun disebut bette’ perru. Dalam kehidupan
sehari-hari, manifestasi kesehatian dan kerukunan itu disebutkan dalam sebuah
ungkapan Bugis:
“tejjali
tettappere , banna mase-mase”.
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Kearifan Lokal
dalam kepustakaan Bugis masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Karena
itu, Kearifan Lokal sebagai jati diri bangsa perlu direvitalisasi, khususnya
bagi generasi muda dalam percaturan global saat dan di masa datang. Dengan
demikian, identitas sebagai bangsa baik secara fisik maupun non fisik akan
tetap terjaga.
2.
SARAN
Mengingat aspek kebudayaan yang ada di Indonesia begitu
beragam, maka perlu kiranya Perguruan Tinggi sebagai representasi dari dunia
pendidikan yang ada dimasing-masing daerah untuk lebih serius dalam melakukan
eksperimen ilmiah mengenai kekayaan etnisitas daerah masing-masing. Kemudian
perhatian secara serius dapat dilakukan dan dikampanyekan guna kembali menjadi
kearifan lokal sebagai pilar kemajuan bangsa Indonesia. Sehingga aspek
kebudayaan yang beragam tersebut mampu diketahui, dikembangkan serta menjadi
karakter masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam etnis dan latar
belakang budaya.
3.
PETA DAERAH

4.
DAFTAR
PUSTAKA
Kementerian Penerangan, Republik Indonesia: Propinsi
sulawesi, 1953, hal. 176-177
"Indonesia:
Provinces, Cities & Municipalities". City
Population. Diakses pada 30 november 2016.
“ “.2010. Kearifan lokal dalam sastra bugis klasik. Diakses
pada 30 november 2016 pada situs http://lafinus.filsafat.ugm.ac.id/
“ “. Ceritaku. Diakses pada 1 Desember 2016 pada
situshttp://www.ahmadmaulana.com/tag/cerita-ku/
“ “. 2011. Makalah peran pendidikan. Diakses pada 1 Desember
2016 pada situs http://hardysengawang.blogspot.com/
“ “.2012. Suku di Sulawesi. Diakses pada
1 2016 pada situs http://protomalayans.blogspot.com/
“ “.2012. Makalah Kearifan Lokal. Diakses pada 12 Januari
2013 pada situs http://erwinblog-erwinpermana12.blogspot.com/




Comments
Post a Comment